‎ ‎
‎ ‎

Nasib Sekolah dan Pesantren Pasca Bencana


author photo

24 Jan 2026 - 11.40 WIB



Penulis : Lia Julianti (Aktivis Dakwah Tamansari Bogor)

Bencana yang terjadi di Aceh dan Sumatera kembali menyisakan luka mendalam, bukan hanya pada infrastruktur dan ekonomi masyarakat, tetapi juga pada dunia pendidikan. Sekolah dan pesantren sebagai pusat pembinaan generasi ikut terdampak parah. Di tengah upaya pemulihan yang berjalan lambat, nasib pendidikan anak-anak korban bencana masih berada dalam ketidakpastian.


Meski sejumlah sekolah di wilayah Sumatra yang terdampak bencana mulai aktif kembali, kondisi di Aceh Utara masih memprihatinkan. Ratusan sekolah dilaporkan masih berlumpur dan belum bisa digunakan secara normal untuk kegiatan belajar-mengajar. Sarana belajar rusak, ruang kelas tidak layak pakai, dan aktivitas pendidikan berjalan dalam keterbatasan.

Kepala Dinas Pendidikan Dayah Kabupaten Aceh Timur Saiful Nahar mengatakan berdasarkan hasil pendataan sementara tercatat sebanyak 120 unit pesantren atau dayah rusak akibat banjir. (CNN Indonesia.com, 16/01/2026). Padahal, pesantren dan balai pengajian bukan sekadar tempat belajar, melainkan pusat pembinaan akidah, akhlak, dan kepribadian Islam generasi muda. Kerusakan ini berarti terhentinya proses pembinaan ruhiyah dan intelektual ribuan santri.

Pemulihan ratusan fasilitas pendidikan yang rusak akibat bencana sejatinya merupakan tanggung jawab negara. Beban ini tidak boleh dialihkan kepada masyarakat, apalagi kepada korban bencana yang secara ekonomi dan psikologis sudah sangat terpukul. Negara wajib hadir secara nyata, cepat, dan menyeluruh dalam membangun kembali sekolah dan pesantren yang rusak.

Nasib pendidikan anak-anak di wilayah terdampak juga harus dijamin oleh negara. Jaminan ini tidak cukup sebatas perbaikan gedung dan penyediaan sarana fisik. Anak-anak korban bencana membutuhkan pemulihan mental (recovery psikologis), rasa aman, serta pembinaan kepribadian Islam yang kokoh agar mereka mampu bangkit dan melanjutkan hidup dengan optimisme.

Di sisi lain, peran lembaga pendidikan dan pesantren sangat vital untuk menanamkan akidah yang kuat serta menyadarkan peran manusia sebagai khalifah di muka bumi. Pendidikan Islam bukan hanya mentransfer ilmu, tetapi juga membentuk kesadaran tanggung jawab manusia dalam mengelola alam, menjaga keseimbangan, dan mengambil pelajaran dari musibah sebagai ujian sekaligus peringatan.

Islam mewajibkan negara untuk menjamin pendidikan gratis bagi seluruh warga negara. Dalam kondisi bencana, kewajiban ini semakin kuat. Negara harus memastikan bahwa tidak ada satu pun anak yang kehilangan hak pendidikannya karena sekolah rusak atau keluarga terdampak bencana.

Sistem pendidikan Islam berbasis akidah Islam dan bertujuan membentuk siswa berkepribadian Islam. Karena itu, pemulihan sekolah dan pesantren harus menjadi perhatian utama negara. Proses pendidikan tidak boleh tertunda terlalu lama, sebab keterlambatan ini akan berdampak panjang pada kualitas generasi. Negara, sekolah, dan pesantren harus bersinergi agar kegiatan belajar dapat segera berjalan normal kembali.

Peran utama muslim adalah menjadi khalifah di bumi, yaitu mengelola sumber daya alam untuk kesejahteraan dan kebaikan bagi kehidupan manusia, bukan merusaknya. Musibah yang terjadi semestinya menjadi momentum evaluasi terhadap cara manusia memperlakukan alam. Pendidikan Islam harus menanamkan kesadaran ekologis yang berbasis iman dan tanggung jawab syar’i.

Selain itu, membangun kesadaran umat agar terlibat aktif dalam melahirkan generasi khairu ummah juga menjadi agenda penting. Umat perlu didorong untuk berkontribusi dalam pemulihan pendidikan, sekaligus menyiapkan generasi yang siap menegakkan syariat Islam dan membawa perbaikan hakiki bagi kehidupan manusia.

Nasib sekolah dan pesantren pasca bencana adalah cermin sejauh mana negara dan umat memandang pentingnya pendidikan generasi. Fakta menunjukkan masih banyak fasilitas pendidikan yang belum pulih, sementara anak-anak membutuhkan kepastian masa depan. Islam memberikan arah yang jelas yaitu negara wajib menjamin pendidikan, memulihkan sarana belajar, dan membentuk generasi berkepribadian Islam. Tanpa langkah serius dan sistemik, bencana tidak hanya merusak bangunan, tetapi juga mengancam masa depan peradaban. Wallahu 'alam.
Bagikan:
KOMENTAR