Sandiwara Gencatan Senjata dan Perdamaian ala Israel-AS


author photo

3 Mar 2026 - 21.01 WIB




Oleh: Yulia Ekawati, S.Pd., Gr.

Gencatan senjata, sudah berapa kali kita mendengar kata ini, katanya Israel sudah berdamai dengan palestina melalui gencatan senjata. Namun, kenapa dalam gencatan senjata yang telah disepakati, Israel tetap melakukan bombardir ke Gaza?, bukankah itu artinya Israel hanya mempermainkan kesepakatan gencatan senjata?, atau bahkan Israel sama sekali tidak ada niat untuk melakukan gencatan senjata, atau justru Israel memang hanya menginginkan penghapusan seluruh warga Gaza.

Israel melancarkan serangan udara ke sebuah bangunan di Jalur Gaza pada Jumat (6/2/2026). Bangunan yang terletak di dekat pemakaman di Zeitoun itu langsung rata dengan tanah akibat serangan rudal Israel. (Kompas/7/02/2026)

Tidak hanya itu, sebelumnya juga Israel melancarkan serangan udara dan tembakan tank di Jalur Gaza pada Rabu (4/2/2026).Serangan tersebut menewaskan sedikitnya 21 warga Palestina. Insiden ini menjadi kekerasan terbaru yang mengancam stabilitas gencatan senjata di wilayah kantong Palestina tersebut.Otoritas kesehatan setempat mengonfirmasi bahwa dari total korban jiwa, enam di antaranya adalah anak-anak.(Kompas/5/02/2026)

Dari sumber lain mengatakan, Meski menyetujui gencatan senjata dan bergabung dalam Board of Peace, namun pada kenyataannya Israel masih melakukan serangan ke Gaza, Palestina. Serangan udara Israel menghantam sebuah kamp di kawasan Khan Younis, Gaza. Dilaporkan sedikitnya 21 orang tewas, termasuk enam anak dan seorang bayi berusia 5 bulan. (CNN INDONESIA/5/02/2025)

Israel sudah berkali kali melanggar inisiasi genjatan senjata yang katanya demi perdamaian Gaza, lantas masihkah kita berharap pada genjatan senjata yang nyata nyatanya tipu tipu ini?

Terbarunya lagi, AS telah membentuk sebuah Dewan perdamaian yang dikenal dengan BoP (Board of Peace) yang digadang gadang akan menjadi wajah baru Palestina dengan pembangunan ulang. Namun apakah kita tidak tahu bahwa pemasok senjata terbesar ke Israel yang digunakan untuk meluluhlantakkan wilayah Palestina adalah dari AS. Lalu tiba tiba mereka membuat sebuah dewan perdamain, ini jelas hanyalah pembohongan publik yang mengatas namakan perdamaian, yang sebenarnya hanyalah untuk melanggengkan bentuk penjajahan mereka.

Mirisnya lagi pemimpin negeri negeri muslim bergabung dalam Dewan perdamaian ini tak terlecuali Indonesia. Namun BoP yang katanya untuk Palestina ini justru tidak mengandeng palestina sebagai anggotanya. Bukankah dapat dilihat dengan jelas bahwa ini bukan demi perdamaian Palestina melainkan untuk keuntungan Zionis dan antek anteknya. Namun mengapa pemimpin negeri muslim begitu mudahnya bergabung dalam Dewan Perdamaian tipu tipu ini?.

Pemimpin muslim dan dunia terlalu naif mempercayai janji janji perdamaian ala As Israel padahal sudah terlihat jelas bahwa Dewan perdamaian itu bukan demi Palestina, namun negeri muslim takut karena AS merupakan negara adidaya yang terkuat sehingga untuk pengamankan Kawasan sendiri dan agar tidak meluasnya peperangan bergabungnya mereka ke dalam BoP ini.

Padahal kita muslim ini ada diseluruh penjuru dunia yang kalau digabungkan kita jauh lebih banyak dari mereka, kita punya backingan yang paling kuat Pencipta alam semesta, lantas mengapa takut dengan AS yang hanya bermodalkan kekuatan dunia. Seharusnya kita melawan dan percaya dengan Allah yang selalu melindungi kita kan?

Seharusnya kita tidak bermanis muka didepan AS dan Israel hanya demi keamanan, sikap umat harus tegas, zero toleran terhadap narasi gencatan senjata dan perdamaian yang digembor-gemborkan AS-Israel. Sudah jelas Allah SWT. berfirman dalam QS. Ali Imran 118:

"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil teman kepercayaan dari orang-orang di luar kalangan (agama)-mu (karena) mereka tidak henti-hentinya (mendatangkan) kemudaratan bagimu. Mereka menginginkan apa yang menyusahkanmu. Sungguh, telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang mereka sembunyikan dalam hati lebih besar. Sungguh, Kami telah menerangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu berpikir."

Bukakah firman Allah sudah jelas, melarang kita menjadikan orang-orang yang di luar kalangan, yaitu orang-orang yang tidak beriman atau beriman tidak secara benar seperti orang-orang munafik, sebagai teman kepercayaan, jadi seharusnya kita lebih percaya Allah dari pada penjajah yang jelas jelas ingin melanggengkan penjajahan mereka dengan janji janji manis yang ditawarkan.

Mana yang lebih kita percayai sejarusnya, firman Allah atau kata kata penjajah?

Lalu apa yang harus kita lakukan?, satu jawabannya BERSATU, Kesatuan umat dalam politik dan kepemimpinan sangat dibutuhkan untuk melawan hegemoni penjajah kafir. Kita ini ada puluhan bahkan sampai miliaran yang kalau bersatu bisa menghancurkan penjajah kafir.

Maka satu satunya jalan adalah memahamkan umat dan penguasa muslim untuk melakukan jihad dan mendorong penyatuan negeri negeri muslim di bawah naungan perisai islam.

Kesatuan politik umat menjadi kebutuhan mendesak. Rasulullah ﷺ bersabda,

 “Sesungguhnya imam (khalifah) itu adalah perisai; orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya” (HR. Muslim). 

Hadis tersebut menegaskan penting adanya kepemimpinan tunggal yang berfungsi melindungi umat dan menjadi perisai dari serangan musuh. Tanpa persatuan politik dan kepemimpinan yang kokoh, negeri-negeri Muslim akan terus terpecah dan mudah ditekan oleh pihak luar. Oleh karena itu, menyadarkan umat dan para pemimpin tentang kewajiban membela wilayah kaum Muslimin, termasuk melalui jihad dalam pengertian syar’i sebagai pembelaan terhadap agresi, merupakan hal yang mendesak.

Upaya mempersatukan negeri-negeri Muslim di bawah naungan sistem yang menerapkan Islam bukan sekadar nostalgia sejarah, melainkan sebuah tawaran sistemik untuk menghadirkan kekuatan politik yang mampu menghadapi hegemoni penjajah. Gaza hari ini menjadi cerminan luka umat. Setiap serangan bom yang terjadi di tengah klaim gencatan senjata menunjukkan bahwa perdamaian versi Israel–AS tak lebih dari sandiwara politik. Jika umat terus mempercayai skenario yang sama, maka tragedi serupa akan terus berulang.

Sudah waktunya umat berhenti menjadi penonton dalam panggung geopolitik yang menyengsarakan saudara-saudaranya sendiri. Perdamaian tidak akan lahir dari diplomasi semu, melainkan dari kekuatan, persatuan, dan keberanian menolak segala bentuk penjajahan.

Wallahu'alam bissawab.
Bagikan:
KOMENTAR