‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎

Pentingnya Peran Suami dalam Mendukung Pengambilan Alat Kontrasepsi


author photo

2 Apr 2026 - 10.12 WIB



Oleh: Azizah Norlina Sari 
UIN ANTASARI, FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI, JURUSAN BIMBINGAN PENYULUHAN ISLAM.

Seringkali, pembicaraan mengenai Keluarga Berencana (KB) hanya dianggap sebagai "urusan perempuan". Padahal, keputusan dalam memilih dan menggunakan alat kontrasepsi adalah langkah besar dalam membangun kesejahteraan keluarga. Di sinilah peran suami menjadi sangat krusial, bukan hanya sebagai pendukung, melainkan sebagai perencanaan masa depan.

Disebutkan dalam artikel Mulazimah Mulazimah, Dhewi Nurahmawati dan Benu Feronika dari Jurnal Nusantara Medika tahun 2021, Menunjukkan bahwa istri yang tidak mendapat dukungan suami cenderung tidak menggunakan kontrasepsi, sedangkan dukungan suami berkorelasi signifikan dengan kepatuhan penggunaan alat kontrasepsi.

Mengapa Suami Harus Terlibat?
Secara psikologis dan sosial, keterlibatan suami dalam program KB memberikan dampak yang signifikan terhadap keharmonisan rumah tangga, karena bisa membangun komunikasi sehat pertama, berdiskusi tentang KB adalah pintu masuk untuk membicarakan rencana masa depan, mulai dari jumlah anak hingga kesiapan ekonomi.
Kedua, mengurangi beban psikologis istri, istri yang didukung suami dalam memilih metode kontrasepsi cenderung merasa lebih aman dan tenang, terutama saat menghadapi potensi efek samping fisik maupun hormonal.
Ketiga, keberlangsungan program, nah pasangan yang memutuskan bersama terbukti lebih konsisten menggunakan kontrasepsi dibandingkan jika istri melakukannya sendirian tanpa dukungan penuh.

Menjelaskan bahwa dukungan suami sangat berhubungan dengan keputusan istri menggunakan dan mempertahankan metode kontrasepsi, termasuk ikut dampingi konseling, pemasangan, dan kontrol. ( https://ojs.widyagamahusada.ac.id/index.php/JIK/article/view/125)

Tips Praktis bagi suami yang ingin mulai berperan aktif, berikut adalah langkah-langkah sederhana yang bisa dilakukan:
1. Dampingi ke Fasilitas Kesehatan: Luangkan waktu untuk mengantar istri saat sesi konseling agar mendapatkan informasi medis yang akurat dari bidan atau dokter.
2. Jadilah Pengingat yang Baik: Bantu istri mengingat jadwal minum pil atau jadwal suntik ulang agar efektivitas kontrasepsi tetap terjaga.
3. Diskusi Terbuka Mengenai Keluhan: Terbukalah terhadap keluhan yang dirasakan istri setelah menggunakan alat kontrasepsi dan carilah solusi bersama tenaga medis.

Dilansir melalui resmi BKKBN (bkkbn.go.id). 
Dr. (H.C.) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K) (Kepala BKKBN) menegaskan bahwa "Laki-laki adalah nahkoda dalam perencanaan keluarga." Menurutnya, karena budaya di Indonesia menempatkan suami sebagai pengampu keputusan (decision maker), maka pemahaman suami tentang KB sangat vital untuk menekan angka kehamilan yang tidak diinginkan.

Mengulas bahwa partisipasi laki‑laki masih rendah karena budaya patriarki dan stigma bahwa KB adalah urusan perempuan, sehingga perlu edukasi dan pendekatan sosio‑kultural agar suami lebih aktif. (https://journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/jkt/article/view/44783)
Bagikan:
KOMENTAR