Oleh : Rahmayanti, S.Pd
Di tengah derasnya arus globalisasi dan tantangan zaman, umat Islam justru dihadapkan pada persoalan klasik yang tak kunjung selesai yaitu perpecahan. Perbedaan pendapat yang seharusnya bisa menjadi rahmat, kerap kali berubah menjadi sumber konflik. Dari permasalahan kecil hingga yang besar, tak jarang memicu pertikaian, yang bisa melemahkan kekuatan umat Islam itu sendiri. Padahal, di dalam sejarah telah banyak membuktikan bahwa kejayaan Islam lahir dari persatuan yang kokoh, bukan dari perpecahan.
Blokade de fakto di Selat Hormuz oleh Amerika serikat meningkatkan ketergantungan global dan menekan Iran secara ekonomi. Di tengah itu, Iran mengklaim kemenangan geopolitik atas Barat. Fenomena ini menunjukan retaknya hegemoni global. Sejak Februari 2026, perang Amerika Serikat Israel dan Iran yang menggegerkan Timur tengah. Dalam waktu singkat perang ini mampu meggoncangkan perekonomian dunia. Apalagi setelah Selat Hormuz ditutup oleh pihak pemerintah Iran. harga minyak pun meroket bahkan di Indoensia harga plastik naik hingga 40 persen. Kekuatan polisi dunia ternyata tidak sehebat yang dibayangkan, terbukti para pemimpin Eropa menunjukkan sikap tegas menolak ajakan Trump untuk bergabung melawan Iran, mereka tidak mau terpancing dengan konflik yang dimotori oleh Amerika Serikat sendiri. Bahkan lebih parahnya lagi rakyat Amerika Serikat sendiri mereka menolak langkah politik presiden Trump yang dinilai otoriter. Aksi protes “No Kings” menggerakan gelombang protes besar-besaran di Amerika Serikat. Ironinya malah negara-negara muslim justru yang memberikan dukungan kepada Amerika Serikat melalui program BOP, diplomasi dan perudingan bahkan menjalin aliansi pangkalan militer dan diplomatik Negara-Negara Teluk. Belum lagi berakhir tragedi genoksida di Palestina dengan banyaknya rakyat yang sekitar 10.000 tahanan tidak bersalah akan terancam di eksekusi walaupun belum tahu apa kesalahan mereka, ditambah belum kunjung usai Israel tetap saja menembaki dan menghancurkan kawasan Gaza meskipun sudah ada BOP yang di tandatangani beberapa negara anggotanya, terbukti tidak berdampak apa-apa.
Perpecahan umat ini adalah permasalahan krusial yang sudah dihadapi umat selama berabad-abad. Perpecahan umat ini muncul bukan tanpa sebab, ada beberapa faktor utama yang melatarbelakanginya. Yang pertama fanatisme xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx yang berlebihan. Ketika seseorang lebih mengedepankan kelompoknya dibandingkan kebenaran, maka yang lahir bukanlah ukhuwah, melainkan pertentangan dan pertikaian. Yang kedua minimnya pemahaman Islam kaffah (menyeluruh). Banyak umat hanya memahami agama secara parsial atau sebagian saja, sehingga mudah untuk diprovokasi oleh isu-isu yang memecah belah persatuan. Berikut yang ketiga adanya pengaruh politik dan kepentingan duniawi. Tidak dapat dipungkiri, sebagian pihak memanfaatkan perbedaan umat untuk kepentingan tertentu. Umat yang seharusnya bersatu dalam akidah, justru terpecah belah Karena kepentingan kekuasaan. Keempat derasnya arus informasi di dunia maya yaitu di media sosial yang sering tanpa filter dan tidak terverifikasi, sehingga memperkeruh suasana dan memperbesar konflik.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka umat Islam lemah, mudah dicerai berai dan kehilangan peran strategisnya dalam peradaban dunia. Padahal Islam adalah agama yang mengajarkan persatuan dan melarang perpecahan.
Persatuan negeri-negeri muslim ditandai juga dengan bersatunya kaum muslimin hal ini akan menjadi sebuah kekuatan besar. Kalau kita perhatikan dari kekuatan militer dinegeri-negeri muslim memiliki terbesar di dunia, seandainya mereka bersatu melawan Amerika Serikat dan Israel maka bisa dipastikan mudah untuk ditumbangkan. Selain itu umat Islam memiliki cadangan minyak, gas bumi yang besar yang bisa menjadi jantung energi dunia. Kalau dilihat sumber daya manusia ada sekitar kurang lebih 2 miliar umat Islam yang tersebar di seluruh dunia, ini menjadi aset mahal penguat umat, namun sayang umat yang besar ini terpecah di bawah 50 negara nasional, dengan sekat nasionalisme.
Umat Islam sekarang belum bangun dari tidur panjangnya saking panjangnya lupa untuk bangun dan bersatu. Kita sejatinya bisa membangun sebuah kesadaran kalau tidak bersatu mustahil kita bisa berlepas dari penjajahan. Umat Islam kuat dan bersatu atas dasar persaman akidah, perasaan dan aturan kita sekarang bukan diikat tapi disekat oleh ikatan nasionalisme, karena batas wilayah kita menjadi kesulitan untuk membantu saudara-saudara kita walaupun satu akidah, contohnya Negara Mesir dan hanya dibatasi tembok dengan Palestina, mereka tidak mampu melawan batas teritorial, padahal kita sebagai umat muslim seperti satu tubuh apabila salah satu anggota tubuh sakit maka yang lain akan ikut merasakan sakit. Sejatinya apabila saudara sesama muslim dizalimi dan teraniaya maka kita pun akan merasa demikian, oleh karena itu solidarits sesama muslim itu perlu karena sama-sama saling merasakan penderitaan atas kezaliman dan penjajahan.
Persatuan umat ini tidak akan bisa terwujud apabila kita masih berada di bawah kekuasaan barat. Dengan segala pengaruhnya yang begitu menglobal. Umat dan negeri Islam haruslah bersatu di bawah satu kepemimpinan dan kekuasaan Islam yang berlaku untuk seluruh kaum muslim. Satu kepemimpinan dengan syariat Islam ini yang akan menjaga kedaulatan negeri-negerinya, memberikan rasa aman dan nyaman kepada rakyatnya, mensejahterakan seluruh umat, membuat peradaban berkualitas dan unggul disetiap masanya dan menghancurkan hegemoni penjajahan. Insya Allah akan terwujud sebentar lagi.