Oleh : Milda, S.Pd
(Aktivis Muslimah)
Distribusi Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Bontang tetap berjalan selama bulan Ramadan. Namun, skema penyaluran diubah dari makanan basah menjadi paket makanan kering. Kepala SPPG wilayah Berbas Pantai, David Diva Wijaya, mengatakan selama Ramadan MBG tetap dibagikan kepada siswa. Perbedaannya, menu yang diberikan berupa susu, buah, dan roti yang dikemas dalam totebag. “Tetap kita bagi, tapi nanti bukan makanan basah, makanan kering nanti pakai totebag, jadi anak-anak setiap mau ambil makanan, totebagnya dibawa lagi,” ujarnya kepada awak media, Jumat (13/2/2026).
Ia menjelaskan, penyaluran MBG tetap dilakukan pada hari efektif sekolah atau bukan hari libur nasional. Waktu distribusi disesuaikan dengan permintaan masing-masing sekolah. https://www.kitamudamedia.com/2026/02/13/distribusi-mbg-di-bontang-tetap-jalan-selama-ramadan-menu-diganti-makanan-kering/
MBG tetap berjalan meski bulan Ramadhan terkesan dipaksakan. Mengingat MBG merupakan ladang bisnis yang mendatangkan cuan sehingga dalam sistem kapitalisme tidak heran jika bulan ramadhan pun MBG tetap berjalan. MBG yang katanya di anggap dapat mencegah stunting, mendapatkan makanan bergizi, dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat.
Namun di balik itu faktanya banyak kasus keracunan yang dialami siswa di berbagai wilayah. MBG merupakan janji politik dan dianggap bagian dari kepedulian penguasa terhadap rakyat. Padahal berbagai bencana melanda sebagian wilayah Indonesia. Namun seolah bukan menjadi prioritas utama untuk membantu korban yang terdampak. Kebutuhan mendesak untuk para korban harus segera ditangani. Tetapi anggaran yang seharusnya untuk para korban bencana, justru sebagian besar anggaran berfokus pada MBG. Jika diamati banyaknya polemik di tengah-tengah masyarakat terkait MBG, seharusnya dihentikan saja, mengingat masih banyak kebutuhan mendesak yang harus dibenahi mulai dari pendidikan, kesehatan, kemiskinan, hingga tinggkat pengangguran yang tinggi yang mesti masuk dalam daftar prioritas dalam menyejahterakan rakyat.
Problem yang hari ini terjadi tidak terlepas dari paradigma kapitalisme sebagai akar persoalan yang menjadikan peluang bagi para korporasi mengambil alih peran penguasa dalam mengurusi masyarakat.
Berbeda jauh dengan sistem Islam yang akan menciptakan manusia unggul melalui pendidikan dan kesehatan sehingga masalah kesehatan seperti stunting bisa ditangani melalui program kinerja negara yang berkualitas dan penuh tanggungjawab. Semua kebutuhan umat akan terjamin oleh peran penguasa dalam Islam. Mulai dari pembiayaan, pemenuhan, sistem kerja dan lain sebagainya. Sebagai bentuk tanggung jawab terhadap kepemimpinannya.
Allah Taala berfirman, “Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.” (QS An-Nisa’: 9).
Segala kebutuhan vital umat, negara tidak akan memberikan jalan bagi para korporasi ikut andil dalam memenuhinya. Sebagaimana yang terjadi dalam sistem kapitalisme.
Dalam sistem kepemimpinan Islam, penguasa hadir ra'in (pengurus) yang memberikan solusi atas segala problem yang ada. Salah satunya adalah pemenuhan pangan dan gizi masyarakat. Hingga menjadikan rakyat tidak kekurangan nutrisi. Dalam sistem Islam segala bentuk problem dalam memenuhi kebutuhan pokok menjadi prioritas utama.
Dengan penerapan sistem Islam secara komprehensif akan menghentikan pabrik yang dianggap tidak memenuhi standar dalam kebutuhan pangan dan gizi bagi masyarakat. Islam menjadikan pangan dan gizi kebutuhan vital sehingga harus menjamin pemenuhan dan keamanan saat di konsumsi masyarakat.
Selain itu sistem Islam membuat program kerja yang bertujuan untuk mewujudkan kemashalatan umat yang tidak hanya berfokus pada pangan dan gizi, tetapi yang dapat menunjang kebutuhan umat melalui kinerja penguasa seperti diciptakannya lapangan kerja bagi laki-laki dan para suami sehingga nafkah mereka membantu memenuhi gizi keluarganya dan ini sekaligus bentuk tanggungjawab penguasa dengan kebijakan yang berdasarkan iman dan takwa. "Apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu tetapkan secara adil." (QS. An-Nisa: 58).
Alhasil kehidupan rakyat termasuk anak senantiasa dinaungi keberkahan dan kesejahteraan dalam bingkai sistem Islam kaffah. Wallahu Alam Bishawab.