Oleh: Edi Munawar, Pejuang Sehat
Saya bukan pejabat, bukan pula tokoh publik yang memiliki kuasa untuk mengubah kebijakan. Saya hanyalah seorang ayah dari dua putra, Riziq dan Rizqan, yang hingga hari ini masih berjuang memulihkan kemampuan motorik halus setelah stroke.
Namun, keterbatasan fisik tidak boleh membuat saya diam ketika mendengar penderitaan orang lain. Terlebih ketika penderitaan itu menyangkut kesehatan, keselamatan anak-anak, dan hak masyarakat untuk menghirup udara bersih.
Semalam, sebuah percakapan melalui Messenger dengan sahabat sesama penyintas stroke dari Kalimantan membuat hati saya hancur. Ia bercerita tentang asap yang menyelimuti lingkungannya, udara yang menyesakkan, dan hilangnya kesempatan menikmati sinar matahari yang selama ini menjadi bagian dari rutinitas pemulihannya.
Bagi sebagian orang, tidak adanya matahari mungkin hanya berarti hari yang muram. Namun, bagi penyintas stroke yang sedang berjuang mengembalikan fungsi tubuhnya, kondisi seperti itu dapat menambah beban fisik dan psikologis. Upaya pemulihan yang sudah berat menjadi semakin sulit ketika lingkungan tempat tinggal sendiri tidak lagi terasa aman.
Tetapi yang paling menyayat hati bukanlah itu.
Di rumah sahabat saya, ada dua putrinya yang masih kecil dan balita. Mereka juga harus menghadapi udara yang tercemar asap. Bayangkan perasaan seorang ayah yang sedang berjuang bangkit dari stroke, tetapi pada saat bersamaan harus menyaksikan anak-anaknya terpapar udara yang berpotensi membahayakan kesehatan.
Ia belum sepenuhnya pulih. Tubuhnya masih membutuhkan perawatan, tenaganya belum kembali seperti sediakala, dan perjuangannya untuk bisa kembali menafkahi keluarga belum selesai. Namun, di tengah perjuangan itu, ia juga harus memikirkan keselamatan dua anaknya.
Jika anak-anaknya jatuh sakit, bagaimana ia akan merawat mereka ketika dirinya sendiri masih membutuhkan bantuan?
Pertanyaan itu mungkin sederhana bagi orang yang sehat. Namun, bagi seorang ayah yang sedang berjuang setelah stroke, pertanyaan tersebut bisa menjadi beban batin yang luar biasa berat.
Ketika seseorang sedang berjuang menyelamatkan dirinya sendiri, jangan biarkan ia harus berjuang sendirian menyelamatkan keluarganya dari ancaman yang seharusnya bisa dicegah.
Asap tidak mengenal batas wilayah
Saya berada di Aceh, jauh dari Kalimantan. Namun, saya sendiri mengaku melihat kabut asap ketika menjalani latihan pemulihan di luar rumah. Pengalaman itu membuat saya semakin memikirkan keadaan masyarakat yang tinggal lebih dekat dengan sumber asap.
Jika asap benar-benar telah menyebar hingga wilayah yang jauh, persoalan ini tidak bisa dipandang sebagai gangguan lokal semata. Diperlukan data kualitas udara yang akurat untuk mengetahui tingkat pencemaran, wilayah terdampak, serta risiko yang dihadapi masyarakat.
Kita tidak boleh menunggu sampai anak-anak mengalami gangguan pernapasan, orang lanjut usia jatuh sakit, atau pasien dengan penyakit tertentu mengalami kondisi yang memburuk, baru kemudian bergerak.
Pencegahan seharusnya menjadi prioritas. Informasi kualitas udara harus disampaikan secara terbuka. Layanan kesehatan harus disiapkan. Kelompok rentan, termasuk balita, lansia, dan orang dengan kondisi kesehatan yang membutuhkan perhatian khusus, harus mendapat perlindungan nyata.
Masyarakat juga membutuhkan akses terhadap tempat yang lebih aman dari paparan asap, terutama ketika kondisi udara memburuk.
Jangan sampai warga hanya menerima imbauan untuk memakai masker dan mengurangi aktivitas di luar rumah, sementara mereka tidak memiliki pilihan yang memadai untuk melindungi diri dan anak-anaknya.
Siapa yang harus bertanggung jawab?
Pertanyaan ini harus dijawab secara serius: dari mana asap berasal, apa penyebab kebakarannya, siapa yang bertanggung jawab, dan apa yang telah dilakukan untuk menghentikan sumber pencemaran?
Jika kebakaran hutan dan lahan menjadi penyebabnya, penanganan tidak boleh berhenti pada pemadaman api ketika keadaan sudah telanjur memburuk. Pencegahan harus diperkuat, penyebab kebakaran harus diselidiki, dan pihak yang terbukti melakukan pelanggaran harus dimintai pertanggungjawaban sesuai hukum.
Pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu memastikan penanganan berjalan cepat, terkoordinasi, dan transparan. Aparat penegak hukum harus bekerja berdasarkan bukti, bukan sekadar pernyataan atau janji penindakan.
Jika terdapat unsur kesengajaan, kelalaian, atau pelanggaran hukum oleh pihak tertentu, semuanya harus diusut secara profesional. Tidak boleh ada pihak yang kebal hanya karena memiliki kekuatan ekonomi, jabatan, atau pengaruh.
Namun, yang tidak kalah penting adalah memastikan masyarakat memperoleh perlindungan saat ini juga. Penegakan hukum memang penting, tetapi warga yang sedang sesak tidak bisa menunggu sampai proses penyelidikan selesai untuk mendapatkan pertolongan.
Negara tidak cukup hadir dalam konferensi pers. Negara harus hadir di tengah warga yang kesulitan bernapas, keluarga yang ketakutan, dan anak-anak yang membutuhkan udara bersih.
Jangan biarkan penyintas stroke menghadapi krisis ini sendirian
Saya menulis opini ini bukan untuk mencari perhatian. Saya menulis karena saya memahami, meski hanya dari sisi pengalaman saya sendiri, betapa beratnya perjuangan setelah stroke.
Memulihkan tubuh membutuhkan kesabaran, disiplin, dukungan keluarga, dan lingkungan yang mendukung. Ada hari ketika kita merasa kuat, tetapi ada pula hari ketika menggerakkan jari saja terasa seperti perjuangan besar.
Karena itu, ketika sahabat saya bercerita tentang asap dan dua putrinya yang masih kecil, saya tidak melihatnya sekadar sebagai kabar dari daerah lain. Saya melihat seorang ayah yang sedang berjuang bangkit, tetapi kembali dihadapkan pada keadaan yang membuatnya khawatir akan keselamatan keluarganya.
Saya membayangkan kecemasannya pada malam hari. Saya membayangkan pikirannya yang tidak tenang ketika anak-anaknya berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Dan saya membayangkan betapa sulitnya ia memusatkan perhatian pada pemulihan ketika ancaman di luar kendalinya terus menghantui.
Saya tidak ingin penderitaannya menjadi sekadar satu cerita yang dibaca, ditangisi sebentar, lalu dilupakan ketika berita lain muncul.
Masyarakat Kalimantan bukan sekadar angka dalam laporan kebakaran. Mereka bukan hanya statistik dalam catatan pencemaran udara. Mereka adalah manusia yang memiliki keluarga, anak-anak yang ingin tumbuh sehat, orang tua yang ingin menikmati masa tua, serta pasien yang sedang berjuang untuk sembuh.
Mereka berhak mendapatkan udara yang layak dihirup. Mereka berhak memperoleh perlindungan. Dan mereka berhak mengetahui apa yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi persoalan yang mengancam kesehatan mereka.
Jangan tunggu korban bertambah untuk bertindak
Kepada pemerintah, instansi terkait, aparat penegak hukum, serta semua pihak yang memiliki kewenangan, saya ingin menyampaikan satu pesan: jangan menormalisasi asap.
Jangan menganggap penderitaan masyarakat sebagai sesuatu yang harus diterima setiap kali kebakaran terjadi. Jangan membiarkan warga terus-menerus menanggung risiko, sementara pencegahan dan penanganan tidak memberikan hasil yang memadai.
Pastikan sumber kebakaran ditangani, kualitas udara dipantau secara terbuka, fasilitas kesehatan siap melayani warga, dan kelompok rentan mendapatkan bantuan sesuai kebutuhan. Sampaikan perkembangan penanganan secara jujur agar masyarakat tidak dibiarkan hidup dalam ketidakpastian.
Kepada masyarakat, mari saling membantu. Bagikan informasi resmi tentang kualitas udara, perhatikan kondisi anak-anak dan anggota keluarga yang rentan, serta segera cari pertolongan medis jika muncul gejala berat seperti sesak napas yang parah. Jangan memaksakan aktivitas di luar ruangan ketika udara tidak aman.
Saya sendiri masih berjuang dengan keterbatasan tubuh. Tangan kiri saya belum pulih seperti yang saya harapkan. Namun, selama tangan kanan saya masih mampu mengetik, saya ingin menggunakannya untuk menyuarakan kepedulian.
Saya mungkin tidak mampu memadamkan api. Saya tidak memiliki kewenangan untuk menetapkan kebijakan. Saya juga tidak bisa datang langsung ke Kalimantan untuk memeluk sahabat saya dan menenangkan kedua putrinya.
Tetapi saya masih bisa bersuara.
Untuk sahabatku di Kalimantan, engkau tidak sendirian. Perjuanganmu untuk pulih tidak boleh ditambah dengan ketakutan yang seharusnya bisa dicegah. Anak-anakmu berhak menghirup udara bersih, dan keluargamu berhak hidup dengan aman.
Kepada siapa pun yang memiliki kewenangan dan tanggung jawab atas persoalan kebakaran hutan dan lahan, tolong dengarkan suara masyarakat. Jangan tunggu sampai lebih banyak keluarga kehilangan kesehatan, ketenangan, bahkan orang-orang yang mereka cintai.
Asap mungkin menutupi matahari. Namun, jangan sampai asap juga menutupi tanggung jawab.
Saya berdoa semoga Allah memberikan kekuatan, kesehatan, dan kesembuhan kepada sahabat saya beserta keluarganya. Semoga seluruh masyarakat Kalimantan dilindungi dari bahaya asap, dan semoga semua pihak yang bertanggung jawab diberi kesadaran untuk menjalankan amanahnya dengan sungguh-sungguh.
Sebab, udara bersih bukan kemewahan. Kesehatan bukan hak istimewa. Dan keselamatan rakyat bukan perkara yang boleh ditunda.
Amin ya Rabbal Alamin.
Edi Munawar — Pejuang Sehat