‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎

Ketika Bullying Dianggap Biasa: Luka yang Tak Terlihat Tapi Nyata


author photo

1 Apr 2026 - 11.45 WIB


Pernah nggak sih kita dengar kalimat seperti, “Ah, cuma bercanda kok” atau “Biar dia kuat, jadi nggak manja”? Sekilas terdengar sepele, tapi di balik itu, bisa jadi ada luka yang sedang dipendam seseorang. Bullying sering kali disamarkan sebagai candaan, padahal dampaknya bisa jauh lebih dalam dari yang terlihat.

Bullying bukan hanya soal kekerasan fisik. Ia bisa hadir dalam bentuk kata-kata, sikap, bahkan perlakuan yang merendahkan. Mulai dari mengejek, mengucilkan, menyebarkan rumor, hingga komentar negatif di media sosial. Hal-hal seperti ini sering dianggap biasa, padahal justru di situlah masalahnya dimulai (UNICEF, 2023).

Secara psikologis, manusia memang wajar merasa sedih saat disakiti. Namun, ketika perlakuan negatif terjadi terus-menerus, rasa sedih itu bisa berubah menjadi tekanan yang lebih berat. Bahkan dalam beberapa kasus, kondisi ini bisa berkembang menjadi gangguan mental seperti depresi, karena tekanan yang berulang memengaruhi cara berpikir dan perasaan seseorang (World Health Organization, 2021; American Psychological Association, 2020).

Penelitian juga menunjukkan bahwa bullying memiliki hubungan yang signifikan dengan gangguan mental emosional pada remaja, seperti kecemasan, rendah diri, hingga depresi (Puri et al., 2025). Selain itu, hasil kajian sistematis mengungkapkan bahwa bullying dan cyberbullying berdampak langsung terhadap kesehatan mental korban dalam jangka panjang (Agustiningsih et al., 2024).

Yang sering tidak disadari, korban bullying biasanya tidak langsung menunjukkan apa yang mereka rasakan. Mereka bisa terlihat baik-baik saja, tetap tersenyum, dan beraktivitas seperti biasa. Padahal di dalam dirinya, ada rasa takut, tidak percaya diri, bahkan merasa tidak berharga. Jika dibiarkan, kondisi ini bisa mengganggu kehidupan sosial dan prestasi belajar (Susanti et al., 2023).

Di sisi lain, pelaku bullying pun sering kali tidak sepenuhnya memahami dampak dari tindakannya. Mereka mungkin menganggap itu hanya hiburan atau sekadar ikut-ikutan. Padahal, satu kalimat yang dianggap “candaan” bisa terus teringat dan membekas lama bagi orang yang menerimanya.

Lalu, bagaimana kita menyikapi bullying?

Pertama, penting untuk menyadari bahwa tidak semua yang disebut “bercanda” itu aman. Jika sesuatu membuat orang lain merasa tidak nyaman, maka itu bukan lagi candaan.

Kedua, kita perlu membangun empati. Coba bayangkan jika kita berada di posisi korban. Perasaan sedih, malu, dan tertekan itu nyata, bukan dibuat-buat.

Ketiga, jangan diam. Jika melihat bullying terjadi, kita bisa membantu dengan cara sederhana, seperti menegur dengan baik atau melaporkan kepada pihak yang berwenang (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 2022).

Terakhir, bagi yang pernah atau sedang menjadi korban bullying, penting untuk diingat bahwa kamu tidak sendiri. Mencari bantuan dan bercerita kepada orang terpercaya adalah langkah awal untuk memulihkan diri. Karena rasa sedih yang terus dipendam bisa berkembang menjadi masalah yang lebih serius jika tidak ditangani (Nusantara News, 2026).

Bullying bukan hal kecil. Ia mungkin tidak selalu meninggalkan luka fisik, tapi bisa meninggalkan bekas yang jauh lebih dalam di pikiran dan perasaan seseorang. Maka dari itu, mulai sekarang, mari lebih bijak dalam bersikap dan berkata. Karena satu tindakan kecil dari kita, bisa berdampak besar bagi orang lain.


---

Daftar Pustaka

UNICEF. (2023). Bullying and cyberbullying: What you need to know. 

World Health Organization. (2021). Adolescent mental health. 

American Psychological Association. (2020). Effects of bullying on mental health. 

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (2022). Pencegahan dan penanganan bullying di lingkungan sekolah. 

Agustiningsih, N., Yusuf, A., Ahsan, A., & Fanani, Q. (2024). The impact of bullying and cyberbullying on mental health: A systematic review. International Journal of Public Health Science, 13(2).

Puri, C. H., Shaluhiyah, Z., & Arso, S. P. (2025). The correlation between bullying and mental-emotional disorders among adolescents. MEDISAINS: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Kesehatan, 23(2). 

Susanti, R. D., Asifa, R. R. N., Sumarna, U., & Mulyana, A. M. (2023). Bullying victims among early adolescence: A study of incidence, risk factor, and coping strategy. Jurnal Ilmu Keperawatan Jiwa.

Nusantara News. (2026). Cara membedakan rasa sedih biasa dengan depresi.
Bagikan:
KOMENTAR