Belajar dari Kartini, Bukan Sekadar Memperingati


author photo

21 Apr 2026 - 22.43 WIB




Oleh: Fina Siliyya, S.TPn.

Setiap 21 April, nama R.A. Kartini kembali diperingati dengan berbagai seremoni. Namun, peringatan itu sering kali berhenti pada simbol dan tradisi, tanpa menggali lebih dalam akar pemikiran yang melandasi perjuangannya. Kartini seolah dikenang sebagai pelopor emansipasi, padahal ada dimensi penting yang kerap luput: pencariannya terhadap nilai-nilai Islam sebagai dasar perubahan.

Dalam perjalanan intelektualnya, Kartini tidak sekadar mengkritik keterbatasan perempuan, tetapi juga mempertanyakan kebenaran yang hakiki. Hal ini tampak dalam surat-suratnya yang dihimpun dalam Habis Gelap Terbitlah Terang, di mana ia menunjukkan ketertarikan yang kuat untuk memahami Islam secara lebih mendalam. Baginya, agama bukan sekadar warisan, melainkan sumber cahaya yang mampu mengangkat manusia dari kebodohan menuju kemuliaan.

Sayangnya, pemikiran Kartini hari ini sering ditafsirkan dalam bingkai sekuler. Emansipasi dipahami sebagai kebebasan tanpa batas, bahkan hingga mengabaikan nilai-nilai agama. Padahal, jika ditelusuri, semangat yang dibawa Kartini justru sejalan dengan prinsip Islam yang memuliakan perempuan, memberikan hak pendidikan, serta mendorong lahirnya generasi yang berilmu dan berakhlak.

Dalam Islam, kemajuan perempuan tidak diukur dari kesamaan mutlak dengan laki-laki, tetapi dari kesesuaian dengan fitrah dan ketaatan kepada syariat. Perempuan memiliki peran strategis dalam membangun peradaban, baik di ranah keluarga maupun masyarakat. Inilah arah yang sejalan dengan kegelisahan Kartini: membebaskan perempuan dari kebodohan, bukan dengan melepaskan nilai, tetapi dengan kembali kepada petunjuk yang benar.

Karena itu, belajar dari Kartini seharusnya bukan sekadar mengulang seremoni tahunan. Lebih dari itu, kita perlu menghidupkan kembali semangatnya dalam mencari kebenaran dan menjadikan Islam sebagai landasan perubahan. Saatnya menjadikan peringatan ini sebagai momentum muhasabah, agar lahir generasi perempuan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga kokoh dalam iman dan istiqamah dalam menjalankan syariat.
Bagikan:
KOMENTAR