ACEH TIMUR — Kondisi infrastruktur di Simpang Lhe Naleung, Kecamatan Julok, Kabupaten Aceh Timur, kembali menjadi sorotan. Jembatan yang ambruk sejak 2022 hingga kini belum juga menunjukkan tanda-tanda perbaikan, sementara aktivitas masyarakat di kawasan tersebut tetap bergantung pada rakit sederhana sebagai akses penyeberangan. Selasa (22 Sep 2026).
Berdasarkan keterangan masyarakat yang menggunakan akses tersebut, rakit mandiri itu mampu mengangkut sekitar delapan sepeda motor dan 10 orang penumpang dalam sekali penyeberangan. Setiap penumpang dikenakan biaya Rp5.000, sedangkan anak sekolah dikenakan tarif Rp2.000 per orang.
Kondisi tersebut dinilai semakin memprihatinkan karena persoalan jembatan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun belum kunjung mendapatkan penyelesaian nyata di lapangan.
Sejumlah warga mengaku kecewa karena sudah beberapa kali kedatangan pihak-pihak yang disebut berasal dari Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) maupun Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Namun, menurut mereka, kunjungan tersebut belum diikuti dengan progres pembangunan atau perbaikan jembatan.
"Sudah banyak yang datang kemari, Pak. Tapi sampai saat ini belum ada progres di lapangan. Kami sangat kecewa," ujar seorang warga saat diwawancarai wartawan.
Bagi masyarakat setempat, keberadaan rakit bukan sekadar persoalan kenyamanan, tetapi telah menjadi pilihan akses yang harus digunakan untuk menunjang mobilitas sehari-hari, termasuk aktivitas anak-anak sekolah.
Hingga berita ini ditulis, kondisi jembatan yang ambruk sejak 2022 tersebut masih menjadi persoalan yang belum terselesaikan. Masyarakat berharap pemerintah dan pihak terkait tidak sekadar melakukan kunjungan, tetapi segera menghadirkan langkah konkret untuk memulihkan akses transportasi warga.(A1)