Kemajuan teknologi AI (Artificial Intelligence) masih menjadi dilema bagi masyarakat saat ini. Teknologi yang dirancang mampu meniru pola pikir, kemampuan belajar dan kecerdasan manusia ini kini dikhawatirkan melampaui batas kendali. Sebuah riset yang diterbitkan di Jurnal Cambridge Programme on AI Science Policy (CASP) mendesak para pembuat kebijakan untuk bertindak mengantisipasi ledakan kecerdasan yang tak terkendali dari AI tersebut. Karena menurut riset tersebut seorang pengembang AI dapat menjalankan tenaga kerja yang setara dengan jutaan peneliti manusia terbaik. Hal ini dianggap berdampak pada ancaman biologis dan siber, hilangnya kendali dan keterlibatan manusia serta perang antar negara. (CNN Indonesia, 30/09/2026)
Program kecerdasan buatan (AI) sejatinya adalah salah satu bentuk anugerah dari Allah SWT yang telah menciptakan manusia berikut ilmu pengetahuan yang dimilikinya. AI adalah sarana yang mampu membawa perubahan besar dalam perjalanan hidup dan peradaban manusia. Namun bagaimanapun, teknologi tetaplah ibarat pisau bermata dua yang bisa digunakan untuk kebaikan atau keburukan tergantung pada bagaimana manusia memilih untuk memanfaatkannya.
Saat ini, teknologi AI berkembang begitu pesat, ia mampu menciptakan gambar, suara, video dan berbagai hal yang sama persis bahkan sangat sulit dibedakan dengan kenyataan sebenarnya. Sayangnya, teknologi tersebut tidak sedikit digunakan untuk melakukan kejahatan seperti penipuan, penyebaran hoaks, menghina keyakinan, menciptakan kekacauan sosial serta pengembangan senjata otomatis untuk kejahatan. Bahkan di beberapa kasus kontroversial yang mengandung unsur SARA terjadi belakangan ini diduga dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI), dan ini jelas berbahaya bagi manusia. Akhirnya, fenomena AI bukan lagi persoalan digital melainkan simbol konflik antara ideologi dan moralitas, antara kebebasan dan kehormatan.
Saat ini, dunia masih dikuasai oleh sistem kapitalisme. Dari sistem inilah lahir cara pandang bahwa segala sesuatu akan mengandung nilai apabila mendatangkan manfaat. Maka hadirnya AI merupakan alat industri hiburan dan propaganda. Doktrin kebebasan tak terbatas dianggap sah selama menghasilkan keuntungan dan popularitas.
Sementara itu, Islam sangat menekankan pada penggunaan teknologi yang bermanfaat dan tidak merugikan manusia, alam semesta dan kehidupan. Islam tidak anti teknologi. Justru di dalam sejarah Islam begitu banyak ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang dimanfaatkan oleh manusia untuk menunjang peradaban. Namun, teknologi di dalam Islam digunakan berdasarkan syariat dengan tujuan memperkuat penyebaran dakwah dan menebarkan manfaat.
Di dalam sistem Islam yang disebut khilafah, teknologi adalah instrumen syiar, bukan senjata kapital yang digunakan untuk melakukan kejahatan. Tidak akan dibiarkan siapapun melakukan penistaan terhadap simbol-simbol agama termasuk melalui teknologi. Kebebasan akan dijaga dan dikawal berdasarkan standar akidah Islam.
Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban kaum Muslim saat ini untuk menjadikan kemajuan teknologi sebagai sarana dakwah. Dengan mempersatukan negeri-negeri Muslim di bawah kekuatan khilafah, memanfaatkan sumber daya alam untuk mengembangkan teknologi maju dan modern serta untuk mencapai kedaulatan penuh sehingga bisa memimpin dunia dengan industri militer yang kuat yang mencakup industri teknologi yang berkelanjutan.