‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎

AS dan Israel Perangi Iran, Jangan Lupakan Masjid Al-Aqsa


author photo

2 Apr 2026 - 19.40 WIB



Nurhayati, S.H.

Untuk pertama kalinya sejak tahun 1967, entitas zionis yahudi menutup kompleks Masjid Al-Aqsa pada Maret 2026, termasuk selama Ramadan dan Idul Fitri, dengan alasan darurat keamanan akibat meningkatnya konflik di Timur Tengah, khususnya serangan balasan rudal dari Iran. Pembatasan ini mencakup larangan akses bagi jemaah Palestina untuk Shalat Idul Fitri, Tarawih, maupun Jumat, dan penerapan batasan usia yang ketat. 

Lebih dari 2,4 juta warga Palestina di Jalur Gaza merayakan hari raya Idul Fitri pada Jumat (20/3) di tengah krisis kemanusiaan yang parah. Kantor Media Pemerintah Gaza mencatat, pasukan Israel telah melakukan lebih dari 2.000 pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata sejak Oktober 2025. Pelanggaran itu berupa penembakan, serbuan darat, dan serangan udara yang telah menewaskan sedikitnya 677 warga Palestina dan melukai lebih dari 1.800 lainnya, sebagian besar warga sipil (minanews.net, 20/03/2026).

Harusnya idul fitri menjadi momen bahagia yang dirayakan bersama keluarga dengan berbagai hidangan pembuka. Tapi tidak bagi muslim di Palestina. "Ini adalah Id yang penuh kesedihan. Kami belum pernah melihat Id seperti ini. Ada yang kehilangan ayah, anak, ibu, atau orang-orang terdekat mereka," ratap Mona Al-Joujou, salah satu warga Gaza dalam wawancaranya (KOMPASTV, 21/03/2026). Entitas Zionis Yahudi menggunakan gas air mata, pentungan, dan granat kejut untuk membubarkan warga yang mencoba mendekati kompleks Al-Aqsa. Jamaah Palestina terpaksa menunaikan salat Id di jalan-jalan sekitar Kota Tua, dekat pos pemeriksaan.

Masjid Al-Aqsa adalah kiblat pertama umat islam, salah satu dari tiga masjid suci yang disabdakan oleh Rasulullah SAW. Menutup masjid Al-Aqsa bukan hanya melukai muslim Palestina, tapi juga muslim diseluruh dunia. Idul fitri dalam kondisi mengenaskan ini harusnya dirasakan sebagai penderitaan bagi seluruh kaum muslimin, bak satu tubuh sebagaimana yang Rasul ajarkan. Sayangnya ukhuwah itu perlahan memudar karena hidup yang jauh dari sistem islam.

Kadzaliman terhadap warga Gaza di Palestina tak pernah berhenti, tapi isu ini hampir terlupakan karena dunia beralih menyaksikan ketegangan konflik AS-Israel memerangi Iran. Padahal, walaupun AS dan Israel sedang perang melawan Iran, tapi mereka tidak pernah berhenti melakukan kedzaliman di bumi Syam, justru menjadikan perang sebagai alasan menutup masjid Al-Aqsa. Alasan yang sengaja dibuat tuk akuisisi masjid suci umat islam.

Sungguh AS sedang menampakkan hegemoni kekuasaannya pada dunia. Setelah berhasil menculik pemimpin Venezuela, ia pun hendak menunjukkan bahwa ia juga mampu menguasai kawasan teluk. Kita mungkin mengapresiasi sikap heroik Iran yang menolak dijajah, berdiri gagah melawan AS dan sekutunya Israel. Namun sangat disayangkan ketika negara-negara Arab Teluk justru bersekutu dengan negara kafir dalam memerangi Iran. Mereka mengecam sikap Iran yang menyerang pangkalan militer AS dikawasan teluk, berbalik menyalahkan Iran dan membela AS atas nama kemanusiaan.

Alhasil kita melihat, konflik ini membuat negeri muslim di kawasan teluk sibuk mengamankan kepentingan, melupakan nasib penderitaan muslim Gaza di Palestina. Negeri muslim dibelahan bumi lain juga tak jauh berbeda, sibuk mengecam tanpa sanggup berbuat apa-apa. Nasib perdamaian dan kemerdekaan Palestina terabaikan karena AS tidak pernah menjadikannya sebagai prioritas. Lagi dan lagi, hak kemerdekaan bagi Palestina terlupakan.

Kondisi ini, bertolak belakang dengan firman Allah dalam surah Al-Fath ayat 29. Al-Qur'an mengajarkan untuk berkasih sayang dan lemah lembut terhadap sesama muslim dan bersikap keras terhadap orang kafir. Namun sikap penguasa negeri islam hari ini justru sebaliknya, keras terhadap sesama muslim dan lemah lembut terhadap kafir penjajah. Mengutamakan kepentingan diatas ukhuwah islamiyah. Padahal ukhuwah islamiyah harusnya menjadi pengikat umat islam diseluruh dunia untuk turut merasakan penderitaan atas penjajahan di Palestina. Ukhwah islamiyah harusnya cukup menjadi pendorong umat islam untuk membebaskan bumi Syam, merebut kembali masjid Al-Aqsa dari tangan penjajah.

Dalam surah At-Taubah ayat 123, Al-Qur'an dengan jelas memerintahkan untuk memerangi orang kafir dan bersikap tegas kepada mereka. Apalagi terhadap penguasa kafir yang jelas-jelas memusuhi negeri islam dan ingin menjajahnya. Dengan mereka tiada suatu urusan selain jihad di jalanNya, memerangi mereka hingga kemenangan berada dipihak islam. Dan jihad hanya akan bisa terlaksana dengan sempurna jika negeri muslim bersatu di bawah kepemimpinan Khilafah ala minhajinnubuwah. Insyaallah. Wallahu'alam.
Bagikan:
KOMENTAR