‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎

Ironi Pidie Jaya: Rakyat Terendam Banjir, Pejabat Asyik Pelantikan


author photo

9 Apr 2026 - 13.54 WIB


MEUREUDU – Kabupaten Pidie Jaya kembali didera nestapa. Di saat ribuan warga berjibaku melawan luapan air setinggi satu meter, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) justru memilih tetap melanjutkan agenda seremonial pelantikan pejabat. Sebuah kontradiksi tajam yang memicu tanya: di mana empati penguasa saat rakyatnya tenggelam?

Sembilan Gampong Lumpuh Total
Hujan deras di wilayah hulu menyebabkan Krueng Meureudu tak lagi mampu menampung debit air. Akibatnya, sejak Rabu (8/4/2026) pukul 20.00 WIB, air bah menerjang pemukiman warga dengan cepat. Tercatat sedikitnya sembilan gampong di Kecamatan Meureudu dan Meurah Dua terendam banjir, yakni:
Gampong Meunasah Krueng
Gampong Beurawang
Pante Geulima
Gampong Meunasah Bie
Gampong Meunasah Balek
Gampong Meunasah Lhok
Gampong Blang
Gampong Blang Awe
Gampong Meunasah Mancang
Ketinggian air yang mencapai 1 meter memaksa warga melakukan evakuasi mandiri di tengah kegelapan malam. Ruas jalan utama lumpuh, dan aktivitas ekonomi warga mati total.

Kontras di Coet Trieng: Pelantikan di Tengah Bencana
Di saat warga Gampong Beurawang, seperti Sulaiman (45) dan Nuraini (38), sibuk menyelamatkan nyawa dan harta benda dari air yang merangkak naik hingga setinggi pinggang, di gedung pemerintahan Coet Trieng justru berlangsung pelantikan sejumlah pejabat Satuan Kerja Perangkat Kabupaten (SKPK).
Ketua Aliansi Pemuda Pidie Jaya, Dedi Saputra, SE, mengecam keras ketimpangan prioritas ini. Ia menilai pemerintah seolah menutup mata terhadap kedaruratan yang terjadi di depan mata.
“Malam ini bertepatan dengan pelantikan SKPK di Coet Trieng. Kita berharap pemerintah tetap memberi perhatian serius, bukan hanya sibuk dengan jabatan sementara masyarakat sedang terendam,” tegas Dedi dengan nada kritis.

Penanganan Dangkal untuk Sungai yang Dangkal
Dedi menambahkan bahwa banjir ini bukanlah fenomena baru, melainkan "penyakit tahunan" yang gagal disembuhkan oleh pemerintah daerah. Akar masalahnya jelas: Pendangkalan Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Meureudu.
"Ini persoalan lama yang belum tertangani secara serius. Tanpa normalisasi sungai yang nyata, banjir ini hanya akan menjadi agenda rutin tahunan bagi warga. Pemerintah jangan hanya terjebak pada solusi darurat, tapi abai pada akar masalah," tambahnya.

Kerugian Besar, Harapan Memudar
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan korban jiwa, namun kerugian material dipastikan membengkak. Perabotan rumah tangga, alat elektronik, hingga dokumen penting rusak terendam lumpur.
Malam di Pidie Jaya terasa mencekam. Di satu sisi, ada lampu terang dan jabat tangan selamat atas jabatan baru di Coet Trieng. Di sisi lain, ada ribuan warga yang kedinginan di pengungsian, menatap rumah mereka yang tenggelam sambil menanti. 

kapan aksi nyata normalisasi sungai benar-benar dilakukan, bukan sekadar janji saat kampanye atau seremoni pelantikan?
(Gg)
Bagikan:
KOMENTAR