‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎

Mahasiswa Cerdas dengan Islam kaffah


author photo

30 Apr 2026 - 18.46 WIB



Oleh: Ferdina Kurniawati 
Aktivis Dakwah Muslimah 

Pada Kamis (9/4/2026), halaman kantor Gubernur Kalimantan Timur dipenuhi massa PMII Samarinda yang menyuarakan ketidakadilan pembangunan di wilayah tersebut. Mereka membawa sejumlah isu krusial, mulai dari desakan pemerataan akses listrik, internet dan pendidikan di desa tertinggal, hingga kritik tajam atas kerusakan jalan akibat aktivitas hauling perusahaan.
Dalam aksi tersebut, massa sempat membakar ban dan menerobos masuk ke area halaman kantor gubernur. Dalam aksinya, PMII menyampaikan sejumlah tuntutan kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Daiantaranya pemerataan akses pendidikan, terutama di daerah terpencil yang masih kekurangan fasilitas sekolah dan infrastruktur pendukung.
Selain itu, massa juga menyoroti kerusakan infrastruktur jalan di sejumlah wilayah seperti Mahakam Ulu, Kutai Timur, dan Kutai Kartanegara yang dinilai menghambat mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi. Isu lain yang diangkat meliputi keterbatasan layanan kesehatan di daerah pelosok, penertiban distribusi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, serta penegakan kewajiban reklamasi lubang bekas tambang.
PMII juga menolak rencana ekspansi tambang di wilayah Mahakam Ulu yang dinilai berpotensi merusak lingkungan, serta mendesak penindakan terhadap praktik illegal logging. Aksi sempat berlangsung tegang ketika massa mencoba masuk ke area kantor gubernur, namun situasi berangsur kondusif setelah dilakukan pengamanan oleh aparat. (Selasar.co)

Akar Masalah Lahir dari Sistem Rusak Sekuler Kapitalisme
Aksi mahasiswa yang Kembali memanaskan jalanan belakangan ini bukanlah sekedar rutinitas musiman. Di balik teriakan orator dan spanduk tuntutan, terpampang sebuah potret besar yang menyedihkan. Kita adalah bangsa yang berdiri di atas tanah yang menyimpan kekayaan luar biasa, namun rakyatnya masih harus mengemis untuk mendapatkam hak-hak dasar sebagai rakyat.
Aksi mahasiswa menunjukkan adanya jurang menganga antara potensi sumber daya alam (SDA) dengan realitas kesejahteraaaan. Pengelolaan SDA yang ada saat ini nampak tercerabut dari mandat pasal 33 UUD 1945, Bukannya dikelola sepenuhnya untuk kemakmuran rakyat, SDA kita justru seperti perjamuan bagi para pemilik modal. Ketimpangan ini bukan tanpa gejala, Persoaalan klasik seperti distribusi BBM yang carut marut, infrastruktur yang timpang, hingga pelayanan Kesehatan yang belum merata adalah bukti nyata bahwa ada yang salah dalam tata Kelola kebijakan publik kita.
Selain itu, sorotan mahasiswa terhadap nasib guru honorer dan dampak reklamasi tambang menyentuh esensi dari keadilan sosial. Guru honorer yang menjadi tulang punggung peradaban, justru dibiarkan hidup dalam ketidakpastian ekonomi. Jika kita mau jujur dan menarik benang merah dari persoalan-persoalan di atas hal ini bukanlah sekedar kesalahan teknis atau ketidakmampuan individu pejabat. Namun masalah ini bersifat sistematik karena diterapkannya sistem kapitalisme yang mana segala sesuatu termasuk air,energi, dan pendidikan dipandang sebagai komoditas untuk mencari keuntungan, bukan layanan publik yang wajib disediakan negara.
Ketika negara lebih berfungsi sebagai fasilitator bagi para pemilik modal daripada sebagai pelindung rakyat, maka kebijakan yang lahir akan selalu berpihak pada segelintir elit (oligarki). Inilah yang menyebabkan distribusi kekayaan tidak pernah benar-benar sampai ke akar permasalahannya.
Mahasiswa sebagai agent of change, memang memiliki tugas sejarah untuk menjadi kontrol bagi penguasa. Namun kritik yang dilontarkan tidak boleh berhenti pada tatatran teknis belaka. Jika hanya menuntut pergantian pejabat tanpa mengganti sistemnya, maka kita hanya akan tejebak dalam siklus yang sama.
Idealisme mahasiswa tidak akan pernah lahir dari rahim rusak sekuler kapitalisme. Selama sistem sekuler menjadi asas dalam sistem negara, termasuk pendidikan, mahasiswa tetap terjebak dalam sikap pragmatis, apolitis, dan individualis. 
Oleh karenanya, butuh upaya membangun daya kritis mahasiswa akan kerusakan sistem kapitalisme dan kesadaran untuk mengambil Islam sebagai asas dan aturan dalam seluruh aspek kehidupan. Selayaknya mahasiswa berpikir, mengapa beribu inovasi telah mereka hasilkan, tetapi masalah negeri tidak terselesaikan? Bukankah ini bukti ada kesalahan sistemis yang perlu dituntaskan?
Tidak terhitung pula aksi di sepanjang sejarah pergerakan mahasiswa. Bahkan, tuntutan untuk menerapkan demokrasi yang berkeadilan juga terus-terusan disuarakan. Padahal, justru mahasiswa harus berpikir, inilah wujud nyata demokrasi yang tidak pernah memihak rakyat dan layak ditinggalkan. Sebagai muslim, demokrasi harus dibuang karena menihilkan aturan Ilahi dalam kehidupan. Walhasil, idealisme mahasiswa akan terwujud tatkala menjadikan Islam sebagai asas berpikir dan bergerak.

Seruan untuk Mahasiswa Muslim
Mahasiswa—khususnya yang muslim—adalah tumpuan harapan umat. Karakter pemuda yang melekat pada diri mahasiswa berkontribusi besar untuk kebangkitan umat.
Sahabat Ibnu Abbas pernah menyatakan, ”Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi melainkan pemuda. Dan seorang alim tidak diberi ilmu pengetahuan oleh Allah melainkan pada waktu masa mudanya.”
Wahai mahasiswa muslim, jadikanlah Islam sebagai asas dan pedoman dalam kehidupan dan arah pergerakan. Allah Taala memuji pemuda yang memegang teguh keimanan dan kebenaran. 
“Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah para pemuda yang beriman kepada Tuhannya, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka.” (QS Al-Kahfi [18]: 13).
Bergabunglah dalam barisan perjuangan kelompok dakwah ideologis untuk menegakkan Islam kaffah sebagai solusi atas kezaliman dan kerusakan. Cukuplah firman Allah Taala sebagai pengingat, “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran: 104). Wallahualam bissawab.
Bagikan:
KOMENTAR