‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎

Pendidikan Tak Lagi Utama, Putus sekolah jadi Hal Biasa


author photo

15 Mar 2026 - 14.01 WIB




Penulis: Alin Lizia Anggraeni, SE
( Muslimah Perduli Umat)

Anak putus sekolah di Indonesia masih menjadi masalah serius, dengan total mencapai 3,9 juta anak pada tahun 2025. Hal yang serius dan merupakan tragedi nasional yang tidak boleh dibiarkan terus berlanjut. Permasalahan putus sekolah bukan hanya terjadi karena kehilangan minat ataupun kebutuhan mencari nafkah saja. Tetapi ada faktor lain yang merupakan pemicu utamanya, yaitu faktor ekonomi, pernikahan dini, dan akses pendidikan yang terbatas. 

Di Kota Balikpapan, Data tahun 2025 menunjukkan angka anak putus sekolah (APS) di Kota Minyak masih menyentuh angka sekitar 1.000 siswa. Kondisi ini memicu Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Balikpapan untuk melakukan audit lapangan secara besar-besaran melalui penelusuran data by name by address. Padahal Pemerintah Kota Balikpapan sudah menerapkan sekolah negeri gratis. 

Akan tetapi tidak bisa dihindari kemampuan masyarakat dalam pembiayaan pendidikan masih rendah. padahal Anggaran pendidikan mencapai 20%,dalam APBN 2026 ditetapkan sebesar Rp757,8 triliun hingga Rp769,08 triliun, memenuhi amanat 20% dari total belanja negara, dengan pengurangan sepertiga (sekitar 223,5T) untuk program MBG. Akan tetapi dalam sistem kapitalis Dana sering bocor dan dikorupsi. Sehingga sulit mewujudkan pendidikan yang berkualitas. 

Di sistem sekuler kapitalis saat ini, Pendidikan di kapitalisasi sehingga tidak heran masyarakat menganggap hanya orang berduit saja yang bisa sekolah. Jelas dalam sistem ini tidak semua kalangan bisa mengakses pendidikan secara merata. Kapitalisasi pendidikan akan menyebabkan kesenjangan akses pendidikan. Biaya pendidikan yang terus meningkat dapat menjadi hambatan bagi individu atau kelompok masyarakat yang memiliki keterbatasan finansial. Hal tersebut dapat menyebabkan terbatasnya akses terhadap pendidikan berkualitas


Dalam konteks kapitalisasi pendidikan, pendidikan dianggap sebagai komoditas yang dapat diperdagangkan. Hal tersebut membuat orientasi pendidikan yang berfokus kepada keuntungan, bukan pemenuhan kebutuhan masyarakat. Lembaga pendidikan lebih cenderung menyediakan program-program yang dianggap "populer" atau menguntungkan secara finansial, daripada program-program yang lebih penting untuk kesadaran, pengembangan intelektualitas yang memiliki dampak pada perkembangan sosial dan ekonomi masyarakat.

Realita Hari ini kemiskinan yang terjadi adalah kemiskinan struktural. Faktanya sekarang marak PHK dan susahnya lapangan pekerjaan. Semua adalah dampak penerapan sistem kapitalisme, yang menempatkan negara hanya sebagai regulator oligarki. Negara tidak lagi menjadi pengurus rakyat baik dalam menyediakan layanan pendidikan atau menjamin kesejahtraan rakyat


Berbeda halnya dengan sistem islam, Islam memandang pendidikan merupakan hajat hid up orang banyak, yang wajib di fasilitasi Dan dijamin oleh negara. Pendidikan diberikan Kepada seluruh rakyat Tanpa memandang status sosial nya miskin ataupun kaya, semua memiliki hak yang sama. Begitu pula dengan kualitas pendidikan, adil dan merata, bail di Kota maupun di desa. Sehingga tiap individu bisa mengenyam pendidikan setinggi mungkin, Tanpa harus memikirkan biaya.


Pada masa Bani Umayah pendidikan berkembang pesat dengan lahirnya beberapa disiplin ilmu, seperti tafsir, hadist, fiqih dan filsafat. Didukung oleh pembangunan lembaga pendidikan Serta dukungan Pemerintah. Pendidikan islam di era ini menjadi pondasi kokoh bagi peradaban islam yang gemilang di masa depan. 


Pada masa kepemimpinan kholifah Harun Al Rasyid, upah tahunan untuk penghafal Al- Quran, penuntut ilmu dan pendidik umum mencapai 2000 dinar ( setara 6 Milyar) sementara guru hadist dan ahli fiqih mendapatkan dua Kali lipatnya, yaitu 4000 dinar. 


Maka wajarlah dalam kejayaan islam banyak mencetak generasi emas yang mumpuni di berbagai bidang keilmuan. Yang banyak berjasa pada peradaban dunia hingga Hari ini. Sudah jelas hanya islam satu- satunya yang mampu menyelesaikan persoalan kehidupan manusia, termasuk pendidikan. Dengan diterapkannya islam akan melahirkan generasi - generasi emas yang akan bertumbuh membangun peradaban islam yang gemilang.
Bagikan:
KOMENTAR