Oleh : Hikmah Abdul Rahim, S.Pd.
(Aktivis Dakwah)
Penderitaan Palestina bukanlah tragedi kemanusiaan biasa, bukan pula sekadar konflik berkepanjangan antar dua pihak yang setara. Ia adalah potret telanjang dari penjajahan modern yang dilindungi sistem global, sekaligus bukti nyata bagaimana dunia internasional gagal atau sengaja gagal menegakkan keadilan. Selama puluhan tahun, rakyat Palestina hidup di bawah bayang-bayang pembunuhan, pengusiran, perampasan tanah, dan penghancuran masa depan, sementara dunia hanya sibuk mengeluarkan pernyataan keprihatinan.
Di tengah klaim dunia modern tentang demokrasi, hak asasi manusia, dan kemanusiaan universal, Palestina justru menjadi ladang uji coba kekerasan paling brutal. Anak-anak dibunuh, rumah-rumah diratakan, rumah sakit diserang, dan bantuan kemanusiaan diblokade. Namun hingga hari ini, pelaku kejahatan itu tetap bebas, bahkan dilindungi oleh kekuatan besar dunia. Maka pertanyaan mendasar yang harus dijawab dengan jujur adalah: kapan penderitaan Palestina akan benar-benar berakhir?
Agresi Israel terus menewaskan puluhan ribu rakyat Palestina
Agresi militer Israel di Jalur Gaza telah menewaskan sedikitnya 71.269 warga Palestina, dengan ratusan ribu lainnya mengalami luka-luka. Mayoritas korban adalah warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak. Angka ini tidak hanya menunjukkan skala kekerasan yang luar biasa, tetapi juga menegaskan bahwa agresi Israel bukan tindakan defensif, melainkan operasi militer sistematis yang menargetkan kehidupan rakyat sipil. (ANTARANews).
Israel melarang 37 organisasi kemanusiaan beroperasi di Palestina
Di tengah krisis kemanusiaan yang akut, Israel justru melarang 37 organisasi kemanusiaan internasional beroperasi di wilayah Palestina. Padahal, organisasi-organisasi tersebut selama ini menjadi tumpuan rakyat Gaza dalam mendapatkan layanan kesehatan, bantuan pangan, air bersih, serta perlindungan dasar. Kebijakan ini menunjukkan bahwa penderitaan Palestina bukan sekadar dampak perang, tetapi sengaja dipelihara melalui keputusan politik yang menutup akses kehidupan. (ANTARANews).
Akar Kezaliman: Mengapa Penderitaan Palestina Terus Berlangsung
Penderitaan rakyat Palestina niscaya akan terus berlangsung selama negara Israel tetap eksis, baik diakui maupun tidak oleh dunia internasional. Israel berdiri di atas penjajahan, perampasan tanah, dan pengusiran penduduk asli. Oleh karena itu, mustahil mengharapkan keadilan dari entitas yang sejak lahir dibangun di atas kezaliman.
Ambisi mendirikan Israel Raya menjadi motor utama berbagai agresi, ekspansi permukiman ilegal, dan pelanggaran gencatan senjata. Semua ini dilakukan secara konsisten dan sistematis dengan dukungan penuh kekuatan besar dunia, terutama Amerika Serikat, yang menjadikan Israel sebagai alat kepentingan geopolitik dan ekonomi.
Membiarkan Israel tetap eksis sama artinya dengan membiarkan penderitaan Palestina berlangsung tanpa batas. Setiap kompromi yang mengakui Israel tanpa mencabut akar penjajahannya sejatinya adalah kompromi atas darah rakyat Palestina. Dunia internasional yang terus membiarkan Israel bertindak tanpa sanksi nyata berarti ikut melanggengkan kezaliman.
Sementara itu, berbagai tawaran penyelesaian konflik yang dipimpin Amerika Serikat terbukti hanya ilusi diplomatik. Gencatan senjata rapuh, solusi dua negara yang timpang, serta diplomasi penuh tekanan justru menempatkan Palestina pada posisi yang semakin lemah dan terjajah.
Adapun bantuan kemanusiaan, meskipun penting secara moral, tidak pernah menyentuh akar persoalan. Selama struktur penjajahan tetap berdiri, bantuan hanya menjadi penyangga sementara bagi penderitaan yang terus direproduksi.
Jalan Pembebasan: Tanggung Jawab Politik dan Ideologis Umat
Salah satu sebab utama penderitaan Palestina terus berlanjut adalah sikap penguasa negeri-negeri Muslim yang tunduk pada tekanan Barat. Normalisasi hubungan dengan Israel, sikap diam terhadap pembantaian, serta ketergantungan pada kekuatan asing merupakan bentuk pengkhianatan nyata terhadap Palestina dan umat Islam secara keseluruhan.
Umat Islam harus diyakinkan bahwa penderitaan Palestina tidak akan berakhir melalui resolusi PBB, kecaman internasional, atau mediasi kapitalistik. Kesadaran kolektif umat untuk bangkit dan bersatu dalam satu kepemimpinan politik Islam adalah keniscayaan sejarah.
Penderitaan Palestina hanya akan berakhir jika ada negara adidaya Khilafah yang berfungsi sebagai junnah (perisai). Khilafah bukan romantisme sejarah, melainkan institusi politik yang mampu menyatukan kekuatan umat militer, ekonomi, dan diplomasi untuk menghentikan penjajahan dan melindungi kaum tertindas.
Palestina bukan isu lokal atau nasionalistik semata. Ia adalah tanah yang memiliki kedudukan akidah dan sejarah bagi seluruh umat Islam. Karena itu, pembebasan Palestina adalah tanggung jawab kolektif umat, bukan beban rakyat Palestina semata.
Palestina dan Panggilan Sejarah Umat Islam
Penderitaan Palestina adalah cermin besar yang dihadapkan kepada umat Islam dan dunia. Ia menguji kejujuran moral, keberanian politik, dan kesungguhan dalam membela keadilan. Dunia hari ini terbukti lebih setia pada kepentingan kekuasaan daripada pada nilai kemanusiaan yang mereka agungkan.
Selama Israel tetap dibiarkan eksis sebagai entitas penjajah yang kebal hukum, penderitaan Palestina tidak akan pernah berakhir. Gencatan senjata akan terus menjadi ilusi, bantuan kemanusiaan akan terus diblokade, dan resolusi internasional akan terus menjadi dokumen tanpa daya paksa.
Palestina juga membongkar kepalsuan tatanan dunia hari ini. tatanan yang lantang berbicara tentang hak asasi manusia, tetapi membisu ketika kejahatan dilakukan oleh sekutunya sendiri. Sejarah telah membuktikan bahwa penjajahan tidak pernah runtuh oleh simpati, melainkan oleh kekuatan yang terorganisir dan berdaulat.
Bagi umat Islam, Palestina bukan sekadar isu solidaritas, melainkan amanah akidah dan tanggung jawab sejarah. Umat tanpa junnah akan selalu menjadi korban. Karena itu, penderitaan Palestina tidak akan selesai dengan air mata dan kecaman, tetapi dengan perubahan mendasar pada kepemimpinan dan arah perjuangan umat.
Palestina tidak membutuhkan belas kasihan dunia, tetapi pembebasan sejati.
Dan pembebasan sejati hanya akan lahir dari umat yang sadar, bersatu, dan berani mengambil peran sejarahnya.
Islam Sebagai Jalan Pembebasan Palestina
Islam tidak pernah membiarkan kezaliman dibiarkan tanpa solusi. Berbeda dengan sistem dunia hari ini yang hanya melahirkan kecaman tanpa daya paksa, Islam menawarkan solusi yang bersifat mendasar, struktural, dan aplikatif untuk mengakhiri penjajahan Palestina.
Pertama, penyatuan umat Islam dalam satu kepemimpinan politik yang sah. Islam memandang umat sebagai satu tubuh (ummah wahidah), bukan kumpulan negara-bangsa yang tercerai-berai. Selama umat Islam terpecah ke dalam puluhan negara dengan kepentingan masing-masing, Palestina akan selalu menjadi korban politik global. Persatuan umat di bawah satu kepemimpinan akan mengakhiri ketergantungan pada kekuatan asing dan mengembalikan kedaulatan umat dalam menentukan sikap terhadap penjajah.
Kedua, keberadaan negara Islam (Khilafah) sebagai junnah (perisai). Dalam Islam, negara bukan sekadar administrator, tetapi pelindung akidah, darah, dan kehormatan umat. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya imam (khalifah) itu adalah junnah (perisai), tempat orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.” (HR. Muslim).
Dengan kekuatan militer, politik, dan diplomasi yang terpusat, Khilafah mampu menghentikan agresi, memutus blokade, dan memberikan sanksi nyata kepada penjajah, bukan sekadar kecaman simbolik.
Ketiga, penerapan politik luar negeri Islam yang tegas terhadap penjajahan. Islam tidak mengenal normalisasi dengan penjajah yang menumpahkan darah kaum Muslim. Setiap bentuk pengakuan terhadap entitas penjajah atas tanah kaum Muslim adalah keharaman syar’i. Politik luar negeri Islam berdiri di atas prinsip menjaga kehormatan umat dan menolak dominasi kafir atas kaum Muslim, sebagaimana firman Allah:
“Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan bagi orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang beriman.” (QS. An-Nisa: 141).
Keempat, mobilisasi kekuatan umat secara menyeluruh. Islam memerintahkan negara untuk mengerahkan seluruh potensi militer, ekonomi, media, dan diplomasi. demi membela kaum tertindas. Boikot ekonomi, tekanan politik, dan dukungan nyata bukan diserahkan pada inisiatif individu semata, tetapi menjadi kebijakan resmi negara.
Kelima, pembangunan kesadaran ideologis umat. Umat Islam harus disadarkan bahwa Palestina bukan isu kemanusiaan netral, melainkan persoalan akidah dan penjajahan atas tanah kaum Muslim. Tanpa kesadaran ini, perjuangan akan terus direduksi menjadi aksi emosional sesaat yang mudah dipadamkan oleh propaganda dan tekanan politik global.
Dengan demikian, Islam tidak hanya menangisi Palestina, tetapi menyediakan jalan pembebasan yang jelas. Selama solusi Islam ini diabaikan dan umat terus berharap pada sistem dunia yang zalim, penderitaan Palestina akan terus berulang dengan wajah yang berbeda.
Islam tidak menjanjikan pembebasan instan, tetapi menjamin keadilan sejati ketika syariat diterapkan dan umat mengambil peran sejarahnya secara utuh.
Wallahu a‘lam bish-shawab