Oleh: Wardatil Hayati, S.Pd (Pemerhati Ibu & Anak)
Baru-baru ini Kaltim ada aturan baru dari Disdikbud. Isinya, semua pelajar SMA/SMK diwajibkan ikut salat Subuh berjamaah tiap Jumat di masjid atau lingkungan sekolah. Tujuannya biar iman makin kuat, anak muda terbiasa bangun pagi, dan lahir generasi bertakwa.
(https://www.sapos.co.id/metropolis/2456518405/disdikbud-kaltim-wajibkan-pelajar-sma-sederajat-salat-subuh-berjamaah-orangtua-khawatirkan-anaknya-berangkat-dini-hari)
Sekilas ini terlihat keren. Apalagi Islam sendiri menganjurkan betapa pentingnya salat Subuh berjamaah. Rasulullah bersabda: “Barangsiapa melaksanakan salat Isya berjamaah, maka seakan-akan ia shalat setengah malam. Dan barangsiapa melaksanakan salat Subuh berjamaah, maka seakan-akan ia shalat semalam penuh.” (HR. Muslim). Dari sini saja kita bisa lihat, betapa besar keutamaan Subuh di masjid.
Tapi, di balik niat baik itu muncul beberapa kekhawatiran terutama dari orang tua yang punya anak perempuan jika anaknya harus berangkat dini hari di jalanan yang masih sepi. Kekhawatiran ini wajar, bukan cuma soal rasa aman di jalan, tapi juga apakah kegiatan ini benar-benar bikin lebih bertakwa atau sekadar rutinitas formalitas.
Takwa yang sejati itu tidak bisa dipersempit hanya pada ritual ibadah. Syaikh Taqiyyudin an Nabhani menjelaskan dalam kitab Nizhomul Islam bahwa ketaqwaan adalah idrak sillah billah (kesadaran hubungan langsung dengan Allah SWT). Program Subuh berjamaah memang bisa melatih disiplin, tapi kalau sistem kehidupan di luar sana tetap jauh dari nilai Islam, hasilnya bisa jadi setengah-setengah. Takwa bukan sekadar hadir di masjid, tapi ketika seluruh hidup kita baik pendidikan, ekonomi, bahkan politik diatur dengan syariat Allah. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara kaffah (total), dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan.” (QS. Al-Baqarah: 208).
Karena itu, penting memastikan gerakan Subuh berjamaah ini bukan cuma seremonial mingguan. Negara harus hadir dengan tanggung jawab penuh seperti jaminan keamanan, entah transportasi yang layak, penerangan jalan, pendampingan guru, dan pembinaan setelah ibadah.
Sebagaimana sejarah Islam sendiri udah kasih contoh. Para pejuang Islam di masa Rasulullah selalu memulai hari, bahkan sebelum turun ke medan perang, dengan salat Subuh berjamaah. Dari barisan shaf Subuh itulah lahir keberanian, keyakinan, dan kekuatan ruhiyah yang bikin mereka tidak gentar menghadapi musuh. Kalau dulu Subuh berjamaah jadi modal kemenangan di medan perang, maka sekarang ia bisa jadi modal kebangkitan generasi muda menghadapi tantangan zaman. Tapi, jika tidak dipersiapkan dengan baik (misalnya keamanan, pemahaman makna takwa yang sesungguhnya, atau pembinaan rutin yang nyambung ke kehidupan sehari-hari), maka gerakan ini malah jadi beban.
Mungkin perlu dipikir ulang bagaimana caranya kegiatan ini bisa lebih aman, lebih fun, dan lebih relevan buat remaja. Misalnya, bikin forum diskusi setelah subuh, ada kajian rutin dari guru/pembina yang mumpuni atau kegiatan positif lain yang bikin anak muda merasa, “Oh, ini bukan sekadar datang ke masjid, tapi ada value nyata untuk kita.”
Kalau sejak dini Gen Z disadarkan bahwa Subuh berjamaah bukan hanya soal bangun pagi, tapi bagian dari perjalanan menuju takwa yang hakiki, maka program ini bisa jadi energi besar untuk kebangkitan umat. Takwa sejati lahir ketika kita beribadah sekaligus hidup dengan aturan Allah secara total. Dan dari Subuh yang penuh berkah inilah, kita bisa mulai melangkah menuju peradaban Islam yang sesungguhnya.
Wallahu A'lam Bishawab.