‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎

Tragedi Bekasi Timur: Ketika Negara Gagal Menjaga Nyawa Rakyat


author photo

2 Mei 2026 - 15.09 WIB



Oleh Nurul Khafid, S.Pd.

Kecelakaan kereta api di kawasan Bekasi Timur seharusnya tidak lagi dianggap sebagai “insiden biasa”. Setiap kali tragedi serupa terjadi, publik selalu disuguhi narasi yang sama: evaluasi, investigasi, dan janji perbaikan. Namun realitasnya, kecelakaan terus berulang. Ini bukan lagi soal kelalaian sesaat, melainkan indikasi kegagalan sistemik dalam menjamin keselamatan publik.
Sejumlah laporan dari media seperti Kompas dan Detik berulang kali menyoroti persoalan klasik: perlintasan tanpa pengamanan optimal, sistem sinyal yang belum sepenuhnya modern, hingga lemahnya pengawasan di titik rawan. Artinya, akar masalahnya sudah lama diketahui. Yang jadi pertanyaan: mengapa tidak pernah benar-benar diselesaikan?
Yang lebih problematik, respons sebagian pejabat justru terdengar jauh dari substansi. Alih-alih membahas perbaikan sistem secara serius, publik justru disuguhi pernyataan yang cenderung 'nyeleneh' dari sekelas pejabat negeri seperti mengganti posisi gerbong wanita yang sebelumnya di ujung menjadi di tengah seolah jika gerbong ujung diisi laki-laki maka korban jiwa bisa diminimalisir. Dalam sistem transportasi modern, keselamatan adalah hasil dari desain sistem, bukan sekadar perilaku pengguna.
Dalam perspektif Islam, hal ini menyentuh prinsip fundamental yaitu menjaga jiwa manusia (hifzh an-nafs). Nyawa bukan angka statistik, dan tidak boleh dipertaruhkan karena kelalaian negara. Islam memandang bahwa setiap potensi bahaya yang bisa dicegah, wajib dicegah. Ketika resiko sudah diketahui tapi tidak diantisipasi secara serius, maka itu bukan sekadar kelalaian melainkan bentuk pengabaian terhadap amanah.
Dulu, Khalifah Umar bin Khattab pernah menyatakan rasa takutnya yang mendalam jika terjadi kelalaian dalam memimpin, meskipun yang celaka hanyalah seekor hewan. Salah satu kutipannya yang terkenal adalah : "Seandainya ada seekor keledai terperosok di Irak, aku khawatir Allah akan menuntutku". Kisah ini menegaskan bahwa seorang pemimpin muslim seharusnya menyadari bahwa setiap detail amanah kepemimpinan akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT di akhirat.
Konsep negara dalam Islam menempatkan penguasa sebagai ra’in (pengurus rakyat), bukan sekadar pembuat kebijakan di atas kertas. Artinya, negara wajib memastikan sistem berjalan aman hingga ke level teknis, termasuk teknologi sinyal yang presisi, perlintasan tanpa celah, standar operasional yang ketat, serta pengawasan yang konsisten. Tidak ada ruang untuk kompromi ketika yang dipertaruhkan adalah nyawa manusia. Negara tidak boleh hanya hadir setelah tragedi terjadi, tetapi harus menghilangkan sebab-sebab tragedi itu sejak awal.
Tragedi Bekasi Timur adalah cermin. Bukan hanya tentang kecelakaan, tetapi tentang bagaimana negara menjalankan perannya. Jika nyawa rakyat masih bisa hilang karena masalah yang sebenarnya bisa dicegah, maka yang perlu dievaluasi bukan hanya teknis di lapangan, tetapi juga standar berpikir negara dalam mengelola keselamatan publik. Dalam kacamata Islam, ini bukan sekadar kegagalan kebijakan, tapi merupakan kegagalan dalam menjaga amanah yang sangat besar yaitu melindungi jiwa manusia. Wallahu'alam bis shawab.
Bagikan:
KOMENTAR