Demo "No Kings", Alarm Kebangkitan Atau Keruntuhan Hegemoni AS?


author photo

17 Apr 2026 - 11.07 WIB




Oleh: A Tenri Sarwan, S.M

Demonstrasi adalah hal lumrah yang terjadi di kala masyarakat mulai tak puas dengan kondisi yang terjadi. Saat aspirasi mereka tak didengar yang katanya setiap keputusan demi kebaikan 'rakyat'. 

Jutaan orang diperkirakan turun ke jalan di seluruh Amerika Serikat pada Sabtu dalam aksi nasional ketiga “No Kings” (Tidak ada raja), untuk menyuarakan penolakan terhadap pemerintahan Trump.

Unjuk rasa tersebut dilaksanakan di semua 50 negara bagian AS serta 16 negara lainnya, sehingga menandai salah satu aksi protes paling terkoordinasi sepanjang sejarah negara itu.

Pelaksana aksi, yang mencakup ormas anti-otoritarianisme Indivisible dan 50501, kemudian serikat pekerja, dan perkumpulan akar rumput lainnya, melaporkan lebih dari 3.000 aksi demonstrasi berlangsung di seantero AS. (m.antaranews.com 29/3/2026) 

Departemen Kepolisian Los Angeles berada dalam Siaga Taktis pada Sabtu (28/3/2026) malam. Polisi setempat memblokir jalan dan menangkap orang-orang yang menolak untuk bubar. (Cnbcindonesia.com 30/3/2026)

Aksi demo ini sejatinya adalah ekspresi kegerahan rakyat AS sebab kepemimpinan otoriter yang kian mencekik mereka. Lalu, bagaimana akhir dari demo bertajuk "No Kings" apakah ini hanya angin sepoi bagi jantung kapitalisme atau alarm tanda keruntuhan menuju kebangkitan "New Adidaya"?

Alarm Keruntuhan? 

Lumrah. Satu kata yang amat cocok mewakili kondisi negeri paman sam tersebut. Sebagai pusat ideologi kapitalisme tentu sangat amat lumrah melihat penguasa yang sibuk dan lebih mementingkan para elite dan pemilik modal. Sekali lagi inilah tabiat asli kapitalisme. Melakukan segala cara demi keuntungan segelintir orang. 

Aksi "No Kings" ini misalnya hanya jadi angin sepoi bagi penguasa meskipun sudah di gelar hingga tiga kali. Aksi pertama digelar pada 14 Juni 2025 bertepatan dengan ulang tahun Trump dan parade militer di Washington. Demonstrasi kedua berlangsung pada 18 Oktober 2025 dengan jumlah massa lebih besar, sementara aksi ketiga dilakukan pada 28 Maret 2026.

Dilansir dari Britannica, protes ini muncul sebagai penolakan terhadap kebijakan eksekutif yang dinilai terlalu kuat. Penyelenggara menegaskan bahwa sistem pemerintahan Amerika Serikat tidak mengenal konsep raja. Unjuk rasa ke tiga ini menyoroti diantaranya konflik AS dengan Iran hingga menewaskan beberapa tentara, kenaikan harga barang dan minyak serta rakyat tidak sudi uang pajak mereka digunakan untuk menyokong aksi genosida yang dilakukan entitas yahudi. 

Perlu beberapa banyak bukti lagi. Dunia tentu telah melihat secara nyata bahwa kapitalisme dengan politik demokrasi sejatinya hanya membutuhkan rakyat saat pemilu. Saat penguasa telah duduk di singgasana maka rakyat bisa apa. Rakyat tak lagi punya kuasa. Sistem rusak dan merusak ini sejatinya hadir untuk menumbalkan kepentingan rakyat demi kepentingan para elit dan pemilik modal. 

Ambisi Trump menguasai dunia membuatnya gelap mata dan hanya menjadikan demonstrasi ini angin sepoi yang tak berarti. Dilansir dari video.tribunnews.com, Trump merespons demonstrasi "No Kings" (Maret 2026) dengan menuduh para demonstran, yang memprotes kebijakan otoriter, sebagai kelompok yang tidak memahami kondisi negara sebenarnya. Ia mengklaim telah melihat banyak hal buruk dan membalikkan tuduhan kepada peserta aksi.

Padahal segala kebijakannya membuat utang AS berlipat hingga sudah nyaris menuju kebangkrutan. Bahkan untuk setiap bayi yang baru lahir di AS diperkirakan menanggung utang Rp1,93 miliar. Kekuasaan yang dijalankan tanpa prinsip moralitas adalah wajah nyata pemerintahan ini. Hingga kebijakan yang diambil juga secara brutal. Lantas, dimana prinsip kedaulatan di tangan rakyat yang sangat diagungkan? Dengan kondisi rakyat yang sudah muak dengan segala kebijakannya serta utang yang semakin besar situasi ini tentu mengguncang singgasana sang penguasa, tapi apakah ini cukup? Maka, dengan segala dampak merusak ini, apakah alarm runtuhnya kapitalisme sudah dekat?

Menjadi hal yang sangat dipahami ummat hari ini bahwa prinsip demokrasi kapitalisme sangat menggaungkan kekuasaan di tangan rakyat tapi melihat fakta yang terjadi suara rakyat nyatanya tak pernah benar-benar didengar. Maka, dapat disimpulkan konsep demokrasi hanyalah ilusi, karena sejatinya ada yang jauh lebih penting yakni "kepentingan" segelintir orang (penguasa dan pemodal). Lantas bagaimana ummat harusnya bersikap? 

Menuju Kebangkitan?

Umat tentu mulai bertanya-tanya apakah inilah akhir dari hegemoni kapitalisme? Apakah kondisi ini cukup? 

Kita hadir di lingkungan kaum muslim yang mengerdilkan ajaran agama mereka. Lupa pada kesempurnaan Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW. seakan Islam hanya agama spiritual dan nol politik. 

Padahal Islam mengenal politik jauh lebih mulia dari apa yang dimiliki kapitalisme hari ini. Allah telah menjadikan agama ini sempurna. Dengan kesempurnaan itu mustahil jika tak ada aturan antara urusan manusia dengan manusia lainnya sementara inilah yang paling menjadi polemik.

Islam mengenal politik dengan istilah “siyasah” dalam Lisan al-Arab, karya Ibnu Manzur disebut berasal dari kata “sasa-yasusu-siyasatan,” yang bermakna mengatur, memelihara, atau melatih. Politik dalam Islam berdiri di atas dasar aqidah Islam. Yang pada hakikatnya setiap urusan rakyat berdasarkan prinsip syariat. Setiap keputusan penguasa dijalankan berdasarkan koridor syariat. Maka, politik IsIam pada dasarnya menjadikan kedaulatan bukan di tangan rakyat ataupun pada suara mayoritas tetapi kedaulatan di tangan syara' yakni Allah swt. Yang hadirnya Islam adalah rahmat bagi semesta alam. Bukan hanya terbatas pada manusia tapi seluruh alam. 

Hadirnya aturan Islam yang diterapkan disegala lini kehidupan ini tentu mampu membebaskan seluruh dunia dari hegemoni kapitalisme yang sejak awal tujuannya adalah menjajah. 

Tapi, perjuangan ini tidak akan terwujud jika tak dimulai dengan membangun kesadaran umum di tengah-tengah ummat. Ini tentu membutuhkan kerja dakwah yang terarah. Maka, kaum muslim seharusnya melayakkan diri untuk bergabung dalam jamaah dakwah yang menyuarakan perjuangan penegakan Islam secara sempurna disemua lini. Bukan hanya antara individu dengan Rabb-Nya, individu dengan dirinya sendiri tetapi yang paling utama adalah aturan antara manusia dengan manusia yang lainnya yang justru paling banyak di tinggalkan dan ini membutuhkan institusi. 

Alhasil, meski perjuangan penegakan Islam secara sempurna disemua lini kehidupan masih banyak diragukan. Nyatanya, ummat tidak bisa menutup mata bahwa keguncangan kapitalisme global semakin menguatkan betapa rapuhnya sistem hari ini. Saatnya ummat terus bergerak menjemput janji Allah swt. akan hadirnya fajar kemenangan Islam. Siapkah ummat menjadi bagian dalam mewujudkannya? 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَـيَسْتَخْلِفَـنَّهُمْ فِى الْاَ رْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِى ارْتَضٰى لَهُمْ وَلَـيُبَدِّلَــنَّهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ اَمْنًا ۗ يَعْبُدُوْنَنِيْ لَا يُشْرِكُوْنَ بِيْ شَيْـئًــا ۗ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذٰلِكَ فَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ

"Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik."
(QS. An-Nur 24: Ayat 55)

Wallahu a'lam bishowab
Bagikan:
KOMENTAR