Gonjang-ganjing BBM Sebagai Imbas Gejolak Global


author photo

15 Apr 2026 - 07.46 WIB



Herliani.S.Pd
pemerhati kebijakan publik dan generasi
Konflik intens selama sebulan lebih antara Iran dan Amerika serikat, telah menyebabkan guncangan global termasuk kondisi pasokan minyak di berbagai negara terganggu, karena adanya pembatasan selat hormuz oleh Iran yang merupakan jalur pelayaran internasional paling strategis, dan vital di dunia untuk distribusi energi yang menghubungkan teluk persia dengan laut Arab. Indonesia menjadi salah satu negara yang merasakan dampak ini, beberapa daerah mulai panik Buying BBM, karena isu akan dinaikkannya harga BBM. terlihat mulai membeludaknya antrian di berbagai SPBU. Surabaya, mulai menyerbu stasiun pengisian bahan bakar begitupun kota makassar terjadi antrian panjang hingga rela tidak tidur untuk mendapatkan solar, hal yang sama juga terjadi di wilayah bandung dan sidoarjo.
Menteri energi dan sumber daya mineral Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada perubahan harga untuk BBM bersubsidi, hal tersebut diputuskan pemerintah atas arahan presiden Prabowo Subianto, dan hasil rapat bersama. Penyesuaian harga untuk BBM subsidi tidak ada penyesuaian naik atau turun artinya flat. Masih memakai harga sekarang tegas Bahlil dalam keterangan persnya, kepada awak media di Seoul Republik Korea pada selasa 31 Maret 2026. Sementara itu untuk BBM nonsubsidi pemerintah masih melakukan pembahasan lebih lanjut bersama dengan pertamina maupun penyedia BBM swasta, sehingga belum ada keputusan terkait penyesuaian harga. Demikian halnya dengan BBM pertamina dex, Bahlil memastikan tidak ada kenaikan harga hingga saat ini. Dalam kesempatan tersebut Bahlil juga menghimbau masyarakat untuk tetap bijak dalam mengkonsumsi energi khususnya dalam penggunaan bahan bakar minyak. hal tersebut menurutnya merupakan salah satu bentuk dukungan dari masyarakat dalam kerjasama dengan pemerintah.
Pemerintah memutuskan belum menaikkan harga BBM subsidi meski rata-rata harga minyak dunia mencapai US$100/barel. Hal itu diungkapkan menteri keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, dalam rapat bersama komisi XI DPR RI senin 6 April. Pernyataan Purbaya senada dengan perkataan menteri sekretaris negara Prasetyo Hadi dia mengatakan keputusan itu diambil atas arahan langsung presiden Prabowo Subianto sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi. Purbaya mengatakan kementerian keuangan telah mengkalkulasi harga minyak dunia ketika mencapai US$80/barel US$90/barel serta US$100/barel bahkan hingga mitigasi harga minyak dunia ke APBN.
Akan tetapi, sejumlah ekonom menilai kemampuan fiskal negara hanya bisa menahan kenaikan harga bahan bakar minyak dalam jangka pendek atau beberapa minggu ke depan, di tengah lonjakan harga minyak dunia. Jika kebijakan menahan BBM itu dipaksakan terus maka pemerintah mesti menambah utang, atau memangkas besar-besaran budget kementerian atau lembaga termasuk transfer ke daerah, yang dampaknya bakal terasa di kemudian. Benar saja pada akhirnya pemerintah mulai mengambil langkah penghematan sepert WFH, pembatasan pembelian BBM untuk kendaraan roda 4, pengurangan jumlah hari untuk MBG dan lain-lain.
Sebagai masyarakat yang merasakan langsung dampak dari konflik global juga tentunya memahami bagaimana dilema yang dirasakan oleh pemerintah Indonesia. Sisi lain jika harga BBM dinaikkan, inflasi akan meningkat dan terjadi gejolak sosial, bahkan dengan kondisi yang ada saat ini dimana BBM belum naik saja, antrian sudah terjadi di berbagai SPBU, namun jika terus ditahan untuk dinaikkan, maka ini akan membawa pengaruh yang sangat besar atau devisit APBN akan semakin menjulang.
Hal ini tidak terlepas dari posisi Indonesia yang juga merupakan net importir minyak, sehingga sangat tergantung pada pasokan BBM dari luar. Keadaan yang tidak stabil ini membuat masyarakat menjadi kesulitan baik untuk sekadar mendapatkan BBM, maupun untuk menjangkau harga BBM yang naik. Bahkan hal bukuknya inflasi juga semakin dekat di depan mata. Kondisi ini tidak hanya dirasakan oleh masyarakat Indonesia tetapi hampir merata dibelahan negara lain. Ini merupakan gambaran yang nyata bagaimana kondisi negara-negara yang tergantung pada impor komoditas strategis seperti BBM. Ekonomi dan politiknya kerap terguncang ketika ada sentimen global.
Islam dan pengelolaan sumber daya alam (Energi)
sebuah ayat Allah berfirman walladzi khalaqolakum fil ardhi Jami'ah dialah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi ini untuk kalian manfaatkan, kemudian dalam ayat berikutnya Allah berfirman kepada para malaikat "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi ini, quran surat al-baqarah ayat 29 dan 30. Dari 2 ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengisyaratkan bahwa semua kekayaan alam yang ada di langit dan di bumi adalah milik Allah agar dimanfaatkan dan dikelola oleh manusia sesuai petunjuk Allah SWT.
Hari ini masyarakat kesulitan untuk bisa menikmati kekayaan alam karena pengelolaannya melenceng dari aturan Ilahi. Islam mengatur sumberdaya alam ini tergambar dari hadist Nabi Muhammad di mana masyarakat muslim bersama-sama mempunyai hak atas tiga macam benda yaitu Air, padang rumput dan Api, siapa yang menarik harga maka itu haram. Ibnu Majah dari Ibnu Abbas memaparkan terdapat petunjuk yang jelas dalam hal ini, bahwa api yaitu kekayaan alam berupa energi adalah milik masyarakat secara umum bahkan ditegaskan haram untuk mengambil keuntungan dari memperjualbelikannya keberadaannya sebagai milik umum, menghalangi manusia untuk memilikinya secara pribadi maka haram melakukan privatisasi pada sumber-sumber kekayaan alam yang jumlahnya melimpah, dan menjadi kebutuhan pokok masyarakat. Pertambangan minyak bumi industri hulu hingga hilirnya harus dalam pengelolaan negara dieksplorasi dan didistribusikan hasilnya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat secara umum, dengan demikian masyarakat bisa mendapatkan bahan bakar minyak dengan harga yang terjangkau. Negara juga tidak perlu mempertimbangkan harga pasar internasional selama kebutuhan BBM bisa dipenuhi dari hasil produksi.
Kenyataan pahit yang terjadi hari ini adalah karena kita tidak mengikuti petunjuk Allah dalam mengelola bumi ini. Padahal sudah jelas peringatkan Allah dalam Alquran "Barang siapa yang berpaling dari peringatanKU maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". "Hai orang-orang yang beriman kepada Allah Penuhilah seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu. Alquran surat Al Anfal ayat 24.
Pada bulan suci Ramadan ini saatnya kita kembali kepada petunjuk Allah Azza wa Jalla agar kehidupan manusia berjalan dalam kebaikan dan dijauhkan darikesengsaraan. sistem ekonomi Islam adalah sistem yang berdiri di atas petunjuk Rabb, pencipta manusia yang paling mengetahui apa yang terbaik untuk manusia maka Yakinlah bahwa penerapan sistem ini secara Kaffah adalah jawaban tuntas atas Program ekonomi hari ini.
Wallahualam bissawab
Bagikan:
KOMENTAR