‎ ‎
‎ ‎

Banjir Lumpuhkan Kilang Padi Doa Ibu, 15 Ton Padi Rusak dan Kerugian Tembus Rp105 Juta


author photo

22 Jan 2026 - 16.27 WIB



Lhokseumawe — Banjir yang melanda kawasan Blang Mangat pada akhir November 2025 tidak hanya merendam permukiman warga, tetapi juga melumpuhkan aktivitas ekonomi masyarakat. Salah satu yang terdampak serius adalah Kilang Padi Doa Ibu, usaha penggilingan padi milik warga Dusun Meurandeh, Desa Kumbang Punteut, yang terpaksa menghentikan operasional akibat terjangan banjir.

Kondisi tersebut terungkap saat Mahasiswa KKN-PPM Universitas Malikussaleh Kelompok 67 melakukan kunjungan dan wawancara langsung dengan pemilik kilang, Bapak Cot Haji, pada Kamis (22/1/2026). Kilang padi yang telah berdiri sejak 19 Agustus 2003 itu menjadi salah satu penopang kebutuhan beras masyarakat lokal.

Dalam kondisi normal, Kilang Padi Doa Ibu mampu memproduksi 5 hingga 7 ton beras per hari dengan mengandalkan satu unit mesin penggilingan dan melibatkan lima tenaga kerja, masing-masing dua orang di bagian penjemuran, dua orang penggilingan, serta satu orang pengemasan.

Namun, banjir menyebabkan sekitar 15 ton padi terendam dan rusak, sehingga tidak dapat diproses menjadi beras konsumsi. Padi yang terdampak terpaksa dijual dengan harga murah atau dialihkan sebagai pakan ternak. Akibat kejadian tersebut, Cot Haji mengaku mengalami kerugian hingga Rp105 juta.

“Meski air sudah surut, aktivitas produksi tidak bisa langsung berjalan. Padi yang terendam sudah rusak,” ujarnya kepada mahasiswa KKN.

Selain menghentikan operasional selama hampir satu pekan, banjir juga mengganggu rantai pasok dan distribusi beras ke pasar lokal. Padahal, permintaan beras biasanya meningkat signifikan menjelang bulan Ramadan, periode yang selama ini menjadi puncak penjualan bagi kilang tersebut.

Melalui kegiatan KKN-PPM, mahasiswa Kelompok 67 Universitas Malikussaleh berharap kejadian ini menjadi perhatian bersama, khususnya pemerintah dan pemangku kepentingan, dalam memperkuat mitigasi bencana serta perlindungan usaha masyarakat di wilayah rawan banjir.

Kilang Padi Doa Ibu menjadi bukti nyata bahwa bencana alam tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga mengancam keberlangsungan ekonomi rakyat kecil.(**)
Bagikan:
KOMENTAR