‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎

Nestapa Muslim Gaza Terus Mendera, Islam Solusi Nyata


author photo

2 Apr 2026 - 10.18 WIB



Oleh: Nana Juwita, S.Si.

Setelah Ramadan, bahkan Idul Fitri derita Gaza juga tidak berhenti, disaat Muslim lain merayaan Idul Fitri dengan suka cita, berkumpul dengan keluarga, dengan hidangan makanan yang beragam, justru warga Gaza merayakan Idul Fitri di tengah reruntuhan gedung dan tenda darurat, duka nestapa seolah tak ada ujung nya menimpa warga Gaza. 

Dikutip dari (minanews.net, 30/03/2026) bahwa pasukan penjajah memberlakukan pembatasan yang sangat ketat di sekitar masjid, mencegah ribuan jamaah Gaza dengan membatasi hanya 50 jamaah yang diizinkan memasuki masjid untuk melaksanakan Shalat Idul Fitri, sementara sisanya terpaksa melaksanakan shalat di luar ruangan.

Kantor Media Pemerintah Gaza menyatakan bahwa hari raya tahun ini berlangsung tanpa sukacita karena sebagian besar warga Gaza kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Lebih dari 2,4 juta warga Palestina di Jalur Gaza merayakan hari raya Idul Fitri pada Jumat (20/3) di tengah krisis kemanusiaan yang parah, dengan pembatasan ketat Israel, kehancuran infrastruktur, serta kekurangan pangan, air bersih, dan obat-obatan. Lembaga tersebut mencatat, pasukan Israel telah melakukan lebih dari 2.000 pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata sejak Oktober 2025.Pelanggaran itu berupa penembakan, serbuan darat, dan serangan udara yang telah menewaskan sedikitnya 677 warga Palestina dan melukai lebih dari 1.800 lainnya, sebagian besar warga sipil.( minanews.net, 30/03/2026)

Belum usai peperangan yang terjadi di Gaza dengan penderitaan yang tidak pernah usai, Gaza makin terlupakan ketika AS-Israel fokus memerangi Iran hingga membuat mata umat Muslim teralihkan dengan kondisi Gaza, hal ini diperparah dengan adanya negara-negara Arab Teluk yang justru bersekutu dengan negara kafir dalam memerangi negeri Muslim yang lain. 

Sangat lah wajar jika pada saat ini negeri kaum Muslim mengalami penjajahan, ini semua tidak lain karena disebabkan oleh lemahnya umat Islam yang tidak memiliki pelindung sejati, sehingga kelemahan juga terjadi pada sisi politik,ekonomi, maupun militer. Ditambah jauhnya umat dari pemahaman Islam sehingga kondisi Idul fitri di Gaza yang mengenaskan tidaklah dirasakan sebagai penderitaan oleh seluruh Umat islam. Padaha Islam mengajarkan bahwa setiap Muslim adalah bersaudara dan umat Islam diibaratkan seperti satu tubuh, jika satu anggota tubuh sakit maka yang lain juga akan merasakan sakit. 

Nasib perdamaian dan kemerdekaan Palestina bukan jadi prioritas bagi AS dan Israel, dua negara tersebut hanya fokus pada hegemoni kekuasaannya pada dunia. Segala bentuk solusi yang ditawarkan pihak penjajah seperti Board of Peace (BoP) dan solusi dua negara sejatinya bukanlah murni untuk kepentingan kemerdekaan Gaza, namun semakin melanggengkan penjajahan oleh AS dan Israel. Herannya penguasa negeri Muslim masih saja memberikan dukungan pada negara penjajah. Padahal jelas negara penjajah tidaklah memahami bahasa perdamaian, berkali-kali bahkan mereka melanggar janji perdamaian yang mereka tawarkan?

Seharusnya yang dibutuhkan pada saat ini untuk mengatasi persoalan Gaza adalah dengan merujuk pada apa yang dikabarkan di dalam Al-Quran, jika saja seluruh umat Islam dan juga negeri-negeri Muslim hari ini bersatu dalam satu naungan Islam (Khilafah) maka bukan lah mustahil umat Islam akan memiliki kekuatan yang setara dengan kafir penjajah. Belajar dari perang Iran, yang untuk saat ini merupakan negara yang berani menentang Barat, kekuatan Iran patut diperhitungkan. Bayangkan satu negara saja sudah membuat negara penjajah kalang kabut, bagai mana jika seluruh umat Islam dan negeri-negeri Muslim bersatu maka akan mampu membebaskan Gaza dan negeri Muslim yang lain yang pada saat ini juga dalam kondisi terjajah.

Oleh karena itu umat Islam tidak boleh lemah dan tunduk terhadap kafir penjajah, karena Al qur'an mengajarkan untuk berkasih sayang dan lemah lembut terhadap Muslim dan bersikap keras terhadap orang kafir hal ini sejalan dengan (QS: Al Fath:29), yang artinya:

Nabi Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras terhadap orang-orang kafir (yang bersikap memusuhi), tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud (bercahaya). Itu adalah sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Taurat dan Injil, yaitu seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu makin kuat, lalu menjadi besar dan tumbuh di atas batangnya. Tanaman itu menyenangkan hati orang yang menanamnya. (Keadaan mereka diumpamakan seperti itu) karena Allah hendak membuat marah orang-orang kafir. Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.

Ukhuwah Islamiyah menjadi pengikat bagi umat Islam di seluruh dunia untuk membebaskan penderitaan saudara sesama muslim. Namun, Ukhuwah Islamiyah tidak terwujud dalam sistem kapitalisme sekuler hari, Apakah umat Islam telah melupakan seruan Allah Swt yang memerintahkan mukmin untuk berjihad (At Taubah: 123) yang artinya:

"Wahai orang-orang yang beriman! Perangilah orang-orang kafir yang di sekitarmu, dan hendaklah mereka merasakan sikap tegas darimu, dan ketahuilah bahwa Allah bersama orang-orang yang bertakwa." 

Dari ayat tersebut Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk berjihad, namun pada saat ini jihad hanya akan sempurna ketika negeri muslim bersatu di bawah kepemimpinan Khilafah ala minhajinnubuwah. Inilah yang seharusnya menjadi fokus utama umat Muslim saat ini. Karena pada saat ini negeri-negeri Islam terpisah-pisah bahkan terpecah belah sehingga tidak memiliki misi dan visi yang sama dalam memandang suatu persoalan. Hanya Islam kafah yang mampu menghentikan penjajahan yang dilakukan oleh kafir barat saat ini. waulahuaklam bishawab
Bagikan:
KOMENTAR