Hampir 2 tahun berlangsung kekejian zionis Israel dipertontonkan dengan genosida secara nyata. Berbagai kengerian dan perlakuan brutal zionis untuk Gaza seolah menjadi 'biasa' saat dunia diam seribu bahasa. Padahal kelaparan, pengusiran dan bombardir terus dilakukan zionis tanpa henti.
Tak hanya menyasar warga Gaza, serangan Israel juga menewaskan para jurnalis dalam berbagai serangannya. Dilansir BBC News Indonesia, 26/8/2025 menyebutkan sekitar 20 orang termasuk lima jurnalis yang bekerja untuk media internasional, terbunuh dalam serangan ganda Israel di Rumah Sakit Nasser di Khan Younis, Gaza bagian selatan. Kematian lima jurnalis, menambah daftar panjang jumlah jurnalis yang tewas di Gaza sejak perang pada Oktober 2023, sekitar 200 orang.
Badan terkemuka Committee to Protect Journalists (CPJ), mencatat konflik di Gaza sebagai konflik paling mematikan bagi jurnalis.
CPJ mencatat, selama dua tahun terakhir, kematian jurnalis di Gaza melebihi total kematian jurnalis secara global dalam tiga tahun sebelumnya.
Kepala badan PBB yang mengurusi pengungsi Palestina (UNRWA), Philipe Lazzarini, menyampaikan bahwa banyaknya kematian jurnalis pada konflik Gaza "membungkam suara-suara terakhir yang melaporkan tentang anak-anak yang meninggal perlahan di tengah kelaparan".
Berbagai peristiwa pilu dan mengerikan 'tersaji' secara nyata pada dunia internasional. Namun semua bungkam, bahkan umat Islam sekitar 2 milyar penduduk pun tak tergerak mengarahkan moncong senjatanya membalas kebiadaban zionis.
Normalisasi Hubungan dengan Israel, Melanggengkan Penjajahan
Sungguh tak habis pikir, disaat penjajahan terus dipertontonkan, upaya masyarakat dunia untuk masuk menembus Gaza dan menyalurkan bantuan yang sedang disuarakan dan diperjuangkan, langkah sebaliknya justru ditempuh penguasa muslim saat ini, terutama yang berdekatan posisinya.
Secara kasat mata, penguasa dunia terutama penguasa muslim lebih memilih membisu atau justru berdiri disamping Zionis dan Amerika baik terang-terangan ataupun sembunyi-sembunyi. penguasa Arab terutama rezim Mesir terlibat dalam menciptakan bencana kelaparan tak berkesudahan di Gaza. presiden Mesir As Sisi sampai hari ini enggan membuka gerbang perbatasan Rafah. Padahal di sanalah bantuan ke Gaza dapat disalurkan, karena penyeberangan Kerem Shalom di perbatasan Mesir ada dalam kendali militer zionis. Mesir berdalih bahwa membuka gerbang Rafah bisa menciptakan perluasan konflik, ketidakstabilan dan banjir pengungsi asal Gaza masuk ke negaranya. Inilah mirisnya penguasa muslim saat ini, tak mau membantu dan mangambil resiko. Mereka lebih memilih berkasih sayang dengan kaum kafir pembunuh dan penjajah umat dibanding dengan sesama muslim tanpa memperdulikan kondisi saudaranya yang terjajah.
Lebih menyakitkan lagi, upaya normalisasi hubungan dengan Israel terus disuarakan dalam rangka mengganti wajah buruk Israel dengan wajah baru dalam bingkai investasi perdagangan dan lain-lain. Target normalisasi yang terus dilakukan mengukuti jejak Mesir (1979), Yordania (1994), adalah Bahrain Umi Emirat Arab, Maroko diperhalus atas nama program Abraham Accord dan selanjutnya adalah Indonesia serta Suriah masuk dalam daftar normalisasi dengan Israel.
Inilah realitas pilu penguasa dunia yang tak mampu menunjukkan keadilan dalam bersikap. Terus mempertontonkan pengkhianatannya dengan Israel meski lisan-lisan mereka manis menyuarakan kebebasan dan kemerdekaan Palestina. Pada saat kaki- kaki penguasa terpasung dalam kepentingan bersama penjajah, sudah saatnya suara umat terus digaungkan, bersatu padu melawan penjajahan dan membebaskannya dari kezaliman tak bertepi. Bagi kita nun jauh dengan Pelestina, upaya- upaya tetap dapat dilakukan. Bukankah negeri Indonesia, sudah lama hidup dalam penjajahan? harusnya empaty ini lebih mudah muncul karena pernah merasakan derita hidup dalam belenggu penjajahan. Sudah saatnya seluruh dunia menabuh satu suara bahwa 'penjajahan di atas dunia harus dihapuskan'.