‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎

Pendidikan di Persimpangan


author photo

30 Apr 2026 - 18.38 WIB




Setiap tahun, Hari Pendidikan Nasional diperingati dengan semangat refleksi dan harapan akan masa depan yang lebih baik. Namun, realitas di lapangan menunjukkan kondisi yang justru mengkhawatirkan. Dunia pendidikan kian diwarnai berbagai persoalan serius, mulai dari maraknya kekerasan dan pelecehan seksual di lingkungan sekolah dan kampus, hingga hilangnya jaminan ruang aman bagi pelajar dan mahasiswa. Di sisi lain, praktik kecurangan seperti joki ujian, plagiarisme, dan manipulasi akademik semakin meluas, mencerminkan krisis integritas yang tidak bisa diabaikan.

Fenomena ini diperparah dengan meningkatnya keterlibatan pelajar dalam penyalahgunaan narkoba, serta munculnya perilaku yang menunjukkan merosotnya penghormatan terhadap guru. Kasus siswa yang menghina bahkan melaporkan guru ke ranah hukum menunjukkan terjadinya pergeseran nilai dalam relasi pendidikan. Peringatan Hardiknas seharusnya menjadi alarm keras bagi seluruh pemangku kepentingan untuk mengevaluasi arah pendidikan yang berjalan saat ini.
Secara lebih mendasar, berbagai persoalan tersebut mencerminkan kegagalan sistem pendidikan dalam membentuk kepribadian yang utuh. Orientasi pendidikan yang cenderung sekuler, liberal, dan pragmatis menghasilkan individu yang lebih mengejar capaian materi daripada integritas moral. Sistem yang menekankan hasil instan tanpa proses yang bermakna mendorong munculnya budaya “menghalalkan segala cara”. Ditambah lagi, lemahnya penegakan sanksi terhadap pelanggaran yang dilakukan pelajar sering kali membuat tindakan kriminal dianggap sekadar kenakalan biasa.

Minimnya internalisasi nilai-nilai agama dalam sistem pendidikan juga memperlebar ruang kebebasan tanpa batas. Akibatnya, pelajar mudah terjebak dalam perilaku menyimpang karena tidak memiliki landasan moral yang kuat. Padahal, pendidikan tidak hanya berfungsi mencerdaskan secara intelektual, tetapi juga membentuk karakter dan kepribadian yang bertanggung jawab.
Dalam perspektif Islam, pendidikan memiliki peran fundamental yang wajib dijamin oleh negara. Sistem pendidikan berbasis akidah bertujuan membentuk insan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bertakwa. Fokus utama pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, melainkan pembentukan kepribadian yang selaras antara pola pikir dan pola sikap. Selain itu, penerapan sistem sanksi yang tegas menjadi bagian penting dalam menjaga ketertiban dan mencegah pelanggaran.

Lebih jauh, sinergi antara keluarga, masyarakat, dan negara diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pembentukan karakter. Suasana kehidupan yang sarat dengan nilai ketakwaan akan mendorong pelajar untuk berlomba dalam kebaikan, bukan dalam penyimpangan. Dengan demikian, peringatan Hardiknas tidak berhenti pada seremoni, tetapi menjadi momentum untuk menghadirkan sistem pendidikan yang benar-benar mampu melahirkan generasi berilmu, beradab, dan berintegritas.
Bagikan:
KOMENTAR