‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎

Inspirasi Ketangguhan Generasi Gaza di Tengah Kondisi Perang Vs. Fenomena Duck Syndrome Kaum Muda


author photo

7 Sep 2025 - 22.29 WIB



Oleh : Yulia Ekawati, S. Pd. (Aktivis Dakwah Kampus)

Gaza, kasus yang tak boleh kita lupakan, dan bahkan masih sedang berlangsung, kita yang tengah tertidur pulas disini, sementara mereka tengah menyaksikan rumah rumahnya terbakar, sekolah mereka terbakar, keluarga mereka terbunuh. Tua, muda, anak anak tengah berjuang menghadapi perang yang tak seimbang disana lawannya punya senjata lengkap dengan bom nya, sementara Gaza tidak punya, katanya zionis melawan upaya terorisme nyatanya yang diserang bukan saja yang "dianggap pelaku" tetapi tak pandang bulu, bahkan orang orang yang sudah tak punya tenaga di bombardir. Apalagi namanya kalau bukan misi pemusnahan.

Namun, luar biasanya adalah pemuda pemuda Gaza yang tetap teguh pada keimanannya, yang tetap belajar, dan berprestasi bahkan tetap mempertahankan cita cita yang mereka punya, meski belum tahu apakah keesokan harinya nadi nya masih berdenyut atau bahkan tidak. 

Segala keterbatasan yang disengaja oleh Israel di Gaza, tidak membuat penduduknya, khususnya anak-anak usia sekolah, menyerah pada keadaan. Di antara ruang-ruang kelas yang telah dihancurkan, di tenda-tenda yang dijadikan ruang belajar darurat, di tengah pemadaman listrik dan koneksi internet untuk mengakses dunia luar, juga di tengah ketakutan akan pengusiran dan pembantaian, anak-anak di Gaza tetap bertekad untuk terus belajar demi mewujudkan satu impian: membangun kembali Gaza.

Kita telah meyaksikan ketanggunahan anak anak Gaza yang tetap belajar ditengah genosida, tetapi disini lain ada fenomena duck syndrome yang berjangkit pada mahasiswa.

Mungkin beberapa mahasiswa ada yang pernah merasa tampak tenang di luar namun sebenarnya sedang memiliki tekanan besar dalam hidupnya. Sebenarnya, hal itu adalah penjelasan secara psikologisnya dan biasa disebut sebagai sindrom bebek atau duck syndrome. Asal mula disebut disebut sebagai duck syndrome karena kondisi tersebut sama dengan kondisi bebek yang sedang berenang tampak tenang di permukaan namun di dalamnya sangat sibuk mengayuh agar tetap bisa berenang. Psikolog dari Unit Pengembangan Karier dan Kemahasiswaan (UKK) Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada (UGM) Anisa Yuliandri menjelaskan, istilah duck syndrome pertama kali digunakan untuk menggambarkan mahasiswa Universitas Stanford yang tampak tenang tetapi sebenarnya sedang berada di bawah tekanan besar. (Kompas / 25/08/2025).

Tidak hanya di luar negeri fenomena duck syndrome juga terlihat pada mahasiswa indonesia. Hal hal itu bisa terjadi dikarenakan mahasiswa yang berusaha memenuhi ekspetasi tinggi terhadap diri sendiri. Mereka berusaha mempertahan kan nilai IPK yang tinggi sembari aktif dalam organisasi, ikut magang, sampai berkompetisi diberbagai ajang, juga tak pernah alpa di media sosial. Karena banyaknya ekspetasi yang "merasa" harus mereka penuhi sehingga muncullah mahasiswa dengan duck syndrome ini.

Tapi kenapa anak anak gaza bisa berusaha belajar dalam kondisi bom yang tidak dimetahui kapan jatuhnya di langit gaza mereka tetap bisa berupaya menambah ilmu bahkan dilakukan dengan gembira, tetapi mahasiswa dinegara lain yang justru bisa dikatakan tenang tanpa adanya bom yang akan jatuh dari langit justru menghadapi kondisi kecemasan yang menghawatirkan.

Namun jika diulik lebih dalam anak anak gaza dan seluruh warganya punya landasan keimanan yang kuat akan pentingnya dan wajibnya mengemban ilmu itu. Sehingga Pembentukan generasi penjaga masjid Al Aqsa tetap dilakukan. Remaja dan orangtua bahkan nenek-nenek yang memiliki kemampuan melakukan diskusi dan memberikan pelajaran serta pendidikan pada anak-anak Gaza. Pendidikan Qur'ani yang akan membentuk generasi yang berkepribadian Islam penjaga Al Aqsa.

Selain itu dalam diri anak anak gaza sudah tertanam mindset dalam kondisi apapun jika disebut kewajiban maka harus dilakukan, bahka dalam kondisi perang sekalipun, makanya anak anak gaza tetap melakukan kewajiban mereka yaitu belahar walaupun tidak ditemani orang tua mereka karena telah syahid dalam peperangan ini.

Disisi lain mahasiswa kita dikungkung oleh sistem kapitalisme, yang membuat mereka harus berjuang untuk bertahan. Sistem sekuler kapitalis membentuk gaya hidup mahasiswa untuk memenuhi tuntutan tuntunan ala sistem ini, padahal diri tidak mampu mengakibatkan strees.

Ditambah dengan kondisi mahasiswa yang lemah imannya, akibatnya tidak memahami hakikat hidup, prioritas amal, juga rendahnya kesadaran politik bahwa Sistem sekuler Kapitalisme menjadikan krisis multidimensi sehingga tidak bisa dihadapi secara individual 

Lantas bagaimana membuat mahasiswa atau pemuda kita menjagi tanggung layaknya anak anak di gaza. Mereka harusnya bisa mencobtoh anak anak yang tetap paham kewajiban walaupun dalam kondisi perang. Selain itu bahkan kitaenginginkan kemerdekaan untuk Gaza, saudara semuslim kita disana, namun untuk mendapatkan itu butuh penyatuan kekuatan kaum muslimin untuk mengakhiri perang di Gaza, yang akan mampu mengomando tentara kaum muslimin untuk berjihad demi mengakhiri Zionis AS.

Jika hal itu kita usahakan terjadi maka anak-anak bisa merasakan kembali kehidupan yang indah dalam naungan syariat Islam, oleh karena itu perlu ada perjuangan untuk menegakkan syariah islam dalam lingkup negara. Perjuangan ini membutuhkan dukungan umat termasuk para pemuda/mahasiswa muslim

Ketangguhan anak-anak Gaza harus menjadi inspirasi bagi mereka yang terkena duck syndrome. Ketangguhan mereka adalah bukti nyata ketinggian Islam dalam membina generasi. Maka generasi kita juga perlu dipahamkan kembali hakikat identitas hakiki sebagai muslimah, dan menyadarkan jebakan Standar kapitalisme justru membuat stres, merusak dan menjerumuskan. Maka tidak perlulah kita bertahan dalam sistem yang hanya membawa stress dalam linimasi kehidupan.

Jika kita mengingunkan semua itu maka dibutuhkan penyadaran politik dan adanya kebutuhan perubahan sistem islam sebagai solusi krisis multidimensi termasuk membebaskan Palestina dari cengkeraman Zionis.

Wallahu'alam bissawab
Bagikan:
KOMENTAR