Oleh: Tri Lusiana,S.Pd (Aktivis Dakwah)
Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin pesat dan mulai memengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia.
Teknologi ini dimanfaatkan dalam bidang kesehatan, pendidikan, keuangan, industri, hingga penelitian ilmiah. Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, sejumlah peneliti AI terkemuka dunia kembali memperingatkan pemerintah agar bersiap menghadapi kemungkinan terjadinya “ledakan kecerdasan” AI, yaitu percepatan kemampuan AI yang dapat terjadi ketika teknologi ini semakin mampu membantu mengembangkan generasi AI berikutnya. (CNN Indonesia)
Peringatan tersebut disampaikan dalam sebuah riset yang melibatkan sejumlah peneliti AI, termasuk Geoffrey Hinton dan Yoshua Bengio yang dikenal sebagai pelopor penting dalam perkembangan AI modern. Mereka menyoroti kemungkinan bahwa otomatisasi penelitian dan pengembangan AI dapat mempercepat kemajuan teknologi secara drastis. Karena itu, pemerintah dan pembuat kebijakan dinilai perlu mengantisipasi berbagai risiko sebelum perkembangan tersebut melampaui kemampuan manusia untuk mengawasinya. (CNN Indonesia)
Di bidang kesehatan, AI berpotensi membantu tenaga medis menganalisis data pasien, mendukung proses diagnosis, dan mempercepat penelitian untuk menemukan pengobatan. Dalam bidang keuangan, AI dapat membantu menganalisis data dan mengidentifikasi risiko. Teknologi ini juga dapat meningkatkan efisiensi dalam berbagai pekerjaan dan mendukung penyelesaian persoalan yang sebelumnya membutuhkan waktu lebih lama. (Kompas)
Meskipun demikian, perkembangan AI juga menghadirkan sejumlah risiko. Para peneliti menyoroti ancaman biologis dan siber apabila AI disalahgunakan, kemungkinan berkurangnya kendali manusia terhadap sistem yang semakin otonom, serta persaingan teknologi antarnegara yang dapat meningkatkan risiko konflik. AI juga berpotensi digunakan untuk menghasilkan informasi palsu, memanipulasi opini publik, dan melakukan penipuan melalui konten yang semakin sulit dibedakan dari kenyataan. (CNN Indonesia; Metro TV)
Kekhawatiran lainnya berkaitan dengan kemampuan manusia dalam mengendalikan teknologi yang semakin kompleks. Apabila keputusan penting diserahkan kepada sistem AI tanpa pengawasan dan pertanggungjawaban yang memadai, kesalahan sistem dapat berdampak luas. Karena itu, perkembangan AI bukan hanya persoalan kecanggihan teknologi, tetapi juga menyangkut etika, tanggung jawab, keamanan, dan arah pemanfaatannya. (Kompas; detikInet)
Fakta tersebut menunjukkan bahwa AI menghadirkan dua sisi yang perlu diperhatikan. Di satu sisi, AI menawarkan peluang besar untuk membantu manusia menyelesaikan berbagai persoalan. Di sisi lain, pemanfaatannya dapat menimbulkan bahaya apabila tidak disertai pengawasan, tanggung jawab, dan pedoman yang jelas.
Kapitalisme: Teknologi Canggih, tetapi Siapa yang Mengendalikan?
Perkembangan AI memperlihatkan bahwa teknologi pada dasarnya dapat memberikan manfaat sekaligus menimbulkan risiko.
AI dapat membantu dokter, mendukung proses pembelajaran, mempercepat penelitian, dan meningkatkan produktivitas.
Namun, teknologi yang sama juga dapat digunakan untuk menyebarkan kebohongan, melakukan penipuan, mengancam keamanan siber, bahkan mendukung pengembangan sistem persenjataan yang membahayakan manusia.
Persoalannya bukan semata-mata terletak pada kecanggihan AI, melainkan juga pada siapa yang mengembangkan, siapa yang menguasai, untuk tujuan apa teknologi tersebut digunakan, serta nilai apa yang menjadi dasar pengambilan keputusannya.
Dalam sistem kapitalisme, perkembangan teknologi sangat berkaitan dengan persaingan ekonomi dan kepentingan memperoleh keuntungan. Perusahaan berlomba menciptakan teknologi yang lebih unggul untuk memperluas pasar, meningkatkan produktivitas, dan memperkuat posisi dalam persaingan.
Persaingan ini dapat mendorong inovasi, tetapi juga berpotensi membuat aspek keselamatan dan kepentingan masyarakat tidak mendapatkan perhatian yang seimbang apabila keuntungan menjadi pertimbangan utama.
Ketika pengembangan AI didorong terutama oleh persaingan, muncul risiko bahwa teknologi diluncurkan lebih cepat daripada kesiapan sistem pengawasan dan perlindungannya.
Perusahaan dapat berlomba menghadirkan kemampuan baru, sementara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat masih berusaha memahami dampak serta risiko yang ditimbulkannya.
Selain itu, penguasaan AI oleh segelintir perusahaan besar dapat memperbesar kesenjangan kekuatan ekonomi dan informasi. Pihak yang memiliki data, komputasi, modal, dan teknologi paling besar berpotensi memiliki pengaruh yang semakin kuat.
Sementara itu, masyarakat yang tidak memiliki kemampuan dan akses yang memadai dapat tertinggal atau menjadi pihak yang terdampak oleh keputusan sistem yang tidak mereka pahami.
AI juga dapat digunakan untuk memanipulasi informasi. Konten palsu yang menyerupai kenyataan dapat memengaruhi cara masyarakat memahami suatu peristiwa. Jika teknologi ini digunakan untuk kepentingan politik, ekonomi, atau propaganda tanpa memperhatikan kebenaran, masyarakat dapat kehilangan kepercayaan terhadap informasi yang beredar.
Risiko lainnya adalah ketergantungan manusia terhadap AI. Kemudahan yang ditawarkan dapat membuat seseorang menyerahkan terlalu banyak proses berpikir dan pengambilan keputusan kepada mesin. Padahal, AI dapat menghasilkan jawaban yang keliru, tidak lengkap, atau bias. Oleh sebab itu, hasil AI tetap membutuhkan pemeriksaan, penalaran, dan pertanggungjawaban manusia.
Dalam konteks yang lebih luas, perkembangan AI tanpa landasan nilai yang kuat dapat menimbulkan persoalan serius. Kemampuan teknis yang semakin tinggi tidak otomatis membuat manusia semakin bijaksana. Sebuah teknologi dapat menjadi sangat canggih, tetapi tetap membawa kerusakan apabila diarahkan untuk tujuan yang salah.
Dalam perspektif Islam, persoalan ini tidak cukup diselesaikan hanya dengan meningkatkan kemampuan teknis atau membuat aturan administratif. Manusia juga membutuhkan landasan akidah dan pedoman syariat agar ilmu pengetahuan dan teknologi digunakan untuk tujuan yang benar, tidak merugikan orang lain, serta tidak mengabaikan tanggung jawab kepada Allah Swt.
Solusi Islam: Akal, Teknologi, dan Syariat sebagai Pedoman
Islam memandang akal sebagai karunia Allah Swt. yang memungkinkan manusia berpikir, memahami, meneliti, dan mengambil pelajaran dari berbagai tanda kekuasaan-Nya. Dengan akal, manusia dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dan menciptakan teknologi yang membantu kehidupan.
Allah Swt. berfirman dalam QS. Ali 'Imran ayat 190 bahwa dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Ayat ini menunjukkan pentingnya menggunakan akal untuk merenungkan ciptaan Allah dan memahami kehidupan.
Manusia juga diberikan amanah sebagai khalifah di bumi. Amanah tersebut bukan berarti manusia bebas melakukan apa pun tanpa batas, melainkan bertanggung jawab mengelola kehidupan sesuai petunjuk Allah. Karena itu, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi harus diarahkan untuk menghadirkan kemaslahatan, mencegah kerusakan, dan menjaga kehidupan manusia.
AI merupakan hasil pemikiran dan karya manusia. Teknologi ini dapat mengolah data, mengenali pola, menghasilkan teks, membuat gambar, serta membantu proses pengambilan keputusan. Namun, AI bukanlah sumber kebenaran mutlak dan tidak memiliki tanggung jawab moral maupun keagamaan sebagaimana manusia.
Tanggung jawab atas pengembangan, penggunaan, dan dampaknya tetap berada pada manusia serta lembaga yang mengelolanya.
1. Membedakan hadarah dan madaniyah
Dalam pembahasan pemikiran Islam, perlu dibedakan antara hadarah dan madaniyah. Hadarah merujuk pada sekumpulan pemahaman, pandangan hidup, dan nilai yang berkaitan dengan suatu ideologi atau keyakinan. Sementara itu, madaniyah merujuk pada produk material yang digunakan dalam kehidupan manusia.
Pembedaan ini membantu umat Islam menilai perkembangan teknologi secara lebih cermat. Teknologi sebagai produk material tidak otomatis harus ditolak hanya karena berasal dari masyarakat atau negara yang berbeda keyakinan. Penilaiannya perlu memperhatikan bentuk, fungsi, penggunaan, dan dampaknya.
Namun, gagasan, nilai, dan pandangan hidup yang dimasukkan ke dalam pengembangan maupun penggunaan teknologi perlu diperiksa berdasarkan akidah dan syariat Islam. AI dapat memproses informasi yang berasal dari beragam sumber, termasuk informasi yang mengandung bias, prasangka, atau pandangan tertentu. Karena itu, hasil yang dikeluarkannya tidak boleh diterima secara mutlak.
Dengan demikian, umat Islam perlu membedakan antara memanfaatkan kecanggihan teknologi dan menerima seluruh nilai atau pandangan yang mungkin terkandung dalam penggunaannya. Teknologi dapat dimanfaatkan selama penggunaannya tidak bertentangan dengan prinsip Islam dan tidak menimbulkan kerusakan.
2. Menjadikan akidah dan syariat sebagai pedoman
Akidah Islam memberikan landasan bahwa kehidupan manusia memiliki tujuan dan pertanggungjawaban kepada Allah Swt. Sementara itu, syariat memberikan pedoman untuk menilai perbuatan manusia, termasuk dalam mengembangkan dan menggunakan teknologi.
AI yang digunakan untuk membantu penelitian kesehatan, meningkatkan akses pendidikan, mendukung pelayanan publik, atau mempermudah pekerjaan dapat memberikan manfaat. Sebaliknya, penggunaannya untuk penipuan, manipulasi, perusakan, pelanggaran privasi, dan tindakan yang merugikan orang lain harus dicegah.
Karena itu, ukuran keberhasilan teknologi tidak cukup hanya berdasarkan kecepatan, kecanggihan, atau keuntungan yang dihasilkan. Teknologi juga harus dinilai berdasarkan manfaatnya, dampaknya terhadap masyarakat, dan kesesuaiannya dengan prinsip keadilan serta tanggung jawab.
Akidah yang kokoh dapat mendorong manusia untuk mempertimbangkan akibat perbuatannya, sedangkan pemahaman syariat membantu memberikan batasan yang jelas. Meski demikian, identitas atau keyakinan seseorang saja tidak otomatis menjamin penggunaan teknologi yang baik. Setiap orang tetap harus bertanggung jawab atas tindakannya dan penggunaan AI harus disertai aturan, pengawasan, serta evaluasi yang memadai.
3. Manusia harus tetap memegang kendali dan tanggung jawab
AI seharusnya menjadi alat bantu bagi manusia, bukan pengganti mutlak bagi akal, pertimbangan moral, dan tanggung jawab manusia. Hasil AI harus diperiksa, terutama ketika digunakan dalam keputusan penting yang menyangkut kesehatan, pendidikan, hukum, keselamatan, dan kehidupan masyarakat.
Manusia perlu memastikan bahwa sistem AI tidak digunakan secara sembarangan dan tidak diberi kewenangan tanpa batas. Harus ada pihak yang bertanggung jawab apabila sistem melakukan kesalahan atau menimbulkan kerugian. Pengawasan juga diperlukan untuk mengurangi bias, menjaga privasi, melindungi data, dan mencegah penyalahgunaan.
Dalam pendidikan, misalnya, AI dapat digunakan untuk membantu guru menyiapkan materi dan membantu murid memahami pelajaran. Namun, AI tidak seharusnya menggantikan proses berpikir, kejujuran akademik, dan interaksi manusia dalam pembelajaran. Teknologi harus memperkuat kemampuan manusia, bukan membuat manusia berhenti belajar dan menilai informasi secara mandiri.
4. Negara wajib mengatur pemanfaatan AI demi kemaslahatan
Negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan perkembangan teknologi tidak membahayakan masyarakat. Pengawasan terhadap AI perlu dilakukan melalui aturan yang jelas, perlindungan data pribadi, pengamanan sistem digital, serta pertanggungjawaban bagi pihak yang menyalahgunakan teknologi.
Negara juga perlu memastikan bahwa manfaat AI tidak hanya dinikmati oleh perusahaan besar atau kelompok yang memiliki modal dan akses teknologi. Pemanfaatannya perlu mendukung pendidikan, kesehatan, penelitian, pelayanan publik, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Dalam perspektif Islam, pengaturan teknologi harus berorientasi pada kemaslahatan dan pencegahan kemudaratan. Kepentingan ekonomi tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran. Jika suatu penggunaan AI berpotensi menimbulkan bahaya besar, negara dan pihak terkait harus melakukan penilaian risiko, membatasi penggunaannya apabila diperlukan, dan memastikan adanya mekanisme pengawasan.
Di samping itu, masyarakat perlu dibekali kemampuan memahami AI. Literasi digital, kemampuan memeriksa informasi, dan pemahaman tentang privasi menjadi penting agar masyarakat tidak mudah tertipu oleh konten palsu atau menyerahkan keputusan penting kepada sistem yang belum tentu benar.
5. Mengatur kehidupan berdasarkan syariat Islam
Islam memberikan pedoman kehidupan yang mencakup hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan sesama, serta tanggung jawab dalam mengelola kehidupan. Oleh karena itu, perkembangan teknologi perlu ditempatkan dalam kerangka nilai dan aturan yang melindungi manusia dari kerusakan.
Penerapan syariat dalam kehidupan harus tercermin dalam tanggung jawab, keadilan, perlindungan terhadap hak manusia, dan pencegahan tindakan yang merugikan masyarakat. Dalam konteks AI, prinsip tersebut menuntut agar teknologi tidak digunakan untuk menipu, menindas, merusak, atau mengorbankan keselamatan manusia demi keuntungan.
Kemajuan teknologi juga harus disertai peningkatan kualitas manusia. Ilmu pengetahuan perlu dikembangkan bersama dengan pendidikan akhlak, kemampuan berpikir kritis, dan kesadaran akan tanggung jawab kepada Allah Swt. Dengan begitu, manusia tidak hanya mampu menciptakan teknologi yang canggih, tetapi juga memiliki kebijaksanaan untuk menentukan batas penggunaannya.
Pada akhirnya, persoalan AI bukan sekadar apakah mesin akan menjadi semakin cerdas. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah siapa yang mengendalikan teknologi tersebut, untuk kepentingan apa teknologi digunakan, dan nilai apa yang menjadi pedomannya.
AI dapat menjadi sarana yang bermanfaat apabila dikembangkan dan digunakan secara bertanggung jawab. Sebaliknya, AI dapat menimbulkan kerusakan jika digunakan untuk tujuan yang salah atau dibiarkan berkembang tanpa pengawasan yang memadai.
Kemajuan teknologi tidak boleh menghilangkan kedudukan manusia sebagai pihak yang bertanggung jawab atas tindakannya. Akal merupakan karunia Allah, teknologi merupakan hasil karya manusia, dan syariat menjadi pedoman agar pemanfaatannya tidak menyimpang dari tujuan menghadirkan kemaslahatan.
Karena itu, perkembangan AI perlu disertai penguatan akidah, pemahaman syariat, tanggung jawab moral, dan pengawasan yang efektif. Kecanggihan teknologi semestinya membantu manusia menjalankan amanahnya di bumi, bukan menjadi jalan menuju kerusakan kehidupan.
Wallahu'alam bishowab.