Dilematis, Downgrade Lifestyle Akibat Masalah Sistemis


author photo

14 Okt 2026 - 12.27 WIB


Oleh: Hernani Sulistyaningsih, S.Pd.I
(Founder Share Kajian Muslimah)

Downgrade lifestyle istilah yang menggambarkan bagaimana bisa "bertahan hidup" di tengah situasi ketidakpastian perekonomian saat ini yang serba mahal. Tidak sedikit keluhan dan kegelisahan masyarakat diluapkan di media sosial diantaranya terkait dengan berhemat, membeli barang dengan harga lebih murah namun memiliki fungsi sama. Misal dari yang sebelumnya bahan bakar bensin Pertamax ke Pertalite, dari HP berharga puluhan juta jadi pakai hp dibawah tiga juta, sebelumnya punya mobil dijual jadi pakai motor, dari yang punya keinginan membeli rumah jadi mengontrak, dari yang sebelumnya sering bisa makan setiap harinya di restoran jadi mikir-mikir kalau mau makan di restoran yang sekali makan bisa habis ratusan ribu bahkan jutaan.

In this economy, demikianlah yang membuat "prihatin" di tengah karut marutan ekonomi, pun gaji rakyat tidak lantas naik. Tidak sedikit hari ini justru menganggur, bukan mereka tidak mau bekerja, keinginan bekerja itu ada, namun tidak mendapatkan lapangan pekerjaan yang layak gajinya. Selain itu, kalaulah pun dapat pekerjaan, gaji mereka tidak lantas bisa mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Lapangan pekerjaan yang seharusnya diselenggarakan negara begitu sempit membuat jurang kemiskinan kian menganga di depan mata. Alhasil pinjam uang/utang menjadi jalan pintas di era saat ini.

Tawaran-tawaran pinjaman online berbasis riba yang haram telah banyak membayang. Jika tak kuat iman, jebakan utang ribawi justru menambah masalah keluarga. Kasus pinjol (pinjaman online) yang seperti opium (candu) membuat orang mudah terjerat utang kian menggunung, hingga berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus juta. Tidak sedikit pemberitaan di media sosial kasus depresi, bahkan bundir terjadi faktor ekonomi akibat jerat pinjaman online ini, na'uzubillah min zalik.

Terjadinya kenaikan harga yang melambung tinggi pada kebutuhan keluarga hari ini sejatinya tidak secara instan namun akibat kebijakan yang salah kelola dengan paradigma sekuler kapitalisme. Kebijakan populis syarat kepentingan menyandara istilah "efisiensi anggaran" namun senyatanya anggaran tidaklah diefisiensikan akan tetapi justru dihambur-hamburkan pada program yang tidak strategis. Padahal di balik itu pula anggaran pendapatan negeri ini dari menariki pajak dari uang rakyat. 

Masalah sistemis akibat sistem ekonomi kapitalisme saat ini juga dari sisi tata kelola sumber daya alam yang liberal (bebas). Mungkin ada yang hafal pasal 33 ayat 3 UUD 1945 ini, "Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat." Undang-undangnya tertulis demikian, namun apa kenyataanya? Harusnya sumber daya alam, termasuk gas dan BBM hari ini 100% dikelola oleh negara dan hasilnya bisa untuk memakmurkan rakyat. Namun, hari ini sumber daya alam di negeri ini kebanyakan dikuasai oleh kalangan "kapitalis" (swasta/asing/oligarki). Jadi yang untung orang-orang yang berduit (kapitalis) bisa beli/mengelola sumber daya alam itu, keuntungan yang masuk ke negara tidak 100% maka jangan heran jika akhirnya akan dipangkas-pangkas subsidi gas dan BBM untuk rakyat padahal sebenarnya itu hak rakyat.

Oh betapa menjadi WNI (Warga Negara Indonesia) hari ini memang bukan hal yang mudah, karenanya rakyat berusaha menghibur diri dengan ungkapan, "Bismillah, masuk Surga jalur WNI" karena apa? Karena betapa harus ekstra-ekstra-ekstra sabarnya menjadi rakyat dalam menghadapi kebijakan zalim salah urus saat ini, rakyat menggugat (bersuara) pun bisa jadi juga akan sangat kecil kemungkinannya untuk diperhatikan dan didengarkan oleh penguasa. Tapi ya itulah yang bisa dilakukan rakyat selain sabar terhadap kezaliman kebijakan, juga harus bersuara menyampaikan kebenaran. Namun, bagi seorang muslim tidak sekadar bersabar tapi juga harus beramar makruf nahi mungkar (dakwah) apalagi amar makruf nahi mungkarnya kepada penguasa itu merupakan seutama-utama jihadnya. Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kalimat yang adil (kebenaran) di hadapan penguasa yang zalim.” (HR Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Semoga negeri ini lekas pulih, negara bisa hadir dalam melayani hak-hak rakyat termasuk mensejahterakan rakyat. Mari kita berdoa agar Allah menganugerahi pemimpin amanah dan bertakwa yang mau menerapkan aturan Allah secara sempurna yang bisa menghilang segala bentuk kezaliman di muka bumi ini. Aamiin
Bagikan:
KOMENTAR