Kasus viral mencoreng dunia pendidikan Indonesia kembali terjadi. Kasus siswa SMAN 1 Purwakarta yang mengejek guru gegar di sosial media. Sang pelaku mengacungkan jari tengah pada sang guru di dalam kelas tidak bisa diabaikan. Pada video yang beredar, siswa dengan pongahnya tanpa rasa bersalah. Guru kehilangan wibawanya, murid semakin hilang tata krama. Apakah kejadian ini semakin dinormalisasi dan tak membuat efek jera? Ya, benar adanya bahwa pihak sekolah telah menjatuhkan sanksi skorsing selama 19 hari. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menilai hukuman tersebut belum tentu menjadi solusi terbaik dan mengusulkan bentuk hukuman yang lebih mendidik.
Kita sudah lelah dengan siklus yang itu-itu lagi. Setiap ada permasalahan remaja, perilaku pelakunya diampuni, dikembalikan ke orangtua, tetapi tidak ada tindak lanjut yang memadai selain menjadi berita hangat dan perbincangan khalayak. Ironisnya, dari aspek kenegaraan, pemerintah sedang gencar-gencarnya mempromosikan “Profil Pelajar Pancasila” sebagai solusi pembentukan karakter. Apakah promosi dan edukasi ini mampu menciptakan iklim baru di dunia pendidikan dan pengasuhan? Tentu masih terus jadi bahan evaluasi. Jangan sampai ini jadi program basi dan jargon belaka.
Ketika menilik bagaimana Islam menyusun fondasi pendidikan dan tujuannya, maka didapati bahwa Islam menumpas kebobrokan moral langsung ke akar masalah. Selama ini, dunia pendidikan sebatas transfer ilmu dan mengejar nilai-nilai di atas kertas. Islam memiliki fokusnya sendiri yakni pembentukan manusia berkepribadian Islam (syakhshiyah Islamiyyah). Perihal ini didefinisikan sebagai visi manusia agar berpola pikir dan berpola sikap yang sesuai dengan tuntunan rabb-nya. Imam Malik rahimahullah pernah menasihati, “Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.” Karena ilmu tanpa adab hanya akan melahirkan kesombongan.
Penghormatan terhadap guru bukan pilihan apalagi jatah konten, tetapi bagian dari tata krama mendasar hubungan guru-murid. Rasulullah ﷺ mencontohkan penghormatan kepada orang yang lebih tua dalam hal tutur kata dan gestur tubuh. Selain aspek filosofis pendidikan, jangan lupa bahwa anak lebih dulu dididik di rumah mereka oleh kultur orangtua masing-masing. Tidak tertutup kemungkinan, masalah berasal dari rumah yang tidak menjunjung adab dan norma. Rumah adalah madrasah pertama, ibu adalah guru pertama bagi anak, dan ayah bukan hanya kepala tapi terjun langsung mendidik anak-anaknya. Tugas ini tidak untuk digantikan kepada pihak lain, semisal guru di sekolah, tetapi harus dipandang sebagai wujud kolaborasi. Jika sejak kecil anak tidak dibiasakan menghormati, mendengar nasihat dan memahami batas antara bercanda dan penghinaan, maka sekolah akan kesulitan memperbaiki.
Sayangnya, negara kita masih dibalut dalam wadah pekat sekuler-kapitalistik. Negara tidak boleh diam dan hanya melihat-lihat dari jauh. Islam menawarkan solusi yang utuh: perbaikan individu, menguatkan keluarga, dan menghadirkan negara sebagai penjaga moral umat. Semoga tulisan ini menjadi pengingat akan tugas mulia tersebut. Wallahu’alam. [] Oleh : DianF