Dari Semarak MTQ menuju Pengamalan Al Qur'an


author photo

11 Okt 2026 - 10.38 WIB



Oleh: Zakiyatul Fakhiroh, S.Pd (Pendidik)

Pelaksanaan Musabaqoh Tilawatil Qur'an (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026 di Semarang, Jawa Tengah, sangat berkesan bagi kafilah Kalimantan Timur yang berhasil menjadi juara umum dengan capaian 288 poin, disusul Jawa Tengah 208 poin dan DKI Jakarta 129 poin. Dalam kegiatan tersebut Menteri Agama menegaskan, berakhirnya MTQ bukanlah akhir dari upaya membumikan Al Qur’an. Setelah kompetisi selesai, nilai-nilai Al Qur’an harus semakin hadir dalam kehidupan nyata.

Ada empat arah pengembangan MTQ ke depannya. Pertama, MTQ harus berkembang dari sekedar perlombaan menjadi ekosistem pembelajaran dan peradaban Al-Qur'an. Kedua, MTQ harus semakin inklusif dengan pembukaan cabang bagi penyandang disabilitas yang diikuti perluasan akses tenaga pengajar. Ketiga, generasi qurani perlu menguasai perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan. Keempat, MTQ  harus menghadirkan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Hal ini guna menunjukkan bahwa syiar Al-Qur'an sejalan dengan pemberdayaan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. (Kemenag.go.id, 20 September 2026)
https://kemenag.go.id/pers-rilis/kalimantan-timur-juara-umum-mtq-nasional-2026-jakarta-tuan-rumah-2027-WWsOn

Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) merupakan salah satu sarana syiar Islam yang patut diapresiasi. Melalui kegiatan ini, masyarakat diperkenalkan dengan keindahan bacaan dan tulisan ayat-ayat Al-Qur’an serta didorong untuk menghafal ayat-ayatnya dan memaknai tafsirnya. Mulai anak kecil, remaja, hingga dewasa turut berpartisipasi memeriahkan semarak MTQ.

Namun, di balik semarak perhelatan tahunan tersebut, ada pertanyaan mendasar yang layak direnungkan. Sejauh mana kecintaan terhadap Al-Qur’an tercermin dalam kehidupan sehari-hari? Harapannya, Al-Qur’an tak hanya menjadi lantunan merdu di atas panggung kompetisi atau sekedar dilombakan, sementara nilai-nilai di dalamnya belum mewarnai perilaku dan tatanan kehidupan. Sejatinya, kemuliaan Al-Qur’an tidak hanya terletak pada keindahan membacanya, tetapi juga pada kesediaan manusia untuk memahami, menaati, dan mengamalkan segala petunjuk yang terkandung di dalamnya. Allah subhaanahu wata'ala berfirman dalam Surah Al Baqarah ayat 185:
شَهۡرُ رَمَضَانَ الَّذِىۡٓ اُنۡزِلَ فِيۡهِ الۡقُرۡاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَ بَيِّنٰتٍ
 مِّنَ الۡهُدٰى وَالۡفُرۡقَانِۚ
Artinya: Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).

Ayat ini menegaskan bahwa Al-Qur’an merupakan petunjuk bagi manusia sekaligus penjelasan mengenai petunjuk tersebut. Maka sudah selayaknya Al Qur'an menjadi pedoman dan tuntunan dalam mengatasi berbagai persoalan kehidupan. Allah ta'ala juga berfirman dalam Surah Shad ayat 29:
كِتٰبٌ اَنۡزَلۡنٰهُ اِلَيۡكَ مُبٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوۡۤا اٰيٰتِهٖ وَلِيَتَذَكَّرَ اُولُوا الۡاَلۡبَابِ‏
Artinya: Kitab (Al Qur'an) yang kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.

Ayat Allah ini menjelaskan bahwa Al-Quran diturunkan dengan penuh berkah agar manusia menghayati ayat-ayatnya dan mengambil pelajaran darinya. Kedua ayat ini menegaskan bahwa interaksi dengan  Al Qur'an tak hanya berhenti di pada aktivitas membaca dan menghafal, tapi menuju pemahaman dan implementasi dalam kehidupan.

Inilah yang menjadi masalah umat saat ini. Al Qur'an tidak benar-benar meresap dan menjadi pedoman bertingkah laku. Kejahatan dan kerusakan saat ini menjadi bukti nyata jauhnya kehidupan dari nilai-nilai Al Qur'an. Korupsi merajalela, kejujuran masih bernilai mahal, amanah rakyat dikhianati, kezaliman menjadi-jadi, dan kemaksiatan semakin berani unjuk gigi.

Al-Qur’an sendiri mengingatkan agar manusia tidak mengatakan sesuatu yang tidak dikerjakannya. Allah berfirman dalam Surah Ash-Shaff ayat 2–3:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لِمَ تَقُوْلُوْنَ مَا لَا تَفْعَلُوْنَ  . كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَ
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besarlah kemurkaan di sisi Allah, bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.

Ayat ini menegaskan kepada orang-orang yang mengaku beriman, agar menyelaraskan antara perkataan dan perbuatan. Artinya, kefasihan membaca Al Qur'an harus berjalan seiring dengan pengamalan yang tercermin dalam tingkah laku sehari-hari.

Pengamalan Al Qur'an hendaknya tak berhenti di skala individu. Al-Quran sebagai Kalamullah berisi pedoman lengkap yang sempurna dalam mengatur hubungan manusia dengan Allah (hablum minallah), hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas), dan hubungan dengan diri sendiri (hablum minannafsi). Mulai perkara ibadah, akhlak, muamalah, kehidupan sosial bermasyarakat, hingga kepemimpinan negara, tercantum lengkap di dalam Al Qur'an. Karenanya, pembumian Al Qur'an mestinya menyentuh seluruh dimensi kehidupan. Diantaranya cakupan ibadah dan akhlak di skala individu, muamalah dan kehidupan sosial di skala masyarakat, serta pengelolaan negara dan tanggung jawab kepemimpinan di level negara.

Dalam perspektif Islam, ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya harus menjadi landasan dalam menyikapi persoalan kehidupan, sebagaimana ditegaskan dalam Surah An-Nisa’ ayat 59:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّأَحْسَنُ تَأْوِيْلًا
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (sunnah), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Membumikan Al-Qur’an secara Menyeluruh

Pembumian Al Qur'an membutuhkan keterlibatan individu, masyarakat, dan negara sesuai dengan kapasitas dan tanggung jawab masing-masing.
Pertama, membangun kesalehan individu melalui ketaatan dan pengamalan. Setiap Muslim perlu menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman dalam berpikir dan bersikap. Membaca dan menghafal harus diiringi dengan usaha menerapkannya dalam kehidupan, yaitu dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Keterikatan terhadap hukum syara harus benar-benar dijaga. Hasilnya akan nampak dalam wujud kepribadian Islam yang tampak dalam pola pikir dan pola sikap. Kejujuran, amanah, kepedulian, keadilan, dan tanggung jawab benar-benar lahir dari kesadaran untuk menggapai ridho Allah.

Kedua, membangun masyarakat yang Islami. Dalam skala pribadi, kemampuan amar makruf nahi mungkar tentu terbatas. Maka dari itu, kesadaran amar makruf nahi mungkar harus terbentuk di skala lebih luas, yaitu masyarakat. Dengan demikian, amar makruf nahi mungkar menjadi gerakan masif yang benar-benar mampu mencegah maksiat dan pelanggaran syariat.

Ketiga, menghadirkan tanggung jawab negara dalam menerapkan Al Qur'an. Dalam Islam, kepemimpinan bukan sekadar kewenangan untuk mengatur, melainkan amanah bagi pemimpin untuk melayani dan mengurus kepentingan rakyat. Rasulullah SAW., bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalil ini menegaskan bahwa pemimpin memikul tanggung jawab besar terhadap masyarakat. Mulai pemenuhan hak-hak dasar, jaminan kesehatan, pendidikan, ekonomi, hingga jaminan keamanan. Ketika pemimpin benar-benar merealisasikan tanggung jawab ini, kemaslahatan terwujud dengan sendirinya.

Keberhasilan pembumian Al-Qur’an tidak cukup diukur dari besarnya keuntungan ekonomi dan kemeriahan kegiatan keagamaan, tetapi juga dari kualitas akhlak masyarakat. Semangat MTQ perlu dilanjutkan dengan gerakan yang lebih luas, yaitu menghidupkan Al-Qur’an di rumah, di sekolah, di tengah masyarakat, dan kehidupan bernegara. Kecintaan kepada Allah Qur'an diwujudkan melalui komitmen menerapkan isi Al-Quran secara kaffah, agar terwujud Islam rahmatan lil alamin. Wallahu a'lam bishshawab.
Bagikan:
KOMENTAR