‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎

Ramadhan Telah Usai, Kembali Nyalakan Semangat Perjuangan Meraih Persatuan


author photo

5 Apr 2026 - 16.10 WIB


Oleh: Annisa Nurul (Pemerhati Generasi)

Ramadhan Telah Usai. Seluruh kaum muslim di berbagai penjuru dunia berbahagia merayakan kemenangan. Momen pemurnian diri ini kerap dijadikan sebagai refleksi atas apa yang telah dilakukan beberapa waktu ke belakang. Mengingat kembali pilihan-pilihan hidup yang dijalani, sambil memohon ampun kepada Sang Ilahi. Ya, itulah momen Idul Fitri yang dinanti. Setelah menjalani berbagai aktivitas ibadah di bulan Ramadhan, kita diingatkan tentang satu hal. Bahwa Ramadhan tidak hanya bulan latihan menahan diri dari lapar, dahaga, dan hawa nafsu semata. Tapi juga bulan perjuangan bagi umat Islam.

Ramadhan tahun ini terasa berbeda. Masjidil Aqsha, kiblat pertama umat Islam, resmi ditutup. Tidak ada adzan berkumandang, tidak ada sholat tarawih, tidak ada bacaan Al-Qur'an. Sunyi. Senyap. Akibat penjajahan Zionis yang terus berupaya untuk menjauhkan umat Islam dari jantung hatinya, yaitu Baitul Maqdis. Penduduk Palestina harus menjalankan ibadah Ramadhan beralaskan tanah, dengan pakaian seadanya, dengan hidangan yang terbatas, sambil diiringi dengan dentuman bom dan senapan. Semua dilaluinya dengan ridho dan kepasrahan pada Allah SWT.

Di sisi lain, Amerika dan para sekutunya menyerang beberapa wilayah muslim, seperti Iran dan Lebanon. Menewaskan banyak kaum muslimin dan meluluhlantakan bangunan di dalamnya. Didorong sebuah misi yaitu menjajah wilayah muslim agar bisa menguasai segala sumber daya di dalamnya. Belum lagi kondisi dalam negeri kita, Indonesia tidak luput dari kabar tidak menyenangkan yang berkaitan dengan kesejahteraan rakyat. Kemiskinan masih merajalela, kasus korupsi terus bergulir, sampai kriminalitas pun terus mengantui warga. Sebuah catatan besar bagi negara agar senantiasa mengevaluasi segala fenomena yang terjadi, sehingga bisa terwujud solusi hakiki.

Dengan paparan kondisi yang terjadi, perjuangan umat Islam untuk mengembalikan kehidupan Islam belum tercapai, butuh usaha yang semakin besar untuk meraih kemenangan yang dinanti. Karena sejatinya kita belum benar-benar menang, selama umat Islam masih terpecah dalam berbagai negara, bahkan banyak yang bersekutu dengan negara kafir harbi (negara yang memerangi Islam).

Kesadaran umat Islam untuk memaknai Ramadan sebagai bulan perjuangan belum sampai pada kesadaran ideologi Islam. Perjuangan umat masih dominan bersifat praktis-pragmatis. Umat masih cenderung memperjuangkan solusi instan yang bahkan belum bisa dikatakan solutif, karena belum menuntaskan akar masalah secara keseluruhan. Mayoritas masih berfikir bahwa karut-marut persoalan umat yang terjadi hari ini hanya sekedar ketidakmampuan individu dalam mengelola negara, bukan pada sistem yang bertentangan dengan aturan Allah SWT. Posisi politik umat Islam terus dalam kondisi lemah. Kita masih selalu didominasi oleh paradigma barat yang mempengaruhi pola pikir dan pola sikap kita. Padahal Allah SWT telah memberi predikat sebagai umat terbaik (khoiru ummah) bagi kaum muslimin. Seharusnya kita berbangga diri dengan predikat yang Allah berikan, bukan malah lebih memilih pemikiran, gaya hidup, dan ideologi asing yang justru menjauhkan kita dari aturan Sang Khaliq.

Maka, kaum muslim harus menyadari bahwa apa yang kita rasakan hari ini adalah kondisi tidak ideal. Hidup di bawah naungan sistem yang aturannya bukan berasal dari Allah adalah bentuk kemunduran berfikir dan kemerosotan aqidah. Padahal, Allah bukan hanya pencipta alam semesta, tapi juga satu-satunya yang berhak membuat hukum. Maka, kaum muslim harus memiliki keinginan untuk kembali hidup di bawah naungan hukum syara' dengan menjadikan aturan islam diterapkan dalam kehidupan. Untuk mewujudkan itu semua, butuh upaya mengembalikan kehidupan Islam dengan kebutuhan akan partai politik Islam ideologis yang sahih.

Sebagai kaum muslim yang mempunyai kewajiban berdakwah, prioritas dakwah kita hari ini adalah dengan membangun kesadaran politik ideologi umat dengan Islam kaffah. Umat harus tau bahwa tidak ada solusi lain yang bisa menuntaskan permasalahan dunia hari ini kecuali dengan Islam. Aturan Islam itu menyeluruh, meliputi seluruh aspek kehidupan. Sehingga tidak ada satupun masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan solusi Islam.

Maka penting bagi kita untuk membangun kesadaran akan kebutuhan adanya persatuan hakiki di bawah institusi khilafah yang harus serius diperjuangkan bersama partai politik yang tulus berjuang demi izzul islam wal muslimin, bukan gerakan semu yang justru berjuang di jalan yang menjauhkan umat dari kebangkitan hakiki. 

Ramadhan dan Idul Fitri semestinya jadi starting point bagi kaum muslimin untuk mengonsolidasi dan memobilisasi kekuatan dan kesatuan umat Islam. Agar terwujud kesejahteraan umat dengan penerapan syariat islam secara kaffah.
Bagikan:
KOMENTAR