‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎

Problem Campak Saat Hari Raya, Tuntaskan Dengan Islam


author photo

23 Mar 2026 - 19.53 WIB




Lisa Agustin 
Aktivis Muslimah 

Hari Raya Idul Fitri 1447 H tiba. Tradisi berkumpul merayakan hari raya bersama keluarga adalah momen yang begitu berharga. Namun sayangnya, wabah campak sedang membayangi negeri ini. Targetnya bukan hanya anak-anak, orang dewasa pun dapat merasakan dampaknya.

Di Provinsi Kalimantan Timur, Kota Balikpapan, kasus campak mengalami kenaikan di awal tahun 2026. Hingga Maret ini, Dinas Kesehatan Kota Balikpapan mencatat lebih dari 200 kasus yang telah menyebar di seluruh kelurahan.

Di Kabupaten Kurtai Kartanegara, ratusan kasus suspek Campak mulai terdeteksi. Hingga pekan ke-8 tahun 2026 atau akhir Februari lalu, Dinas Kesehatan Kukar mencatat sebanyak 105 kasus yang dilaporkan dari berbagai fasilitas pelayanan kesehatan disana.

Kepala DKK Balikpapan, Alwiati, mengungkapkan bahwa tingginya angka penularan pada orang dewasa ini diduga kuat akibat riwayat imunisasi yang tidak lengkap di masa kecil. Hal ini menyebabkan tubuh tidak memiliki perlindungan memadai saat virus mulai mewabah. (prokal.go, 12/03/2026)

Waspada KLB Campak 

Situasi campak di Indonesia sedang berada dalam alarm kewaspadaan tinggi. Berdasarkan data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Indonesia saat ini menempati urutan kedua di dunia untuk Kejadian Luar Biasa (KLB) campak. Lonjakan kasus ini tercatat sangat signifikan sepanjang tahun 2025 hingga awal 2026.

Berdasarkan data nasional, sepanjang tahun 2025 tercatat 63.769 kasus suspek campak, dengan 11.094 kasus terkonfirmasi laboratorium dan 69 kematian (CFR 0,1 persen). Sementara pada tahun 2026 hingga Minggu ke-7, tercatat 8.224 kasus suspek campak, 572 kasus terkonfirmasi, dan 4 kematian (CFR 0,05 persen). Pada periode tersebut, terjadi 21 KLB suspek campak dan 13 KLB campak terkonfirmasi laboratorium yang tersebar di 17 kabupaten/kota pada 11 provinsi. (kemkes.go.id, 26/02/2026)

Campak disebabkan oleh virus morbillivirus yang sangat mudah menular melalui udara, seperti percikan batuk atau bersin. Penyakit campak bahkan disebut lebih menyebar daripada Covid-19. Satu kasus campak memiliki potensi menularkan virus hingga ke 18 orang di sekitarnya.

Gejala campak muncul setelah masa inkubasi sekitar 10–12 hari. Pada tahap awal, gejala campak sering menyerupai flu, seperti demam tinggi, batuk, pilek, serta mata merah dan berair. Tanda khas lainnya ialah munculnya bercak koplik di dalam mulut sebelum ruam kulit berkembang. Ruam biasanya dimulai dari wajah dan belakang telinga, kemudian menyebar ke seluruh tubuh.

Kapitalisme Memperparah Wabah

Tingginya kasus suspek campak di Indonesia merupakan alarm sebagai dampak dari sistem kesehatan berbasis kapitalisme. Agenda transformasi kesehatan yang dicanangkan otoritas kesehatan global WHO selama beberapa dekade terakhir, justru membuat sistem kesehatan makin rapuh.

Kapitalisasi dan industrialisasi kesehatan merupakan konsekuensi logis dari penerapan kapitalisme. Dalam pandangan ideologi Kapitalisme kesehatan merupakan komoditas bisnis. Ini ditandai dengan harga pelayanan kesehatan publik yang tidak murah (mahal). Belum lagi persoalan kualitas pelayanan kesehatan yang memperparah penyakit, bahkan mengancam keselamatan nyawa pasien.

Di sisi lain, persoalan kesehatan merupakan persoalan hilir dari berbagai aspek di luar kesehatan. Sehingga ketika krisis multidimensi melanda peradaban kapitalisme sebagai akibat peradaban ini yang memaksa manusia beraktivitas di seputar nilai materi, maka jadilah ruang kehidupan diselimuti berbagai faktor pemicu kerusakan kesehatan. Termasuk kemunculan dan mewabahnya berbagai penyakit menular.

Pandangan Islam

Islam memandang bahwa kesehatan adalah kebutuhan asasi rakyat. Hadis Rasullullah Saw: 

“Barang siapa diantara kalian pada pagi hari berada dalam keadaan aman di lingkungannya, sehat jasadnya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan seluruh dunia telah dikumpulkan untuknya.” (HR At-Tirmidzi).

Pada saat yang sama, negara adalah pihak yang bertanggung jawab langsung sepenuhnya dalam pemenuhan pelayanan kesehatan. Rasulullah Saw bersabda,

“Ketahuilah, imam atau khalifah adalah raa’in (pengurus) dan ia bertanggung jawab atas urusan rakyatnya.”

Sistem kesehatan Islam sebagai bagian dari sistem kehidupan Islam, khususnya sistem ekonomi dan politik Islam, ketika dijiwai cara pandang ini, meniscayakan tegak di atas pilar-pilar yang kokoh. Mulai dari pembiayaan hingga sistem pendidikan yang menjamin tersedianya SDM kesehatan secara memadai, baik kualitas maupun jumlah.

Pada aspek lain, pola kehidupan masyarakat Islam yang unik meniscayakan aktivitas kehidupan individu terikat dengan aturan Islam dengan dorongan meraih rida Allah Swt. sebagai puncak kebahagiaan yang diupayakan secara sungguh-sungguh oleh setiap individu muslim, baik sebagai masyarakat umumnya maupun sebagai penguasa.

Hal ini tidak saja menjamin terpenuhinya kebutuhan fisik dan nonfisik setiap insan secara benar, tapi juga meniscayakan hadirnya nilai-nilai yang dibutuhkan manusia secara serasi. Bukan saja nilai spiritual dan moral, melainkan juga nilai materi dan kemanusiaan. Semua ini meniscayakan masyarakat memiliki sistem imun yang tangguh.

Prinsip Islam

Pada penanganan penyakit penular, termasuk Campak, Islam berprinsip pertama, harus dilakukan pemutusan rantai penularan secara cepat agar tidak bertambah jumlah yang tertular (zero transmission). Rasulullah ﷺ menegaskan,

“Jika kalian mendengar wabah tha‘un di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Dan jika wabah itu terjadi di negeri tempat kalian berada, maka janganlah kalian keluar darinya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Kedua, sentralisasi kekuasaan, menjadikan negara memiliki kewenangan memadai untuk membuat keputusan politik secara cepat, termasuk dalam hal pembiayaan sehingga tersedia dana yang memadai. Demikian juga dalam hal pemisahan kawasan wabah.

Ketiga, desentralisasi administrasi dan pemanfaatan berbagai teknologi terkini dengan mengacu pada tiga perkara: sederhana dalam aturan, cepat dalam pelaksanaan, dan dilakukan oleh individu yang kapabel.

Sejumlah prinsip ini meniscayakan aktivitas treasing dan testing menjadikan tidak ada kasus yang tidak terdeteksi, di samping setiap pengidap diobati sampai benar-benar sembuh dan tidak lagi berpotensi sebagai penular. Tidak hanya itu, penanganan persoalan sanitasi, asupan gizi, dan berbagai persoalan buruknya pemenuhan kebutuhan dasar yang akan melemahkan imunitas masyarakat, akan lebih mudah dan segera tertangani ketika dibutuhkan.

Sudah saatnya Islam kembali hadir menyolusi dan memimpin dunia, dalam hal ini membebaskan dunia dari ancaman krisis kesehatan yang berkepanjangan. Ini sehubungan dengan Islam sebagai satu satunya ideologi sahih yang menjadikan determinan sosial kesehatan Islam yang diterapkan oleh Khilafah yang mampu menyolusi krisis kesehatan hari ini. Wallahualam
Bagikan:
KOMENTAR