Korupsi Mahasiswa, Buah Pahit Sistem Kapitalisme dan Kegagalan Sekularisme Global


author photo

11 Okt 2026 - 10.34 WIB



Oleh: Ferdina Kurniawati
Aktivis Dakwah Muslimah

Dunia kampus sering kali disanjung sebagai miniatur negara dan rahim lahirnya para agen perubahan. Di wadah inilah calon pemimpin bangsa ditempa melalui pergerakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Namun, realitas hari ini menyuguhkan ironi yang kelam. Publik dikejutkan oleh kasus penggelapan dana donasi kemanusiaan untuk korban kebakaran di Muara Bengkal, Kutai Timur. Mirisnya, aksi amoral ini dilakukan oleh dua oknum internal BEM KM Universitas Mulawarman (Unmul) yang menggasak dana sekitar Rp12,2 juta. Dana yang mulanya dikumpulkan dari keringat masyarakat di jalanan Samarinda dan disimpan dalam kardus sekretariat tersebut, justru ditilap untuk kepentingan pribadi.
Ketika mahasiswa yang biasanya berdiri di garis terdepan menyuarakan keadilan, mengkritik korupsi, dan membawa nama kepentingan rakyat justru menjadi pelaku penyelewengan, sebuah pertanyaan mendasar muncul. Apakah ini sekadar kegagalan moral individu, atau cermin dari krisis identitas, tata kelola, dan pergeseran nilai dalam organisasi mahasiswa itu sendiri? 

Logika Kapitalisme dan Budaya Materialisme
Jika ditelaah lebih dalam, korupsi dan penyelewengan di tubuh organisasi mahasiswa bukan lagi sekadar persoalan "oknum yang tidak jujur". Fenomena ini berkaitan erat dengan budaya, sistem, kesempatan, dan orientasi hidup yang materialistis. Kita hidup di bawah naungan sistem kapitalisme sekuler yang mengukur segala sesuatu dari materi. Logika kapitalisme ini tanpa sadar ikut membentuk perilaku mahasiswa hari ini.
Akibat gempuran budaya hedonisme dan materialisme, mahasiswa rentan kehilangan jati diri idealisnya. Organisasi kemahasiswaan yang seharusnya menjadi kawah candradimuka integritas, bergeser fungsi dan akhirnya rentan mencetak kader-kader yang minim moralitas. Integritas tergadaikan demi pemenuhan kepuasan gaya hidup fana, bahkan tega memakan hak para korban bencana yang sedang kesusahan. 
Korupsi di kalangan organisasi kemahasiswaan menunjukkan bahwa kerusakan yang terjadi bersifat kompleks dan sistemik. Masalah ini bermula dari level individu yang sekuler dan jauh dari ketakwaan kepada Allah SWT, sehingga kehilangan rasa muraqabah (merasa diawasi oleh Sang Pencipta).
Ditambah lagi, kontrol lingkungan internal organisasi yang melempem dan cenderung membiarkan tanpa adanya transparansi yang ketat memberi celah lebar bagi terjadinya kemaksiatan. Pada level yang lebih luas, negara pun dinilai gagal melindungi generasi. Sistem demokrasi yang diterapkan hari ini tidak pernah mampu bertindak tegas dan tuntas dalam memberantas kemaksiatan serta perilaku koruptif hingga ke akarnya. Bagaimana mungkin mahasiswa bisa menjadi pelopor perubahan bangsa jika di dalam rumahnya sendiri mereka mereplikasi perilaku koruptor yang kerap mereka demonstrasikan? 

Islam Kaffah sebagai Solusi Hakiki
Sistem sekuler terbukti gagal mencetak generasi berintegritas. Oleh karena itu, dunia kemahasiswaan membutuhkan perubahan paradigma yang mendasar melalui penerapan Islam secara menyeluruh (kaffah). Islam sebagai sistem mempunyai tiga pilar untuk menjaga dan menyelesaikan problematika ini. 
Pertama,islam memiliki sistem Pendidikan berbasis aqidah islam yang akan melahirkan generasi yang taat syariat. Individu dididik menjadi pribadi bertakwa yang memiliki syakhsiyah (kepribadian) Islam, sehingga mereka sadar bahwa mengambil harta yang bukan haknya merupakan dosa besar yang harus dipertanggungjawabkan di akhirat. Niat melakukan kemaksiatan pun akan terkikis dengan sendirinya. 
Kedua, di dalam sistem Islam, lingkungan organisasi dan masyarakat akan menghidupkan tradisi saling menasihati dalam kebaikan dan mencegah kemungkaran. Tidak ada ruang bagi sikap apatis atau pembiaran terhadap penyelewengan sekecil apa pun. 

Ketiga, Negara dalam sistem Islam akan menerapkan sanksi hukum yang tegas bagi para koruptor. Sanksi ini berfungsi sebagai jawajir (pencegah agar orang lain tidak meniru) dan jawabir (penebus dosa bagi pelaku di akhirat).

Sudah saatnya mahasiswa mengembalikan jati diri mereka. Mahasiswa seharusnya masuk ke dalam organisasi bukan untuk mencari eksistensi atau materi, melainkan menjadikannya sebagai wadah dakwah demi kebangkitan umat. Hanya dengan landasan iman dan keterlibatan aktif dalam kegiatan sosial yang tulus, mahasiswa mampu bertransformasi menjadi pelopor kebangkitan yang sejati. 
Wallahu alam bi shawab
Bagikan:
KOMENTAR