CFD Banda Aceh Jadi Pusat Edukasi Kanker Serviks, PAOGI FK USK dan AMSA-USK Gaungkan Deteksi Dini di World Cancer Day 2026


author photo

11 Feb 2026 - 20.14 WIB



Banda Aceh, 8 Februari 2026 – Kawasan Car Free Day (CFD) Kota Banda Aceh, Minggu (8/2), berubah menjadi ruang edukasi kesehatan perempuan. Perhimpunan Anggota Muda Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (PAOGI FK USK) bersama Asian Medical Students’ Association (AMSA) Universitas Syiah Kuala menggelar Bakti Sosial World Cancer Day (WCD) 2026 dengan fokus pada deteksi dini dan pencegahan kanker serviks.

Sebanyak 58 peserta mengikuti rangkaian kegiatan yang dikemas secara edukatif dan partisipatif. Kegiatan diawali dengan senam pagi sehat, dilanjutkan talkshow bertema “Deteksi Dini dan Pencegahan Kanker Serviks”, pemeriksaan kesehatan dasar gratis meliputi tanda-tanda vital (TTV) dan gula darah sewaktu (GCU), konsultasi langsung dengan tenaga medis, serta pembagian doorprize.

Pemilihan CFD sebagai lokasi kegiatan dinilai strategis untuk menjangkau masyarakat secara luas dan inklusif. Tidak hanya perempuan, masyarakat umum yang hadir turut diajak memahami bahwa pencegahan kanker, khususnya kanker serviks, merupakan tanggung jawab bersama dan perlu dimulai sejak dini.

Kegiatan ini melibatkan tim medis dari Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran USK. Talkshow menghadirkan Dr. dr. Sarah Ika Nainggolan, Sp.OG., Subsp.Onk dan dr. Munizar, Sp.OG., Subsp.Onk sebagai narasumber utama. Layanan pemeriksaan dan konsultasi turut didukung sejumlah dokter, di antaranya dr. Fitria Aini, dr. Muhammad Riza Qadafi, dr. Zhafira Salsabila Zahruddin, dr. Evi Pratiwi, dr. Mika Nurdiana, dr. Dayank Ramadhany, dr. Lasauva Yardha, dr. Norman Ahmad Riyandi, dr. Putri Khamsari, dr. Nadiatul Hasanah, dan dr. Cindy Swara Pasca.

Kanker serviks masih menjadi tantangan besar dalam kesehatan perempuan di Indonesia. Berdasarkan data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) dan laporan Kementerian Kesehatan RI, kanker serviks menempati urutan kedua sebagai kanker terbanyak pada perempuan. Sebagian besar kasus baru terdeteksi pada stadium lanjut, mencerminkan masih rendahnya kesadaran terhadap skrining dan pemeriksaan kesehatan reproduksi secara rutin.

Dr. dr. Sarah Ika Nainggolan menegaskan bahwa kanker serviks merupakan penyakit yang dapat dicegah dan dideteksi lebih awal melalui skrining yang tepat. “Dengan pemeriksaan rutin, peluang menemukan kanker pada stadium awal jauh lebih besar sehingga angka kesembuhan meningkat,” ujarnya.

Sementara itu, dr. Munizar menekankan pentingnya edukasi berkelanjutan kepada masyarakat. Menurutnya, masih banyak perempuan yang belum memahami faktor risiko maupun gejala awal kanker serviks sehingga kerap datang berobat dalam kondisi lanjut.

Antusiasme peserta terlihat selama sesi diskusi. Sejumlah pertanyaan diajukan terkait kesehatan reproduksi, pola hidup sehat, hingga langkah preventif yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui kegiatan ini, PAOGI FK USK dan AMSA-USK berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini kanker serviks semakin meningkat. Ke depan, kegiatan serupa direncanakan berlangsung secara berkelanjutan guna memperluas akses edukasi dan layanan kesehatan reproduksi yang aman, terjangkau, dan berkualitas bagi masyarakat.
Bagikan:
KOMENTAR