‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎

Fenomena beban ekonomi keluarga semakin naik di suasana lebaran, Islam punya solusinya


author photo

4 Apr 2026 - 21.35 WIB



Khairunnisa, M.Pd (akademisi)

Adalah hal yang umum di masyarakat ketika menjelang perayaan hari besar seperti hari raya akan banyak pengeluaran yang dikeluarkan keluarga. Termasuk banyak keluarga di Indonesia yang merayakan hari raya Idul fitri. Hari raya merupakan moment berkumpul keluarga, silaturahmi dan mudik menjadikan pengeluaran tidak terelakan. Semenjak Ramadhan dan menjelang hari raya dilaporkan banyak masyarakat yang mengajukan pinjaman online dan gadai. Meski pemerintah banyak mengadakan pasar murah, pemberian bansos, mudik gratis, namun banyaknya harga yang semakin mahal dan faktor lainnya membuat hidup masyarakat terasa masih sempit. Di tengah kesempitan ini, solusi yang diberikan pemerintah di era digital ini sebenarnya malah membuat situasi semakin sempit. Contohnya saran yang diberikan OJK berupa pinjaman online, multi finance atau gadai. Saran ini justru akan makin menjadikan keluarga bergantung pada utang ribawi untuk memenuhi kebutuhan rutin dan semirutin. Dr. Ranti Wiliasih, seorang Dosen Ilmu Ekonomi Syariah IPB University menyampaikan bahwa fenomena melonjaknya transaksi Pinjol (pinjaman online) di bulan Ramadan dikarenakan faktor kebutuhan konsumtif bukan produktif, sehingga berpotensi menimbulkan masalah keuangan di kemudian hari. Ia juga menegaskan, pinjaman konsumtif seharusnya dihindari, kecuali dalam kondisi mendesak seperti kebutuhan medis, musibah, atau bencana (www.liputan6.com, 22/03/26). 
Fenomena berulang utang banyak di moment Ramdhan dan pasca lebaran menunjukkan lemahnya ekonomi rakyat yang tidak memiliki pegangan kuat untuk kestabilan ekonomi bahkan untuk kebutuhan rutin rumah tangga. Ditambah lagi dengan gaya hidup masyarakat yang bersifat materalistik lebih mementingkan keinginan sesaat seperti shoping karena tergiur diskon, berhutang untuk senang-senang, rekreasi di luar kemampuan diri dan lainnya. Agar fenomena ini tidak terus berulang, diperlukan perubahan mendasar yang bisa membimbing negara dan masyarakat supaya bisa menyambut hari kemenangan dengan tenang dan suka cita tanpa hutang melilit.
Adanya moment lebaran yang menjadikan kebutuhan belanja bertambah, sebenarnya bukanlah point masalahnya. Budaya semacam ini lumrah karena adanya kegiatan berkumpul keluarga dan mudik. Masalahnya adalah keluarga butuh sistem ekonomi yang mampu menyejahterakan, bukan sekadar narasi ekonomi inklusif. Masyarakat butuh sistem ekonomi yang mampu membangun keseimbangan dan distribusi ekonomi yang merata di seluruh keluarga bukan hanya pemilik kapital. Sistem ekonomi stabil yang mampu menjaga baik dari nilai mata uang maupun harga barang, serta mampu menyediakan lapangan kerja yang layak, bukannya memfasilitasi utang. Dan ini hanya dimiliki oleh sistem ekonomi Islam yang ditopang sistem politik Islam. Sistem ekonomi Islam menurut Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Nidzamu Iqtishodil Islam (sistem ekonomi Islam) adalah berfokus pada distribusi kekayaan yang adil, bukan sekadar akumulasi materi, berdasarkan syariat. Sistem ini menekankan pada kepemilikan (individu, umum, negara). Sumber daya alam seperti barang tambang dan hutan dan yang merupakan kepemilikian umum akan dikelola oleh negara untuk memenuhi kebutuhan rakyat baik kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, papan maupun kebutuhan komunal seperti pendidikan, kesehatan serta keamanan. Pos untuk kebutuhan tersebut akan terjaga karena diperuntukkan sepenuhnya bagi rakyat. Selain itu, pos-pos pengeluaran/belanja Baitul maal yang lainnya juga mendukung seperti dari kharaj dan ghanimah. Tak hanya itu, bahkan negara juga tidak akan membiarkan ada transaksi riba. Riba dan judi itu ekonomi setan sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an. Negara juga bertanggungjawab memberikan edukasi yang sistematis kepada masyarakat agar tersuasana terbentuknya pribadi-pribadi yang kuat imannya sehingga tidak bersikap konsumtif dan boros dalam belanja meski sedang susasana lebaran.
Tentunya kondisi di atas bisa terwujud jika Islam diterapkan secara kaffah (menyeluruh) bagi Masyarakat. Negara benar-benar menjadi pelindung dan berperan menjaga kestabilan ekonomi untuk rakyat. pemimpin yang memenuhi urusan rakyatnya dengan penuh amanah, sebab ia tahu bahwa segala tindak tanduknya dalam menjalankan amanah kepempinan akan dipertanggungjawabkan seluruhnya di hadapan Allah SWT. Dengan begitu, maka momen Ramadhan dan lebaran akan dijalani dengan penuh ketaqwaan dan kebahagiaan tanpa takut ekonomi menjadi lemah. Wallahu a’lam bishshawwab.[]
Bagikan:
KOMENTAR