Pendidikan Tak Lagi Ramah, Generasi Dalam Pusaran Bullying


author photo

12 Okt 2026 - 12.51 WIB




Oleh: A Tenri Sarwan, S.M

Generasi muda adalah tonggak peradaban. Di tangan generasi mudalah harapan peradaban ini disematkan. Tapi, apa mau dikata saat generasi muda kian mencemaskan. Ruang-ruang belajar itu tak lagi layak menjadi ruang penuh semangat belajar, yang ada hanyalah kegelisahan yang terselip bagi jiwa yang sedang menahan luka dan duka. Aktivitas sekolah hanya terlihat normal tapi sebagian generasi muda mengalami tekanan mental yang penuh sesak. Tekanan yang dialami korban dapat berdampak serius terhadap kondisi psikologis dan mendorong munculnya berbagai perilaku berisiko atau bahkan mencari orang lain untuk melampiaskannya hingga menjadi pelaku kriminalitas. 

Aqib (7), warga Kebondalem, Pemalang, meninggal dengan dugaan menjadi korban perundungan (bullying) pada Rabu (30/9) sore. Diah (ibu korban) mengatakan, selama sakit itu, anaknya berubah. Semula periang dan doyan makan, buah hatinya menjadi pendiam. Korban bahkan menceritakan perundungan yang dialaminya kepada dokter. (Detik.com, 01/10/2026) 

Kasus bullying di tengah generasi muda bukan hanya tentang kenakalan remaja, ini adalah tindakan kriminal berat. Bullying adalah alarm keras pada kecamuk pendidikan yang harus segera dituntaskan. Generasi pada akhirnya berada di tengah pusaran bullying. Entah menjadi pelaku bullying, korban bullying, saksi yang diam atau lingkungan yang membiarkan bullying terus berlangsung atau bahkan kelemahan penegakan hukum. Ada apa dengan kondisi generasi yang semakin memprihatinkan? Bagaimanakah potret generasi emas, disaat generasi justru kian mencemaskan? Siapa yang paling bertanggungjawab? 

Problem Sistemik? 

Masalah bullying tidak berdiri sendiri. Ini adalah akumulasi dari ekosistem kehidupan yang gagal. 
Tekanan sekolah yang sibuk mengejar nilai, peringkat, piala tapi lupa membangun karakter ketangguhan emosional dan keamanan lingkungan belajar. Sekolah justru terkadang menutupi kasus atas dasar nama baik. Lebih memilih menyelesaikan secara kekeluargaan tanpa sadar kasus bullying telah merebak sampai menghilangkan nyawa. Bahkan budaya sekolah identik dengan budaya kompetisi nihil empati. Orang tua yang kelelahan dikelilingi tuntutan kehidupan ekonomi yang sulit sehingga tak hadir secara emosional mendampingi pembinaan generasi. Masyarakat yang terlalu cepat menghakimi, menuduh, bahkan menyalahkan. Masyarakat tidak hadir untuk merangkul ataupun menemani proses pembinaan generasi. 

Kekosongan pembinaan lebih diperparah dengan sistem sekuler yang mengelilingi generasi. Mereka tumbuh dengan sistem yang akidahnya adalah sekuler yakni memisahkan agama dari kehidupan. Sehingga sudut pandang kehidupan tidak berstandar Islam. Tetapi, standar kehidupan generasi hanya tentang untung rugi, popularitas ataupun materi. Generasi tidak menilai sesuatu dengan standar benar atau salah adalah tentang ketakwaan tetapi tentang viral atau diterima oleh lingkungan. 

Lebih lagi lemahnya kontrol dan deteksi dini terhadap perubahan-perubahan yang dialami oleh generasi muda yang menjadi pelaku ataupun korban sehingga tragedi sulit dicegah. Diperparah oleh peran negara yang lebih sering hadir paling terlambat. Sistem perlindungan anak tidak konsisten, regulasi demi regulasi kosong yang tidak menyentuh akar permasalahan generasi. Hanya menyentuh aspek administratif. 

Pendidikan yang tidak berstandar Islam yang seharusnya membentuk generasi berkepribadian Islam, jauh lebih memperparah problem bullying sebab membuat generasi semakin kabur terhadap tujuan hakiki penciptaannya. Kurikulum dirancang sesuai dengan asas sekuler kapitalistik, hanya mementingkan aspek nilai. Rela melakukan segala cara demi mendapatkan nilai tinggi, nihil ketaatan. 

Ilmu pengetahuan didapatkan bukan untuk menjadi amal jariyah. Menjadi sebaik-baiknya manusia yang bermanfaat untuk umat, tetapi berakhir pada materi. Lulus dengan nilai terbaik dan bekerja dengan gaji tinggi.

Generasi kian rapuh dan lemah karena sejak awal didikan ekosistem rusak dan merusak telah mengelilingi mereka. Cita-cita generasi emas semakin jauh dari harapan. Ini menunjukkan bahwa kasus bullying bukan hanya tentang kenakalan remaja semata tetapi tentang problem sistemik. Dibutuhkan tanggungjawab bersama, semua komponen (individu, masyarakat hingga negara). Lalu bagaimana seharusnya? 

Islam The One And Only

Islam agama yang sempurna dan paripurna. Allah SWT. telah memerintahkan dalam firmannya yang mulia:

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ کَآ فَّةً ۖ وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ ۗ اِنَّهٗ لَـکُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

"Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 208)

Kita diperintahkan untuk masuk Islam secara sempurna yang berarti segala hal dalam lini kehidupan kita harus berstandar Islam. Islam hadir untuk melindungi nyawa, kehormatan, akal, nasab, agama, keamanan harta dan akidah yang tidak mungkin terealisasi apabila penerapan hukum Islam tidak secara menyeluruh. 

Sementara tanggungjawab ini paling krusial pada level negara bukan individu atau masyarakat. Negara yang paling bertanggung jawab memberikan perlindungan, bahkan mencegah sebelum bullying ataupun tindakan kriminal lainnya terjadi. Jika telah terjadi maka negara tahu langkah apa yang harus diambil untuk menindaklanjuti. 

Inilah kesempurnaan dalam Islam dan tidak akan pernah terwujud jika tidak diterapkan secara keseluruhan. Negara mungkin saja bisa mengambil sistem pendidikan Islam untuk mewujudkan generasi berkepribadian Islam (pola pikir dan pola sikap Islam) tetapi tanpa aturan hukum (peradilan) dan aturan lainnya dengan sistem Islam maka mustahil terwujud generasi emas. 

Bullying jelas keharamannya dalam Islam, Allah SWT. melarang hamba-Nya mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi kaum yang diolok-olok jauh lebih baik (QS Al-Hujurat ayat 11). Perilaku seseorang jelas tergantung pemahamannya maka mewujudkan generasi emas artinya dimulai dengan mengembalikan pemahaman mereka kepada pemahaman yang benar. Metode belajar dalam Islam adalah belajar secara mendalam dan berpengaruh yang mampu memberikan dampak. Kerangkanya jelas adalah atas dasar dorongan iman menjadi sebaik-baiknya manusia yang bermanfaat untuk umat. Menjadi wasilah kebaikan untuk meraih ridho Allah SWT. Sebab akidah Islam menjadi asasnya. 

Walhasil, inilah Islam dengan sistem pendidikan yang shahih yang mampu membentuk generasi emas, karena tujuan pendidikannya adalah untuk membentuk generasi berkepribadian Islam. Dipadu dengan sistem ekonomi, sosial, peradilan, kesehatan, keamanan yang shahih maka terbentuklah pemerintahan yang mampu melindungi rakyatnya dari berbagai kerusakan. Terbentuk individu bertakwa, masyarakat yang senantiasa berdakwah dan negara yang menerapkan syariah. Generasi tumbuh dalam ekosistem lingkungan shahih, yang aman dan jauh dari tindakan kriminal. Maka, siapkah umat merealisasikannya?

Rasulullah saw. bersabda,

فَالْإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Imam (kepala negara) adalah pengurus rakyat. Dia akan diminta pertanggungjawaban tentang rakyatnya.”

Wallahu a'lam bish-shawab
Bagikan:
KOMENTAR