Di tengah perkembangan zaman yang makin cepat, peran orang tua dalam mendidik anak kembali jadi perhatian banyak pihak. Apalagi sekarang anak-anak tumbuh di era digital yang penuh tantangan, mulai dari pengaruh gadget sampai lingkungan sosial yang makin kompleks.
Banyak orang tua tanpa sadar lebih fokus pada kebutuhan materi anak, tapi lupa bahwa pembentukan karakter justru dimulai dari rumah. Padahal, keluarga adalah “sekolah pertama” bagi anak sebelum mereka mengenal dunia luar.
Seorang pakar parenting, Diana Baumrind, menjelaskan bahwa pola asuh orang tua sangat berpengaruh terhadap perkembangan kepribadian anak. Ia menekankan bahwa pola asuh yang seimbang tegas tetapi tetap hangat akan membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab.
Hal ini juga sejalan dengan pendapat Daniel Goleman yang menyebutkan bahwa kecerdasan emosi anak banyak dibentuk dari interaksi sehari-hari dengan orang tua. Anak tidak hanya belajar dari apa yang diajarkan, tetapi juga dari apa yang ia lihat dan rasakan di lingkungan keluarga.
*Pentingnya Keterlibatan Emosional Orang Tua*
Dalam berbagai kajian ilmiah, keterlibatan emosional orang tua menjadi salah satu faktor utama dalam tumbuh kembang anak. Menurut John Bowlby, hubungan emosional yang hangat antara orang tua dan anak (attachment) sangat berpengaruh terhadap rasa aman dan perkembangan kepribadian anak. Anak yang mendapatkan perhatian dan kedekatan emosional cenderung lebih percaya diri serta mampu menjalin hubungan sosial yang sehat.
Pendapat ini diperkuat kembali oleh Diana Baumrind yang menyatakan bahwa pola asuh yang responsif dan penuh perhatian, bukan sekadar memenuhi kebutuhan fisik, akan membantu perkembangan emosi dan perilaku anak secara optimal. Oleh karena itu, orang tua tidak cukup hanya memberikan fasilitas, tetapi juga perlu hadir secara emosional dalam kehidupan anak.
*Yuk, Mulai Parenting yang Lebih Sadar!*
Supaya tidak salah langkah, ada beberapa tips sederhana yang bisa mulai diterapkan orang tua di rumah:
*1. Luangkan waktu berkualitas*
Tidak harus lama, yang penting rutin. Misalnya ngobrol santai tanpa gangguan gadget.
*2. Jadi contoh yang baik*
Anak cenderung meniru. Kalau ingin anak punya sikap baik, orang tua juga harus memberi teladan.
*3. Gunakan komunikasi yang lembut*
Hindari bentakan. Jelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami anak.
*4. Batasi penggunaan gadget*
Bukan melarang, tapi mengarahkan dan mendampingi.
*5. Beri apresiasi, bukan hanya kritik*
Pujian sederhana bisa meningkatkan rasa percaya diri anak.
*Saatnya Orang Tua Lebih Peduli*
Melihat berbagai tantangan yang ada, edukasi parenting bukan lagi sekadar pilihan, tapi sudah menjadi kebutuhan. Orang tua perlu terus belajar agar tidak salah dalam mendidik anak.
Dengan pola asuh yang tepat, bukan hanya anak yang berkembang dengan baik, tetapi juga tercipta keluarga yang harmonis dan penuh kasih.
Jadi, yuk mulai sekarang lebih sadar dalam mengasuh anak. Karena masa depan mereka sebenarnya sedang dibentuk dari apa yang kita lakukan hari ini.
*Daftar Pustaka*
1. Baumrind, D. (1991). *The Influence of Parenting Style on Adolescent Competence and Substance Use*. Journal of Early Adolescence.
2. Bowlby, J. (1988). *A Secure Base: Parent-Child Attachment and Healthy Human Development*. New York: Basic Books.
3. Goleman, D. (1995). *Emotional Intelligence*. New York: Bantam Books.
4. Hurlock, E. B. (2006). *Psikologi Perkembangan*. Jakarta: Erlangga.
5. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (KPPPA). (2020). *Panduan Pengasuhan Anak*.