Oleh : Dyan Indriwati Thamrin, S. Pd.
Pemerhati Masalah Sosial dan Politik
Kota Samarinda baru saja mendapat pengakuan internasional. Pada Selasa, 1 September 2016, di Sydney Australia, Samarinda menerima penghargaan dari World Health Organization (WHO) atas upayanya dalam pencegahan kekerasan dan mendorong kesetaraan gender.
Penghargaan ini diserahkan kepada Ketua Forum Kota Sehat Forkots Samarinda, Rina Wahyu.
Yang perlu menjadi perhatian bersama setelah pengakuan dan penghargaan ini, benarkah persoalan perempuan dan anak sudah berkurang?
WHO menilai Samarinda berhasil karena mengangkat tema pencegahan kekerasan dan kesetaraan gender dalam program Kota Sehat. Menurut Rina Wahyu, penghargaan ini adalah pengakuan atas upaya menciptakan lingkungan kota yang lebih aman, terutama bagi kelompok rentan.
Indikatornya dilihat dari: banyaknya pejabat publik perempuan, aktifnya perempuan di pemberdayaan ekonomi, dan meningkatnya partisipasi perempuan di dunia kerja. Atas dasar indikator SDGs inilah Samarinda dianggap berhasil.
Namun penghargaan tidak selalu berarti kepastian. Justru di sinilah kita perlu menyadari secara seksama. Bahwa sesungguhnya kesetaraan gender menjebak kita masuk dalam narasi kapitalisme. Perempuan didorong keluar dari rumah, aktif di ranah publik, menjadi penopang ekonomi keluarga, bahkan menjadi pejabat. Semua itu diukur sebagai indikator "keberhasilan". Indikator keberhasilan versi kapitalisme adalah ketika perempuan mampu beroleh cuan tetapi abai terhadap efek ikutan yang menjelang.
Padahal, ketika peran strategis perempuan sebagai madrasah pertama, pendidik generasi, dan manajer rumah tangga diabaikan, dampaknya sangat serius. Kualitas generasi merosot, ketahanan keluarga rapuh, dan perlindungan anak terabaikan.
Ironisnya, meski sudah mendapat penghargaan dari WHO, data kekerasan terhadap perempuan dan anak di Samarinda khususnya, faktanya masih tinggi. Artinya, penghargaan tidak otomatis menyelesaikan masalah. Justru persoalan semakin bertumpuk karena akar masalahnya tidak disentuh: tercabutnya peran ibu sebagai pendidik utama.
Islam memiliki pandangan yang sangat berbeda. Islam memuliakan perempuan bukan dengan cara menyamakannya secara buta dengan laki-laki, tetapi dengan menempatkannya sesuai fitrah. Perempuan adalah ummun wa rabbatul bait, ibu dan pengatur rumah tangga. Dari rahim dan didikan perempuan lahirlah generasi pemimpin, ulama, dan pejuang.
Sejarah mencatat bagaimana para Khalifah menjaga kehormatan perempuan. Negara menjamin keamanan, pendidikan, dan kebutuhan dasar keluarga sehingga perempuan tidak terpaksa banting tulang di luar rumah. Anak-anak terlindungi, terdidik, dan memiliki keteladanan.
Hanya sistem Islam yang menempatkan perempuan dan anak sebagai prioritas penjagaan negara, bukan sekadar objek proyek dan indikator.
Penghargaan dari WHO jangan sampai menutup mata kita atas persoalan sebenarnya. Selama paradigma yang dipakai masih berlandaskan sistem kapitalisme yang melahirkan ide kesetaraan gender, maka persoalan perempuan dan anak tidak akan pernah tuntas.
Yang dibutuhkan bukan hanya sebatas pengakuan dan penghargaan, tapi sistem yang benar-benar menjaga perempuan dan anak. Dan sistem itu hanya ada dalam Islam. Wallahualam.