‎ ‎
‎ ‎

Dari Buku ke Layar: Perpustakaan Montasik Sulap Literasi Jadi Video Edukatif Kreatif


author photo

20 Mei 2026 - 16.42 WIB




Montasik, Aceh Besar — Perpustakaan Kecamatan Montasik kembali membuktikan diri bukan sekadar tempat menyimpan buku. Pada Rabu (20/5/2026), ruang literasi publik itu berubah menjadi pusat kreativitas generasi muda melalui kegiatan Studi Literasi bersama siswa-siswi SMA Negeri 1 Montasik yang menghasilkan sejumlah video edukatif berbasis bahan bacaan perpustakaan.

Kegiatan yang digagas pengelola Perpustakaan Kecamatan Montasik di bawah naungan Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Aceh Besar tersebut dirancang untuk mendorong pelajar tidak hanya membaca, tetapi juga mampu mengolah informasi dan menyampaikannya kembali melalui media digital yang dekat dengan kehidupan generasi muda saat ini.

Berbeda dari kegiatan literasi konvensional yang identik dengan membaca dalam suasana hening, program kali ini mengusung konsep interaktif dan produktif. Para siswa diberi kesempatan memilih buku dari koleksi perpustakaan, mendiskusikan isi bacaan, lalu menerjemahkan pemahaman mereka ke dalam format video edukatif yang siap dipublikasikan kepada masyarakat luas.

Pendekatan tersebut dinilai relevan dengan karakter generasi Z yang tumbuh bersama media sosial dan platform berbagi video. Alih-alih menjauhkan teknologi dari budaya membaca, kegiatan ini justru memanfaatkan teknologi sebagai jembatan memperkuat literasi di kalangan pelajar.

Pengelola Perpustakaan Kecamatan Montasik, Jamalidiana, menegaskan bahwa perpustakaan modern harus mampu bertransformasi menjadi ruang tumbuhnya ide dan kreativitas masyarakat.

“Perpustakaan hari ini tidak boleh berhenti menjadi tempat menyimpan buku. Ia harus menjadi ruang lahirnya gagasan, tempat berdiskusi, sekaligus wadah berkarya. Melalui video edukatif ini, kami ingin menunjukkan bahwa membaca adalah awal dari sebuah karya,” ujarnya.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Salah seorang siswa SMA Negeri 1 Montasik, Cut Lia Merisa, mengaku kegiatan tersebut memberinya pengalaman baru tentang makna membaca di era digital.

“Biasanya kami membaca untuk ujian. Hari ini kami membaca untuk menghasilkan sesuatu yang bisa dilihat dan bermanfaat bagi orang lain. Rasanya jauh lebih menyenangkan,” katanya.
Menurutnya, satu buku ternyata dapat melahirkan banyak ide kreatif yang bisa disampaikan kembali kepada publik melalui media digital.

Dukungan penuh terhadap kegiatan ini juga datang dari pihak sekolah. Kepala SMA Negeri 1 Montasik, Dra. Yusniar, menilai kegiatan literasi kreatif semacam ini mampu membentuk karakter siswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kritis dan inovatif.

“Kami sangat mendukung kegiatan seperti ini karena siswa perlu ruang belajar yang lebih luas dari sekadar kelas. Perpustakaan kecamatan adalah aset daerah yang harus dimanfaatkan secara maksimal oleh generasi muda,” ujarnya.

Kegiatan tersebut menghasilkan sejumlah video edukatif karya siswa yang direncanakan dipublikasikan melalui media sosial resmi perpustakaan, termasuk Instagram @perpustakaan_kec.montasik, sebagai bagian dari kampanye budaya membaca berbasis digital.

Langkah ini dinilai penting di tengah tantangan literasi nasional yang masih memerlukan perhatian serius.
 
Berdasarkan Programme for International Student Assessment (PISA) 2022, Indonesia berada di peringkat 70 dari 81 negara dalam kemampuan literasi membaca siswa. Sementara itu, data Perpustakaan Nasional RI tahun 2023 menunjukkan indeks kegemaran membaca masyarakat Indonesia berada di angka 66,77 dari skala 100.

Di sisi lain, tingginya penggunaan internet di kalangan pelajar membuka peluang besar untuk menghadirkan lebih banyak konten edukatif kreatif yang diproduksi langsung oleh generasi muda.

Kegiatan Studi Literasi di Perpustakaan Kecamatan Montasik menjadi contoh konkret bagaimana perpustakaan daerah mampu bertransformasi menjadi pusat inovasi pendidikan berbasis komunitas. 

Kolaborasi antara perpustakaan, sekolah, dan siswa membuktikan bahwa budaya membaca masih dapat tumbuh kuat ketika dikemas secara relevan dengan perkembangan zaman.

Menutup kegiatan, Jamalidiana berharap program serupa dapat terus berkembang menjadi gerakan literasi bersama di Montasik.

“Kami ingin ini bukan sekadar agenda tahunan, tetapi gerakan bersama. Perpustakaan ini milik masyarakat dan sudah waktunya kita hidupkan bersama-sama,” pungkasnya.

Video-video edukatif yang lahir dari tangan para pelajar itu kini menjadi simbol baru bahwa literasi tidak lagi berhenti di halaman buku, melainkan bergerak aktif menuju ruang digital yang lebih luas dan berdampak.(**)
Bagikan:
KOMENTAR