(Aktivis Muslimah)
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Balikpapan, Irfan Taufik, secara resmi membuka kegiatan Pesantren Ramadan SD se-Kota Balikpapan yang digelar di Asrama Haji Embarkasi Balikpapan, Selasa (3/3/2026). Kegiatan tersebut turut dihadiri Kasi PAI Kementerian Agama Kota Balikpapan, Kabid PSD Disdikbud Kota Balikpapan, serta Ketua K3S SD se-Kota Balikpapan.
Mengusung tema “Meneguhkan Iman, Menguatkan Akhlak, Menyiapkan Pelajar Qur’ani”, kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Disdikbud Kota Balikpapan dan KKG PAI SD se-Kota Balikpapan.
Dalam sambutannya, Irfan Taufik menegaskan bahwa Pesantren Ramadhan bukan sekadar agenda tahunan. “Kegiatan ini bukan hanya seremonial. Ini adalah momentum penting untuk membentuk karakter anak-anak kita sejak dini,” ujarnya. kaltimkita.com/detailpost/disdikbud-balikpapan-gelar-pesantren-ramadhan-irfan-taufik-momentum-bentuk-karakter-pelajar-qur-ani
Membekali pemahaman Islam tidak cukup hanya di bulan Ramadan, terlebih pemahaman Islam yang mesti diberikan kepada generasi adalah Islam secara utuh bukan hanya ritual dan karakter nilai-nilai Islam saja. Ramadan yang datang setiap tahun seharusnya mampu membawa perubahan dalam kehidupan umat muslim terutama dalam bidang spiritual dan terus mengevaluasi diri yang senantiasa terhubung dengan Allah SWT melalui ibadah.
Di bulan Ramadan tidak hanya dijadikan sebagai musim ibadah dimana kaum muslim berlomba-lomba melakukan kebaikan yang mendatangkan pahala. Tetapi ketika Ramadan berakhir seolah ibadah yang biasa dilakukan di bulan Ramadan tidak membekas pada diri. Ibadah seolah hanya sebagai rutinitas sementara saat bulan Ramadan. Dunia kembali menguasai diri kita. Yang menjadi tolak ukur keberhasilan seseorang adalah pasca Ramadan yang tidak hanya dijadikan moment ibadah tetapi berimbas dalam kehidupan sehari-hari yang justru makin meningkatkan ibadah spiritual.
Dalam sistem kapitalisme sekuler ibadah hanya sebatas rutinitas sementara saat bulan Ramadan sehingga tidak heran Ramadan berakhir semua aktivitas duniawi yang senantiasa dikejar tanpa melihat baik-buku suatu perbuatan kembali digeluti. Ini karena sistem kapitalisme sekuler tidak menjadikan agama sebagai benteng dalam mempertahankan akidah, terlihat hanya saat bulan Ramadan yang menjadikan rakyat berlomba-lomba meraih pahala.
Pesantren kilat yang diadakan di sekolah hanya membahas seputar ibadah mahdhah, belum sepenuhnya menjadikan agama sebagai aturan yang mengatur kehidupan manusia secara kaffah. Seperti sistem pergaulan khususnya bagi para pelajar yang notabene tidak sedikit merusak generasi khususnya perempuan. Tentu ilmu yang mengatur kehidupan jarang dibahas. Sehingga tidak heran jika generasi mengenal Islam sebagai agama ritual semata. Tanpa mengetahui Islam mengatur semua seperti sistem ekonomi, politik, pergaulan, kesehatan, hubungan dalam dan luar negeri. Juga ajaran Islam yang mengharuskan negara menjaga keimanan dan akidah umat.
Sistem kapitalisme membuka celah bagi rakyat maupun generasi bebas melakukan apa saja tanpa batas atas nama kebebasan berekspresi. Tentu hal tidak membawa dampak positif setelah melewati bulan suci Ramadan.
Islam sebagai agama yang komprehensif mengatur segala aspek kehidupan termasuk menjaga akidah umat yang membuat umat jadi memahami makna kehidupan yang hanya mencari ridho Allah SWT. Islam memiliki pandangan terkait keberhasilan yang sesuai standar syariat yang pada akhirnya Allah SWT memberikan predikat umat terbaik yang senantiasa bertakwa terus-menerus membenah diri. Termasuk menjaga akidah para generasi, membentuk pola pikir dan pola sikap Islam, serta memahami tugasnya sebagai umat terbaik yang menjaga bumi dari berbagai penyimpangan. Sehingga Allah SWT berfirman : "Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (selama) kamu menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Seandainya Ahlulkitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik." (QS. Al-Imran :110)
Sejatinya Islam tidak hanya mengajarkan ibadah ritual tetapi juga menghidupkan bumi dengan kalimat Allah SWT secara global dan berupaya menjadikan Islam sebagai jalan mendapat kebahagiaan. Sebagaimana yang katakan Syekh Taqiyuddin Al-Nabhani : "Bangkitnya manusia tergantung pada pemikirannya tentang hidup, alam semesta, dan manusia serta hubungan ketiganya dengan sesuatu yang ada sebelum kehidupan dunia dan yang sesudahnya"
Sehingga hal ini menjadikan umat muslim, terus berada pada jalan yang lurus. Sungguh hanya dengan negara yang menerapkan sistem Islam yang mampu menjaga akidah umat, karena ditopang berbagai edukasi baik melalui siaran maupun berbagai kegiatan sosial yang bermanfaat serta memilih mengikat ruh dengan Allah SWT. Berbeda dengan sistem kapitalisme sekuler yang menjadikan umat berlomba dalam meraih ibadah di saat bulan Ramadan saja, tetapi tidak berbekas sebagai makna Ramadan dalam kehidupan.
Wallahu Alam Bishawab .