Kecanggihan AI, Antara Harapan dan Kekhawatiran


author photo

7 Okt 2026 - 07.08 WIB




Oleh: Meila puspita

Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin pesat dan mulai digunakan dalam berbagai bidang kehidupan.
Namun, di balik berbagai manfaatnya, para peneliti AI kini kembali memperingatkan potensi risiko jika perkembangan teknologi ini berlangsung jauh lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk mengendalikannya.

Peringatan tersebut muncul dari riset yang melibatkan sejumlah tokoh penting dalam perkembangan AI, termasuk Geoffrey Hinton dan Yoshua Bengio. Riset yang diterbitkan pada akhir September 2026 membahas kemungkinan terjadinya “intelligence explosion”, yaitu kondisi ketika otomatisasi penelitian dan pengembangan AI membuat kemajuan AI meningkat sangat cepat, bahkan memampatkan kemajuan yang seharusnya membutuhkan waktu bertahun-tahun menjadi hitungan bulan atau lebih singkat. Para peneliti meminta pemerintah mulai mempersiapkan kebijakan untuk menghadapi kemungkinan tersebut.
Kekhawatiran lain muncul dari semakin berkembangnya AI yang mampu bekerja secara mandiri.

 Sejumlah pakar bahkan membahas kemungkinan swarm AI atau kawanan agen AI yang dapat berkoordinasi dalam jumlah besar. Meski skenario AI mengambil alih seluruh internet belum dapat dipastikan dan dinilai tidak sederhana, para pakar justru mengingatkan adanya ancaman yang lebih nyata, seperti serangan siber, pencurian uang, manipulasi pasar, pencurian identitas hingga gangguan terhadap sistem komunikasi dan kelistrikan.

Di sisi lain, AI juga memberikan banyak manfaat bagi kehidupan manusia. 
Teknologi ini dapat meningkatkan efisiensi, produktivitas dan inovasi, termasuk dalam bidang kesehatan, keuangan, pendidikan maupun berbagai layanan lainnya. Karena itu, persoalannya bukan sekadar apakah AI harus digunakan atau ditolak, tetapi bagaimana teknologi tersebut diarahkan dan dikendalikan agar memberikan manfaat tanpa menimbulkan kerusakan.

 Pemerintah Indonesia sendiri telah mengingatkan bahwa pesatnya penggunaan AI perlu diimbangi dengan tata kelola dan mitigasi risiko, terutama terkait disinformasi, kebocoran data dan keamanan siber.

Teknologi Tanpa Kendali Bisa Menjadi Ancaman

Perkembangan AI menunjukkan bahwa teknologi tidak bisa dilepaskan dari manusia yang menciptakan dan menggunakannya. AI dapat menjadi sarana untuk mempermudah pekerjaan dan menyelesaikan berbagai persoalan, tetapi teknologi yang sama juga dapat dimanfaatkan untuk kejahatan.

Bahkan, perkembangan agentic AI menunjukkan bahwa sistem AI mulai mampu mengambil keputusan dan menjalankan tindakan secara lebih mandiri.

 Di sektor keuangan, misalnya, pemerintah telah menyoroti kemungkinan AI mengambil keputusan transaksi sehingga diperlukan tata kelola, pengawasan, keamanan dan pertanggungjawaban yang jelas.
Artinya, semakin canggih teknologi yang dikembangkan, semakin besar pula kebutuhan manusia terhadap aturan yang mampu mengarahkan penggunaannya.

 Persoalan AI tidak cukup diselesaikan hanya dengan membuat teknologi semakin pintar, tetapi juga membutuhkan standar nilai yang menentukan untuk apa kecerdasan tersebut digunakan.
Dalam perspektif Islam, manusia diberikan akal sebagai salah satu bentuk kemuliaan dari Allah SWT. Dengan akalnya, manusia diperintahkan untuk memperhatikan tanda-tanda kekuasaan Allah sekaligus menjalankan amanah sebagai khalifah di muka bumi. Karena itu, ilmu pengetahuan dan teknologi semestinya diarahkan untuk kemaslahatan, bukan menjadi sarana melakukan kerusakan.

AI dalam Koridor Syariat

Islam tidak menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Berbagai produk teknologi dapat dimanfaatkan selama penggunaannya tidak bertentangan dengan hukum syarak. AI sebagai hasil perkembangan teknologi manusia pun dapat menjadi sarana untuk memberikan kemaslahatan, misalnya dalam pelayanan kesehatan, pendidikan, penelitian dan berbagai kebutuhan masyarakat.

Namun, teknologi tidak boleh menjadi penentu benar dan salahnya kehidupan manusia. Manusia tetap membutuhkan pedoman yang bersumber dari wahyu untuk menentukan batas pemanfaatan teknologi. Sebab, kecanggihan teknologi tidak otomatis menjamin bahwa penggunaannya akan menghasilkan kebaikan.

Ketika teknologi dikembangkan dalam sistem yang menjadikan keuntungan materi dan kepentingan kekuasaan sebagai orientasi utama, AI sangat mungkin diarahkan untuk kepentingan bisnis, persaingan ekonomi, propaganda, pengawasan maupun peperangan. Karena itu, persoalan mendasar bukan hanya terletak pada kecanggihan AI, tetapi juga pada sistem kehidupan yang mengarahkan pemanfaatannya.

Islam Mengarahkan Kemajuan Teknologi

Islam memiliki aturan yang mengatur kehidupan manusia secara menyeluruh.

 Negara bertanggung jawab memastikan perkembangan teknologi memberikan kemaslahatan kepada masyarakat sekaligus mencegah penggunaannya untuk kejahatan dan kerusakan.

Dengan demikian, kecanggihan AI tidak cukup disambut dengan kekaguman terhadap kemampuan teknologinya.

 Masyarakat juga harus menyadari bahwa semakin besar kemampuan sebuah teknologi, semakin besar pula kebutuhan terhadap aturan yang mampu mengendalikannya.

AI semestinya ditempatkan sebagai sarana yang berada dalam kendali manusia, bukan sebaliknya. Kemajuan teknologi harus diarahkan oleh akidah dan syariat agar ilmu pengetahuan menjadi jalan bagi kemaslahatan manusia, bukan justru menjadi ancaman bagi kehidupan.

Karena itu, persoalan AI pada akhirnya bukan sekadar persoalan teknologi. Ia juga merupakan persoalan bagaimana manusia mengatur kehidupan dan menentukan nilai yang menjadi dasar pemanfaatan teknologi. Islam memberikan arah agar kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tetap berada dalam koridor yang membawa kemaslahatan dan mencegah kerusakan.

Wallahu'alam bisshowab
Bagikan:
KOMENTAR