ACEH BESAR — Di tengah redupnya aktivitas perpustakaan kecamatan yang nyaris kehilangan denyut, langkah kecil namun sarat makna lahir dari seorang putra daerah. Julian, S.Pd., Gr., guru sekaligus penulis muda asal Montasik, menyerahkan enam buku karya trilingualnya kepada Perpustakaan Kecamatan Montasik dan TBM Pondok Baca Al-Munawwarah, Rabu (20/5/2026), sebagai upaya nyata membangkitkan kembali budaya literasi lokal.
Penyerahan buku berlangsung di Perpustakaan Kecamatan Montasik dan turut dihadiri Camat Montasik Afrizal, S.E., Pengelola Perpustakaan Jamalidiana, serta Nazirah. Acara diawali dengan diskusi literasi bersama penulis, menjadikan kegiatan tersebut lebih dari sekadar seremoni serah terima buku.
Enam buku yang disumbangkan terdiri atas empat eksemplar Meututo Dalam 3 Bahasa: Aceh–Indonesia–Inggris Real-Life Conversations dan dua eksemplar Kamus Pocket 3 Bahasa: Aceh–Inggris–Indonesia. Kedua karya itu disusun Julian bersama dosennya saat menempuh pendidikan di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG), Banda Aceh.
Buku Meututo sendiri bukan karya biasa. Pada 2022, buku percakapan trilingual tersebut mengantarkan Julian meraih penghargaan Pemuda Berprestasi Aceh 2022. Karya itu juga membawanya menjadi narasumber di sejumlah televisi dan radio lokal — capaian langka bagi seorang guru muda dari kecamatan kecil di Aceh Besar.
Sementara Kamus Pocket 3 Bahasa lahir melalui kolaborasi dengan program AMANAH (Aneuk Muda Aceh Unggul Hebat) di bawah naungan Badan Intelijen Negara Republik Indonesia (BIN RI), memperlihatkan bahwa karya tersebut bukan sekadar produk akademik, melainkan bagian dari penguatan kualitas sumber daya manusia daerah.
“Sebagai putra asli Montasik, ini menjadi kehormatan besar bagi saya. Buku-buku ini saya dedikasikan untuk masyarakat Montasik agar dapat memperkaya literasi lokal dan memotivasi generasi muda untuk terus berkarya,” ujar Julian.
Momentum penyerahan buku itu hadir di tengah kondisi perpustakaan kecamatan yang menghadapi tekanan serius: koleksi stagnan, kunjungan menurun, dan minim aktivitas literasi. Camat Montasik, Afrizal, mengakui perpustakaan di wilayahnya nyaris kehilangan fungsi sosialnya.
“Kami berharap perpustakaan ini kembali hidup dan digerakkan oleh generasi muda. Semua unsur harus terlibat, mulai dari pemerintah, sekolah, tokoh masyarakat hingga komunitas,” kata Afrizal.
Kondisi tersebut sejalan dengan tantangan literasi nasional. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menempatkan Indonesia di peringkat 70 dari 81 negara dalam kemampuan membaca siswa. Sementara Indeks Kegemaran Membaca Nasional 2023 yang dirilis Perpustakaan Nasional RI berada di angka 66,77 dari skala 100.
Di tengah situasi itu, keberadaan TBM Pondok Baca Al-Munawwarah menjadi elemen penting karena dinilai lebih dekat dengan masyarakat dan lebih adaptif dalam menjalankan program literasi berbasis kebutuhan lokal.
Jamalidiana, selaku Pengelola Perpustakaan Kecamatan Montasik sekaligus Direktur TBM Pondok Baca Al-Munawwarah, menyebut buku karya Julian sebagai aset literasi yang bernilai tinggi bagi daerah.
“Kehadiran buku trilingual seperti ini sangat langka, terlebih merupakan karya anak daerah sendiri. Ini membuktikan putra-putri Montasik mampu memberi kontribusi nyata bagi kemajuan daerah,” ujarnya.
Lebih jauh, karya Julian juga memiliki dimensi pelestarian budaya. Di tengah kuatnya dominasi bahasa nasional dan asing, bahasa Aceh menghadapi tantangan serius dalam regenerasi penutur muda. Buku Meututo dan Kamus Pocket 3 Bahasa bukan hanya sarana belajar bahasa, tetapi juga menjadi arsip hidup kosakata dan ekspresi budaya Aceh untuk generasi mendatang.
Julian juga diketahui memiliki karya ketiga berupa buku antologi hasil kolaborasi dengan Dinas Perpustakaan Kabupaten Aceh Besar. Buku tersebut belum sempat diserahkan karena kendala distribusi penerbit dan direncanakan menyusul pada kesempatan berikutnya.
Di tengah minimnya perhatian terhadap literasi akar rumput, langkah seorang guru muda dari Montasik itu menjadi pengingat penting: perubahan besar kadang lahir dari tindakan sederhana — satu buku, satu karya, dan satu kepedulian untuk membangun kampung halaman sendiri.(**)