Bijak Berteknologi di Era Digitalisasi


author photo

17 Sep 2026 - 11.24 WIB



Oleh: Sherlina Sukma

Aksi tak terpuji seorang pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri di Samarinda mendadak gempar. Bagaimana tidak, foto teman-teman sekelasnya yang semula mengenakan seragam sekolah lengkap, nekat diedit menjadi tanpa busana (bugil) menggunakan aplikasi pemrosesan gambar. 

Terbongkarnya ulah jahat tersebut diungkapkan oleh Ketua Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC-PPA) Kaltim, Rina Zainun. Menurut Rina, kasus ini berawal dari unggahan mantan pacar terduga pelaku di medsos yang mengisyaratkan adanya manipulasi foto siswi di sekolah tersebut. 

Perkembangan teknologi digital ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi, teknologi memberikan banyak kemudahan dalam berbagai aspek kehidupan. Namun, di sisi lain perkembangan teknologi juga dapat memberikan dampak negatif apabila tidak digunakan secara bijak. Terlebih lagi, jika kemajuan teknologi tidak dibarengi dengan akidah dan keimanan yang kuat, seseorang dapat lebih mudah terpengaruh oleh berbagai informasi, budaya, dan perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai agama. 

Selain itu, sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan dapat menyebabkan remaja atau pelajar semakin jauh dari nilai-nilai agama. Dalam kondisi tersebut, ajaran agama tidak lagi menjadi landasan utama dalam menentukan sikap dan perilaku, termasuk dalam membedakan sesuatu yang halal dan haram. Akibatnya, keputusan yang diambil lebih banyak didasarkan pada keinginan pribadi, tren, lingkungan pergaulan, maupun pertimbangan manfaat dan kesenangan semata. 

Kondisi ini memerlukan peran negara dalam menjaga dan melindungi generasi muda dari berbagai ancaman yang dapat merusak moral dan karakter mereka. Namun, faktanya negara dinilai belum sepenuhnya mampu menjalankan fungsi tersebut secara optimal. Perkembangan teknologi dan media digital yang begitu cepat memungkinkan berbagai informasi, budaya, serta konten yang tidak sesuai dengan nilai agama dan norma sosial diakses dengan mudah oleh remaja. Akibatnya, berbagai persoalan yang muncul cenderung ditangani setelah terjadi, sementara upaya pencegahan belum cukup kuat untuk membendung dampak negatifnya. 

Islam menawarkan solusi yang bersifat sistemik dalam menghadapi berbagai persoalan yang muncul di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial. Solusi tersebut tidak hanya berfokus pada individu, tetapi juga melibatkan peran keluarga, masyarakat, dan negara sebagai satu kesatuan yang saling mendukung. Tiga pilar tersebut memiliki fungsi masing-masing dalam membentuk dan menjaga generasi. Ketiga pilar tersebut diperkuat oleh support system berupa peran negara melalui kebijakan, pendidikan, pengawasan, serta perlindungan terhadap generasi muda. Dengan pendekatan yang menyeluruh dan terintegrasi, Islam tidak hanya berupaya mengatasi dampak dari permasalahan, tetapi juga mencegah munculnya kerusakan sejak dari akarnya.

Digitalisasi dalam perspektif Islam dapat menjadi sarana yang membawa banyak kebaikan apabila dimanfaatkan sesuai dengan nilai-nilai syariat. Melalui berbagai platform digital, ilmu dan nilai-nilai Islam dapat disampaikan kepada masyarakat tanpa terbatas oleh jarak dan waktu. Selain itu, teknologi dapat dimanfaatkan untuk mendukung pendidikan, penelitian, ekonomi, pelayanan publik, serta berbagai bidang lainnya yang dapat meningkatkan kualitas kehidupan manusia. 

Bijak dalam menggunakan teknologi tidak hanya membutuhkan kecakapan digital, tetapi juga pola pikir yang berlandaskan nilai-nilai Islam. Dengan pola pikir Islam, seseorang memiliki pedoman dalam menentukan bagaimana teknologi digunakan, informasi apa yang layak dikonsumsi, serta mampu membedakan antara hal yang halal dan haram. Dengan demikian, teknologi tidak sekadar digunakan untuk memenuhi keinginan pribadi, tetapi diarahkan untuk memperoleh manfaat dan kemaslahatan.

Negara memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan digital yang aman, memberikan edukasi, melakukan pengawasan, serta mencegah penyebaran konten yang dapat merusak moral dan generasi. Dalam perspektif Islam, dukungan tersebut idealnya diwujudkan melalui penerapan sistem yang menjadikan nilai-nilai Islam sebagai landasan dalam mengatur kehidupan. Dengan sinergi antara individu yang memiliki pola pikir Islam dan sistem negara yang mendukung penerapan nilai-nilai tersebut, perkembangan teknologi dapat diarahkan menjadi sarana kemajuan, pendidikan, dan syiar dakwah, bukan menjadi sumber kerusakan bagi generasi.
Bagikan:
KOMENTAR