Kelaparan di Gaza dan Seruan Kembali kepada Jalan Jihad dan Khilafah


author photo

31 Jul 2025 - 11.33 WIB




Genosida di Gaza mencapai titik paling mengerikan. Kelaparan yang diderita oleh lebih dari dua juta warga Gaza bukanlah sekadar bencana kemanusiaan, melainkan senjata baru yang digunakan Zionis Yahudi untuk membunuh secara perlahan. Sejak blokade penuh diberlakukan pada 2 Maret 2025 dan gencatan senjata gagal diperpanjang, bantuan kemanusiaan nyaris dihentikan. Truk-truk bantuan hanya diperbolehkan masuk dalam jumlah yang sangat minim, seolah hanya untuk formalitas. Gaza dijadikan laboratorium kejahatan paling keji—membiarkan manusia mati perlahan karena kelaparan.

Kebiadaban ini tak bisa lagi dilawan dengan retorika atau diplomasi semu. Apalagi ketika Amerika Serikat selalu menjadi tameng kejahatan Zionis melalui veto di PBB, dan lembaga internasional seperti PBB hanya menjadi penonton bisu. Lebih menyedihkan lagi, para pemimpin negeri-negeri muslim justru diam membisu, abai terhadap seruan Allah dan Rasul-Nya. Mereka telah mati rasa, tak lagi tergugah oleh jeritan saudara seiman yang sekarat.

Umat Islam telah terperdaya oleh propaganda Barat yang melemahkan kepercayaan diri mereka. Padahal, jika disatukan dalam satu akidah, kekuatan umat ini luar biasa besar. Sejarah mencatat, Khilafah Islam pernah menjadi negara adidaya yang disegani dan mampu membebaskan negeri-negeri muslim dari penjajahan.

Hari ini, umat harus disadarkan kembali bahwa hanya dengan jihad yang dipimpin oleh negara Khilafah, Palestina dan tanah-tanah muslim lainnya dapat dibebaskan. Jamaah dakwah ideologis harus terus memimpin barisan ini—membangkitkan pemikiran umat, menggugah perasaan mereka, dan menunjukkan jalan perjuangan sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah ﷺ.

Para pengemban dakwah juga harus terus meningkatkan keterampilan dalam berinteraksi dengan umat, memperkuat keyakinan, dan mendekatkan diri kepada Allah. Hanya dengan kesungguhan, keikhlasan, dan istiqamah, pertolongan Allah akan datang untuk membalik keadaan dan mengembalikan kejayaan Islam. Gaza menunggu kebangkitan umat—bukan belas kasihan, tapi pembebasan.
Bagikan:
KOMENTAR