‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎

Nestapa Gaza di Hari Idul Fitri


author photo

2 Apr 2026 - 10.14 WIB




Perayaan Idul Fitri yang identik dengan kebahagiaan dan kemenangan justru berlangsung dalam suasana duka di Gaza. Warga merayakan hari besar tersebut di tengah reruntuhan bangunan dan tenda-tenda darurat. Tidak ada kemeriahan, yang tersisa hanyalah kesedihan mendalam akibat kehilangan keluarga, tempat tinggal, dan rasa aman. Nestapa yang menimpa warga Gaza seolah tidak berujung, bahkan pada momentum yang seharusnya penuh harapan.

Dalam situasi global, perhatian dunia terhadap Gaza cenderung meredup seiring meningkatnya konflik lain, termasuk ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Fokus geopolitik yang bergeser membuat penderitaan warga Gaza semakin terpinggirkan dari sorotan internasional. Ironisnya, sebagian negara di kawasan Timur Tengah justru lebih sibuk menjaga aliansi strategis dengan kekuatan besar daripada memperjuangkan kepentingan kemanusiaan di Palestina.

Kondisi ini menegaskan bahwa isu perdamaian dan kemerdekaan Palestina bukan prioritas utama bagi kekuatan global. Kepentingan politik dan hegemoni lebih dominan dibandingkan upaya nyata untuk menghentikan penderitaan sipil. Padahal, tragedi yang terjadi di Gaza seharusnya menjadi kepedulian bersama, khususnya bagi umat Islam yang memiliki ikatan persaudaraan. Dalam perspektif ini, penderitaan Gaza bukanlah masalah lokal, melainkan bagian dari luka kolektif yang semestinya dirasakan sebagai satu kesatuan.

Nilai-nilai dalam ajaran Islam menekankan pentingnya solidaritas dan kepedulian terhadap sesama. Prinsip ukhuwah Islamiyah mengajarkan bahwa umat Islam adalah satu tubuh, sehingga penderitaan di satu bagian akan dirasakan oleh bagian lainnya. Selain itu, ajaran Al-Qur’an juga mendorong sikap tegas dalam menghadapi penindasan dan ketidakadilan.

Oleh karena itu, momentum Idul Fitri seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai perayaan spiritual, tetapi juga refleksi untuk memperkuat kepedulian dan persatuan. Penderitaan warga Gaza menjadi pengingat bahwa solidaritas tidak cukup berhenti pada empati, melainkan perlu diwujudkan dalam upaya nyata untuk menghadirkan keadilan dan kemanusiaan yang lebih luas.
Bagikan:
KOMENTAR