(Founder Ibunda Peradaban)
Setiap tanggal 2 Mei, bangsa ini rutin merayakan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Seragam-seragam rapi berbaris, pidato tentang kemajuan digemakan, dan jargon-jargon transformasi pendidikan dipamerkan. Namun, di balik seremonial tersebut, realitas pendidikan kita justru kian buram. Alih-alih menjadi kawah candradimuka bagi generasi unggul, dunia pendidikan kita hari ini justru berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.
Sebagaimana yang diberitakan dalam laman Kompas.com, 21/04/2026, terjadinya kasus penganiayaan terhadap seorang siswa SMA Negeri 5 Bandung, Muhammad Fahdly Arjasubrata (17), di kawasan Cihampelas, Kota Bandung, pada 13 Maret 2026. Pelaku pengeroyokan berjumlah enam orang dan semuanya berstatus pelajar dari sekolah berbeda. Peristiwa ini menjadi potret nyata bagaimana kekerasan telah merambah lingkungan pelajar
Selain itu ada penyiraman air keras dialami oleh dua pelajar SMA di Parungpanjang, Bogor, Jawa Barat (Jabar) saat pulang sekolah. Polisi bergerak menyelidiki kasus penyiraman air keras tersebut. Peristiwa itu terjadi pada Senin (20/4) malam. Polisi telah menerima laporan kejadian itu pada Selasa (21/4) sore. Hingga saat ini, petugas masih melakukan penyelidikan dan anggotanya telah dikerahkan. (news.detik.com).
Fakta ini menunjukkan luka yang sangat mendalam. Ruang aman di sekolah kian semu seiring meningkatnya kasus kekerasan yang melibatkan pelajar, Mulai berita tentang pelajar yang tewas dikeroyok, penganiayaan sesama siswa, hingga penyiraman air keras menjadi saksi bisu betapa nyawa dan kehormatan kian murah di lingkungan pendidikan. Tentu ini menunjukkan bahwasanya pendidikan kita sedang tidak baik-baik saja.
Kondisi ini seharusnya menjadi alarm keras bagi seluruh pemangku kepentingan. Jika kita bedah lebih dalam, karut-marut ini merupakan buah dari gagalnya implementasi peta jalan pendidikan yang ada. Sistem pendidikan kita saat ini cenderung berorientasi pada nilai-nilai sekuler, liberal, dan pragmatis.
Hasilnya adalah output pelajar yang mengalami krisis kepribadian. Mereka didorong untuk sukses secara materi (kapitalistik), namun kering akan nilai spiritual dan adab. Sistem ini melahirkan individu yang ingin sukses dengan cara instan tanpa peduli halal-haram atau benar-salah. Kebebasan tanpa batas yang ditawarkan paham liberalisme membuat nilai-nilai agama kian terkikis.
Di sisi lain, penegakan hukum terhadap pelaku kriminalitas di bawah umur cenderung longgar dengan dalih "kenakalan remaja". Hal ini justru menciptakan celah bagi berulangnya kejahatan serupa. Tanpa pendidikan nilai agama yang kuat dan sanksi yang tegas, ruang pendidikan akan terus menjadi inkubator bagi tindak maksiat dan kriminalitas.
Adapun dalam pandangan Islam, pendidikan adalah aspek mendasar yang wajib dijamin penuh oleh negara, baik dari segi akses maupun kualitas kurikulumnya. Islam menawarkan solusi fundamental untuk mengatasi keburaman ini.
Sistem pendidikan Islam berpijak pada akidah. Tujuannya bukan sekadar mencetak tenaga kerja, melainkan membentuk Insan Kamil—manusia yang cerdas secara intelektual sekaligus bertakwa. Ketaatan kepada Allah menjadi rem otomatis bagi pelajar untuk tidak melakukan tindak kekerasan ataupun penganiayaan.
Hal utama pendidikan dalam Islam ialah memfokuskan pendidikan untuk pembentukan kepribadian Islam, di mana terdapat keselarasan antara pola pikir (aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah). Pelajar diajarkan bahwa ilmu adalah amanah yang harus dibarengi dengan adab dan akhlak mulia.
Jadi pendidikan tidak hanya dibebankan pada sekolah, akan tetapi harus ada sinergi antara keteladanan dalam keluarga, kontrol sosial di lingkungan masyarakat, dan penerapan sistem pendidikan formal oleh negara yang berbasis syariat.
Islam juga mengenal sistem sanksi (uqubat) yang bersifat memberikan efek jera dan sanksi yang tegas bagi pelaku kriminalitas, tanpa mengabaikan aspek pembinaan, akan menjaga kewibawaan institusi pendidikan dan menjamin keamanan warga negara.
Maka, sudah saatnya kita mengevaluasi total arah pendidikan bangsa dan kembali pada aturan dari sang pencipta untuk mengatasi berbagai permasalahan yang menimpa generasi saat ini, hanya sistem Islam lah yang mampu membentuk individu yang berakhlak dan bertaqwa.
Wallahu a'lam bishawab.