‎ ‎
‎ ‎

Kenakalan Remaja Kian Meresahkan


author photo

23 Jan 2026 - 15.52 WIB




Balikpapan – Mengawali tahun ajaran 2026, Polresta Balikpapan melalui Satuan Pembinaan Masyarakat (Satbinmas) kembali menggencarkan program edukatif Police Go To School sebagai upaya preventif menekan angka kenakalan remaja di kalangan pelajar. Kegiatan penyuluhan tersebut digelar di SMP Negeri 3 Balikpapan, Selasa (13/1/2026), dan mendapat sambutan antusias dari para siswa maupun tenaga pendidik.

Program Police Go To School ini merupakan bagian dari strategi Polresta Balikpapan dalam menyampaikan pesan-pesan kamtibmas secara langsung kepada pelajar sejak usia dini. Melalui pendekatan persuasif dan edukatif, kepolisian berharap para siswa memiliki pemahaman yang kuat untuk menjauhi perilaku negatif yang dapat merusak masa depan mereka.
Gerbangkaltim.com

Sekuler Liberal

Maraknya prilaku negatif tidak terlepas dari tertancapnya pemahaman sekuler liberal di dalam kehidupan umat. Paham sekuler telah sukses menjadikan umat tidak memahami agamanya. Seluruh perbuatannya bersandar pada akal semata. Asas manfaat juga menjadi tolok ukur perbuatan dan materi menjadi standar kebahagiaannya. Inilah yang menjadikan kehidupan umat makin rusak.

Oleh sebab itu,prilaku negatif contohnya konten tauran dianggap sebagai sesuatu yang "logis" dalam sistem kehidupan sekuler. Para pelaku itu tidak peduli andai kontennya mencelakai orang atau dirinya sendiri. Selama keuntungan didapat, itulah sumber kebahagiaannya.

Begitu pun para pengikut dan penontonnya, alih-alih melaporkan ke pihak yang berwenang untuk mencegah, mereka malah menikmati adegan kekerasan tersebut. Lihatlah, sudah sedemikian rusaknya nurani para remaja hari ini. Mereka malah merasa bahagia saat banyak teman-temannya dipukuli, bahkan dihantam senjata tajam.

Lebih lanjut, sekularisme melahirkan liberalisme. Paham ini menjadikan manusia bebas melakukan segala sesuatu yang ia senangi hingga puas. Ia tidak peduli andai perbuatannya menzalimi orang karena yang ia pikirkan hanyalah kesenangannya sendiri. Dengan begitu, mereka tidak merasa takut memukul bahkan menusuk temannya yang ia anggap musuh tawurannya. Mereka pun tidak takut untuk meminum minuman keras dan narkoba, padahal telah jelas keharamannya.

Pendidikan Sekuler

Tawuran yang kian mengerikan dan meresahkan ini sejatinya satu gambaran kegagalan sistem pendidikan sekuler dalam mencetak generasi berkualitas. Sistem yang menjauhkan agama dari kurikulumnya ini telah menjadikan generasi muda tumbuh tanpa iman dan takwa.

Energi besar yang dimiliki kaum muda nyatanya mengalir pada aktivitas-aktivitas yang tidak berguna. Tawuran bukanlah satu-satunya kenakalan remaja yang lahir dari rahim sistem pendidikan sekuler. Di luar sana marak juga pergaulan bebas, aborsi, geng motor, narkoba hingga kenakalan/kejahatan remaja, semua tumbuh subur bak jamur pada musim hujan.

Sistem pendidikan sekuler yang hanya berorientasi akademik juga menyebabkan para peserta didik fokus pada dirinya sendiri. Dogma atas "nilai yang bagus agar bisa bekerja di tempat bonafide" sudah terlalu mengakar, tanpa peduli caranya halal atau haram. Semua itu mereka lakukan hanya demi capaian materi. Itulah gambaran kebahagiaan yang terus ditanamkan pada pelajar.

Lebih parahnya lagi, sistem pendidikan sekuler telah gagal menanamkan tujuan hidup pada seseorang. Akibatnya, para pelajar tidak memiliki tujuan kuat di balik fitrah penciptaan mereka. Kondisi ini menjadikan para pelajar mudah stres dan gamang dalam menghadapi persoalan hidup. Banyak pelajar yang juga terserang kesehatan mentalnya sehingga mereka mudah terbawa pada arus negatif, termasuk tawuran.

Sistem Kehidupan Islam

Berbeda dengan sistem kehidupan sekuler liberal, sistem kehidupan Islam menghendaki umat untuk melandasi setiap aktivitasnya pada akidah Islam. Penanaman akidah pada umat semestinya dilakukan di berbagai lapisan, mulai dari keluarga, masyarakat, hingga negara. Dengan begitu, seorang remaja akan memiliki akidah yang kuat dan perilakunya akan senantiasa terikat dengan syariat.

Di sisi lain, para ibu selaku pendidik pertama dan utama di tengah keluarga, adalah orang yang sangat paham dengan kewajiban utamanya, yaitu mendidik anak-anaknya berbasis akidah Islam serta dengan penuh kasih sayang. Dari keluarga yang demikian ini, akan lahir generasi yang kuat dalam mengarungi kehidupan bermasyarakat. Untuk itu, pada titik ini, kaum ibu bukanlah orang-orang yang dalam kesehariannya hanya tertarik untuk membesarkan eksistensi dirinya di luar rumah.

Begitu pula masyarakat, sistem kontrol masyarakat dalam Islam begitu kuat, tidak seperti sistem sekuler yang individualistis. Hal ini menjadikan seorang muslim akan sangat peduli pada sesamanya. Jika ada yang berbuat maksiat, seperti tawuran, ia akan bersegera menasihati dan berusaha mencegahnya.

Demikian halnya negara, dalam hal ini Khilafah, adalah institusi yang memiliki kewajiban mengurus dan melindungi umatnya. Khilafah akan sangat serius dalam menjaga akidah umat sehingga mereka senantiasa hidup dalam ketaatan. Negara akan menyaring konten media di tengah-tengah umat agar yang tersisa hanyalah konten positif dan bermuatan dakwah. Adegan kekerasan yang menginspirasi terjadinya tawuran, misalnya, tentu akan dicegah penayangannya. Begitu pun sistem sanksi, negara akan memastikan memberikan hukuman yang menjerakan kepada pelaku kekerasan.

Sistem Pendidikan Islam

Sistem pendidikan Islam yang berlandaskan akidah akan melahirkan generasi yang berkepribadian Islam, yaitu generasi yang memiliki pola pikir dan pola sikap Islam. Keimanan yang selalu ditanamkan oleh para pendidik, akan melahirkan generasi yang bertakwa, yaitu generasi yang senantiasa melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Jangankan tawuran atau kenakalan remaja, para pelajar dalam sistem pendidikan Islam akan mengisi waktu berharganya dengan menuntut ilmu demi keberkahan hidupnya. Ini karena sistem pendidikan Islam menanamkan pada mereka agar dengan ilmunya mereka bisa menyempurnakan ibadahnya sekaligus bermanfaat bagi umat. Inilah yang menjadikan para pelajar menggunakan energi besarnya untuk giat dalam belajar.

Para pelajar dalam sistem pendidikan Islam juga akan mampu menjadi individu yang kuat dalam menghadapi berbagai macam persoalan karena ia telah memahami tujuan penciptaan seorang hamba, yakni beribadah pada Allah Taala. Mereka pun memahami bahwa cobaan hidup adalah wujud kasih sayang Allah pada seorang hamba. Dengan begitu, mereka tidak dipusingkan dengan stres atau masalah kesehatan mental lainnya.

Selain itu, sistem pemerintahan Islam dengan kekuatan baitulmalnya akan mengelola sistem pendidikannya secara mandiri tanpa bergantung pada swasta apalagi asing. Meski keberadaan lembaga pendidikan milik swasta diperbolehkan, namun dengan syarat pendidikannya harus berbasis akidah Islam dan kurikulumnya tidak bertentangan dengan tsaqafah Islam.

Khatimah

Atas dasar ini, jelas bahwa tawuran yang berdarah-darah dan ternyata demi konten, hanya akan marak di dalam sistem kehidupan sekuler liberal. Semua ini membuktikan sistem pendidikan sekuler telah gagal melahirkan generasi yang kuat dan berkualitas.

Untuk itu, satu-satunya pilihan adalah dengan beralih pada sistem kehidupan Islam yang akan mengantarkan umat pada keluhuran hidup. Sistem pendidikan Islam di bawah naungan Khilafah telah terbukti mampu melahirkan generasi cemerlang pembangun peradaban. Wallahualam bissawab.
Bagikan:
KOMENTAR