Hari Santri Dan Harapan Peradaban Islam*


author photo

28 Okt 2026 - 14.59 WIB




Salah satu harapan para orangtua kepada anaknya adalah mampu melahirkan anak yang sholeh. Sehingga banyak orangtua kemudian memasukkan anak ke pesantren sebagai wadah yang kelak melahirkan generasi rabbani. 

Tak heran, jutaan santri tersebar di berbagai pesantren di Indonesia. Selain terdidik agamanya, mampu pula menghadapi tantangan zaman. 


Akankah dari pesantren akan terbit para kader ulama yang mampu membimbing umat pada kebangkitan Islam? 

Sebagai masyarakat awam, kita ingin negeri ini dipimpin oleh orang yang paham halal-haram. Namun tidak hanya sebatas klaim dan nasihat, tetapi secara real memberi dampak bagi masyarakat luas. 


Ulama bukan sekadar orang yang mampu menyampaikan ceramah atau soal ibadah, melainkan juga sosok berilmu yang mampu membaca realitas serta menawarkan jalan keluar dengan landasan ilmu dan integritas. 


Pada Hari Santri inilah, harapan itu kembali menguak ke permukaan. Setiap hamba bisa berkontribusi lewat cara masing-masing, apalagi buat para santri yang jelas-jelas belajar agama dengan layak selama bertahun-tahun lamanya. Kesalehan individual perlu berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap persoalan sosial, ekonomi dan lainnya.


Jangan sampai agama malah dijadikan alat untuk membungkam ketidakadilan. Entah di balik makna sabar, ikhlas dan ketundukan pada pemimpin yang salah kaprah. Umat Islam secara global, perlu mendapat edukasi secara berkesinambungan akan sejarah peradaban Islam dan kepentingan persatuan umat. Ulama, para kadernya, termasuk para santri yang terus belajar perlu menggawangi umatnya tentang perlunya persatuan ini. Perubahan tidak lahir dalam satu hari, berbenah tidak bisa hanya satu aspek saja. 

 
Pada akhirnya, harapan agar lahir kader ulama pembangun peradaban Islam bukanlah tanggung jawab santri dan pesantren semata. Masyarakat, keluarga, lembaga pendidikan, dan pemerintah mendapat amanah setara. Tegaknya islam di bumi Allah, insyaallah akan terwujud kembali. Teruslah belajar, mendakwahkan hingga kaffah meliputi berbagai lini kehidupan. _Wallahu'alam_
Bagikan:
KOMENTAR