Melampaui Tren Mental Health: Islam Menjawab Krisis Kehidupan


author photo

9 Okt 2026 - 23.14 WIB




Oleh Moura Cesari Millennia, S.Psi. 
Mahasiswi Pascasarjana UNY

Dalam rangka memperingati hari Kesehatan Jiwa Sedunia (World Mental Health Day) pada 10 oktober 2026. Yogkarta resmi ditunjuk sebagai tuan rumah ajang “Tata Hati Indonesia” yang diadakan gelaran talkshow interaktif dan meditasi public gratis ini yang diselenggarakan oleh Yayasan Cahaya Cinta Kasih (YCCK) berkolaborasi dengan Universitas Gadjah Mada (UGM). Ditengah maraknya fenomena healing dan self-care di kalangan anak muda serta pekerja urban, Tata hati Indonesia hadir menawarkan ruang refleksi batin yang subtansif. Pendiri YCCK sekaligus pencipta metode SOUL menegaskan bahwa kesehatan mental tidak bisa diselesaikan hanya dengan tren sesaat. Pada program ini, Yogyakarta punya modal budaya yang sangat kuat seperti mulat sarira, sangkan paraning dumadi, dan nilai-nilai lokal. Acara ini, akan berlangsung dalam dua sesi utama yakni, temu wicara interaktif yang sistem nya adalah mengajak peserta untuk berbagi cerita serta mendapatkan solusi langsung atas persoalan batin yang dihadapi, sedagkan sesi kedua yakni, meditasi SOUL reflection yang mana sesi ini melakukan meditasi bersama untuk membersihkan beban emosi negatif, menumbuhkan afirmasi positif, dan memulai langkah hidup yang lebih sehat secara mental. 
         
Di tengah maraknya tren kesehatan mental, penting untuk menyadari bahwa meningkatnya kesadaran terhadap kesehatan mental tidak selalu berbanding lurus dengan terselesaikannya persoalan hidup. Berbagai bentuk healing, self-care, meditasi, dan refleksi diri memang dapat membantu seseorang mengenali emosi serta membangun ketenangan batin, tetapi tidak semestinya dipandang sebagai solusi tunggal bagi setiap persoalan psikologis. Gangguan kesehatan mental tidak selalu lahir semata-mata dari “masalah dalam diri”, tetapi dapat dipengaruhi dan dipertahankan oleh berbagai kondisi “di luar diri”, seperti tekanan akademik, konflik keluarga, relasi yang tidak sehat, kekerasan, kesulitan ekonomi, faktor lingkungan, kondisi sosial, kebijakan politik maupun tuntutan kehidupan yang terus-menerus. Karena itu, upaya dalam menjaga dan memulihkan kesehatan mental tidak cukup hanya dengan meminta individu untuk lebih kuat, lebih menerima diri, atau lebih mampu mengelola emosinya. Kondisi lingkungan yang menjadi sumber tekanan juga perlu dikenali dan, sejauh mungkin, diperbaiki. Jangan sampai budaya healing justru membuat seseorang merasa bahwa seluruh tanggung jawab atas kesehatan mental berada di pundaknya sendiri, sementara persoalan struktural dan lingkungan yang turut melukainya dibiarkan tetap ada. Pada akhirnya, kesehatan mental bukan sekadar tentang bagaimana seseorang belajar berdamai dengan dirinya, tetapi juga tentang bagaimana individu memperoleh lingkungan yang aman, dukungan yang memadai, akses terhadap bantuan yang tepat ketika dibutuhkan, dan sistem kebijakan yang sehat. 
        
Islam menawarkan solusi yang lebih menyeluruh dalam memandang kesehatan mental, bukan hanya sekadar mengajarkan manusia untuk menenangkan hati, tetapi juga menghadirkan tatanan kehidupan yang menjaga kesejahteraan manusia. Allah SWT berfirman, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra'd: 28). Namun, arti dari ketenteraman hati tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan ketidakadilan, kemiskinan, kekerasan, rusaknya hubungan sosial, dan berbagai tekanan kehidupan yang turut memengaruhi kesehatan mental. Islam tidak hanya mengajarkan sabar kepada mereka yang sedang menghadapi kesulitan, tetapi juga memerintahkan keadilan, menumbuhkan kepedulian (empati), dan melarang segala bentuk kezaliman. Karena itu, penyelesaian persoalan kesehatan mental perlu dilakukan secara menyeluruh melalui penguatan iman, dukungan keluarga dan masyarakat, bantuan profesional ketika diperlukan, serta perbaikan kondisi sosial yang menjadi sumber penderitaan. Jangan sampai individu sibuk mengajarkan manusia untuk bersabar dan tenang menghadapi penderitaan, tetapi lupa memperjuangkan perubahan terhadap keadaan eksternal diri yang menyebabkan mereka terus menderita. Sebab, Islam tidak hanya hadir untuk self-healing dengan meditasi atau spirituality di tengah kerusakan sistem, tetapi juga menuntun manusia untuk memperbaiki kehidupan agar keadilan, ketenteraman, dan kesejahteraan dapat dirasakan oleh seluruh umat manusia. Sehingga, faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi mental individu seperti kerusakan sistem yang diakibatkan oleh sistem kapitalis bisa tercegah dengan menerapkan sistem Islam secara menyeluruh yang rahmatan lil alamin.
Bagikan:
KOMENTAR