‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎

Gaza Berdarah, Umat Tanpa Perisai


author photo

12 Mei 2026 - 07.39 WIB


Oleh: Dewi Agustiani 

Mei 2026 Gaza masih gelap, listrik mati, rumah sakit jadi kuburan massal, anak - anak mati pelan karena kelaparan. Blokade darat, laut, udara masih mengunci 23 juta jiwa. Bom jatuh tiap malam, disiarkan live, ditonton 2 miliar umat Islam. 4 juta tentara aktif, anggaran militer triliunan dolar, tapi satu kota kecil di pinggir Mediteranian itu tak kunjung selamat. Pertanyaannya bukan "kenapa Israel tega", karena penjajah memang seperti itu. Pertanyaan sebenarnya adalah "Di mana Perisai Umat?"

Rasulullah bersabda yang artinya "Imam adalah Perisai tempat orang berperang dibelakangnya dan berlindung kepadanya (HR.Bukhari Muslim). Perisai itu bukan kiasan. Dulu saat Khilafah masih ada, Palestina aman. Tahun 1901 Sultan Abdul Hamid ll menolak 150 juta poundsterling dari Theodor Herzl untuk beli tanah Palestina. Katanya, "Tanah itu bukan milikku, tapi milik umat." Setelah Perisai itu runtuh 1924, hanya 24 tahun kemudian Israel lahir. Sejak itu, 100 tahun lebih bahkan sampai sekarang Perisai = 100 tahun lebih Palestina berdarah. Hari ini kita disuruh cukup dengan do'a, donasi, boikot.

Faktanya, emua obat luka, bukan tameng peluru. PBB lumpuh karena veto AS, OKI sibuk produksi kecaman yang berakhir di tong sampah diplomatik. Bantuan 100 truk pun harus izin dulu ke penjajah. Blokade adalah senjata perang. Dan senjata hanya bisa dilawan senjata. Logikanya sederhana, jika rumah dirampok kemudian korban perampokan diberikan bantuan sambil berdo'a tapi penjahatnya tetap dibiarkan memegang pisau. Bisakah perampokan berhenti?

Israel berani karena dia punya negara, tentara dan bekingan politik. Gaza lemah karena dia sendirian. Disinilah urgensi "Perisai" itu. Perisai bukan ormas, bukan relawan, tapi kepemimpinan politik global yang menyatukan potensi 57 negeri muslim. Ini realistis NATO bisa kompak kirim senjata ke Ukraina dalam 48 jam. Uni Eropa bisa embargo Rusia sepekan. Kenapa 2 miliar umat yang kiblat pertamanya diinjak tidak bisa kompak punya satu komando?Jawabannya, karena kita kehilangan Perisai. Kita punya jumlah, tapi tercerai - berai jadi Nation - State yang takut diamuk Amerika. Gaza tidak butuh air mata kita lagi. Langit Gaza sudah banjir air mata, 76 tahun Gaza butuh Perisai. Dan menegakkan Perisai itu hukumnya wajib, sama wajibnya dengan sholat dan puasa, karena tanpanya darah umat halal ditumpahkan.

Pelanggaran hukum laut Internasional adalah bukti nyata bahwa entitas zionis tidak mengenal batas dalam melanggengkan blokade atas Gaza. Tidak ada satupun negeri - negeri Muslim yang mengirimkan angkatan lautnya untuk melindungi kapal - kapal tersebut. Ini membuktikan bahwa Sistem negara - bangsa (nation - state) yang ada hari ini tidak dirancang untuk melindungi umat Islam, tetapi menjaga eksistensi zionis. Akar masalahnya adalah tidak adanya negara - negara yang berdiri atas landasan aqidah Islam, sehingga negeri - negeri Muslim termasuk Palestina menjadi sasaran penjajah Kapitalis - Barat.

Gaza adalah bagian dari tanah kaum Muslimin yang wajib dilindungi. Membiarkan blokade ini berlanjut tanpa tindakan nyata adalah kemungkaran yang wajib diubah dengan kemampuan tertinggi yang dimiliki umat. Daulah Islam adalah satu - satunya Institusi yang secara syar'i memiliki kewenangan dan kewajiban untuk melindungi jiwa - jiwa kaum Muslimin yang ditindas oleh kekuatan zalim dengan jihad fii sabilillah. Perjuangan mewujudkan Daulah Islam adalah kewajiban yang harus ditempuh umat, membangun kepemimpinan politik Islam yang bertumpu pada Ideologi yang shahih.
Bagikan:
KOMENTAR