‎ ‎
‎ ‎

Post-Truth dan Krisis Rujukan Umat


author photo

4 Jun 2026 - 11.14 WIB




Oleh : Eva Herlina S.T., M.T

"Di era post-truth saat ini, menjadi tokoh agama tidaklah mudah." Demikian antara lain pernyataan Menteri Agama Nasaruddin Umar yang belakangan ramai diberitakan. Menurut beliau, masyarakat saat ini tidak lagi otomatis menerima pandangan tokoh agama sebagaimana masa lalu. Opini publik, media sosial, dan berbagai pengaruh lain sering kali lebih dominan dalam membentuk cara pandang masyarakat. Karena itu, menurutnya, para intelektual keagamaan perlu memiliki kemampuan lebih agar tetap relevan di tengah lingkungan yang semakin rasional dan liberal.

Pada saat yang hampir bersamaan, ruang digital Indonesia juga diramaikan oleh viralnya lagu MBG (Mas Bahlil Ganteng). Menariknya, lagu yang awalnya dipahami banyak orang sebagai satire atau sindiran terhadap figur publik tersebut justru berkembang menjadi hiburan populer yang diputar berulang kali di berbagai platform media sosial. Bahkan, sebagaimana dianalisis sejumlah pengamat komunikasi, viralitas itu berpotensi berubah menjadi instrumen personal branding bagi pihak yang semula menjadi sasaran sindiran.

Dua peristiwa ini memperlihatkan satu fenomena yang sama: dalam ekosistem digital modern, makna sebuah pesan tidak selalu ditentukan oleh maksud pembuatnya. Yang lebih menentukan sering kali adalah bagaimana pesan itu diproduksi ulang, disebarkan, dan dikonsumsi oleh publik. Kritik dapat berubah menjadi hiburan, sindiran dapat berubah menjadi promosi, dan opini dapat diterima sebagai kebenaran hanya karena terus diulang dan menjadi viral.

Fenomena inilah yang oleh banyak kalangan disebut sebagai era post-truth, yaitu kondisi ketika emosi, persepsi, dan opini publik memiliki pengaruh yang lebih besar daripada fakta objektif dalam membentuk keyakinan masyarakat.

Ketika Viralitas Menjadi Ukuran

Perkembangan teknologi informasi telah mengubah cara manusia memperoleh dan mengonsumsi informasi. Jika dahulu masyarakat bergantung pada institusi tertentu sebagai sumber informasi, kini setiap orang dapat menjadi produsen sekaligus penyebar informasi. Media sosial membuka ruang yang sangat luas bagi pertukaran gagasan, tetapi pada saat yang sama juga menghadirkan tantangan baru.

Dalam ruang digital, algoritma tidak bekerja berdasarkan benar atau salah. Algoritma bekerja berdasarkan perhatian. Semakin banyak sebuah konten ditonton, disukai, dibagikan, dan dikomentari, semakin besar peluangnya untuk disebarkan kepada lebih banyak pengguna. Akibatnya, informasi yang paling luas menjangkau publik tidak selalu informasi yang paling akurat, melainkan yang paling mampu menarik perhatian dan memicu keterlibatan emosional.

Kondisi ini membuat batas antara fakta, opini, hiburan, dan propaganda semakin kabur. Sesuatu dapat dipercaya bukan karena validitasnya, tetapi karena sering muncul di hadapan publik. Di sinilah kita menyaksikan bagaimana viralitas perlahan menggantikan otoritas sebagai sumber legitimasi sosial.

Tidak mengherankan jika pada akhirnya banyak orang lebih mengenal isu yang sedang tren dibandingkan fakta yang sesungguhnya. Bahkan dalam banyak kasus, klarifikasi sering kali kalah cepat dibandingkan penyebaran informasi yang belum tentu benar.

Lebih dari Sekadar Masalah Komunikasi

Dalam situasi seperti ini, muncul pandangan bahwa tantangan utama tokoh agama adalah kemampuan komunikasi. Pesan agama dianggap harus dikemas lebih menarik, lebih adaptif, dan lebih sesuai dengan karakter generasi digital agar tetap mendapat perhatian publik.

Tentu kemampuan komunikasi adalah sesuatu yang penting. Dakwah yang baik memang membutuhkan bahasa yang dapat dipahami masyarakat. Namun, pertanyaannya, apakah persoalan yang dihadapi umat hari ini benar-benar hanya persoalan komunikasi?

Jika masalahnya hanya soal cara menyampaikan pesan, maka cukup dengan memperbaiki teknik komunikasi, persoalan seharusnya selesai. 

Faktanya tidak demikian. Di tengah menjamurnya kajian, ceramah, podcast, dan konten keislaman, berbagai problem sosial justru tetap berlangsung. Ini menunjukkan bahwa persoalannya lebih dalam daripada sekadar metode penyampaian.

Cara berpikir masyarakat tidak hanya dibentuk oleh ceramah atau kajian keagamaan. Ia dibentuk setiap hari oleh sistem pendidikan, media massa, media sosial, budaya hiburan, sistem ekonomi, hingga kebijakan negara. Semua instrumen tersebut bekerja secara terus-menerus membentuk cara manusia memandang kehidupan, menentukan prioritas, dan menilai benar atau salah.

Karena itu, persoalan utama yang dihadapi umat sesungguhnya bukan sekadar bagaimana menyampaikan kebenaran, tetapi apa yang dijadikan standar kebenaran dalam kehidupan mereka.

Krisis Rujukan

Di sinilah letak persoalan yang lebih mendasar. Era post-truth pada hakikatnya adalah krisis rujukan. Ketika masyarakat kehilangan standar yang pasti dalam menentukan benar dan salah, maka opini yang paling kuat, paling emosional, atau paling populer akan lebih mudah menggantikan posisi kebenaran.

Al-Qur'an telah lama memperingatkan bahaya mengikuti prasangka dan opini tanpa dasar yang benar. Allah SWT berfirman:
"Dan jika kamu mengikuti kebanyakan manusia di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Mereka tidak mengikuti kecuali hanya prasangka saja." (QS Al-An'am [6]: 116).

Ayat ini memberikan pelajaran penting bahwa kebenaran tidak selalu berada pada apa yang paling banyak diikuti manusia. Mayoritas bukan ukuran mutlak bagi kebenaran. Dalam sejarah, tidak sedikit kebenaran justru diperjuangkan oleh kelompok yang sedikit, sementara kebatilan didukung oleh banyak orang.

Al-Qur'an juga mengajarkan prinsip tabayyun:
"Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian seorang fasik membawa berita, maka telitilah terlebih dahulu." (QS Al-Hujurat [49]: 6).

Prinsip ini menjadi semakin relevan di tengah derasnya arus informasi digital saat ini. Islam tidak mengajarkan umatnya menerima setiap informasi secara mentah. 

Sebaliknya, Islam mengajarkan verifikasi, kehati-hatian, dan tanggung jawab dalam menyikapi berita.

Dengan demikian, solusi atas fenomena post-truth tidak cukup hanya dengan meningkatkan literasi digital atau kemampuan komunikasi, meskipun keduanya tetap penting. Yang lebih mendasar adalah mengembalikan kesadaran bahwa umat memerlukan standar kebenaran yang tetap dan tidak berubah oleh arus opini.

Mengembalikan Al-Qur'an Sebagai Pemimpin

Bagi kaum Muslim, standar tersebut tidak lain adalah Al-Qur'an dan As-Sunnah. Keduanya bukan sekadar sumber inspirasi moral, tetapi petunjuk hidup yang menjadi rujukan dalam menentukan benar dan salah.

Persoalan umat hari ini bukan karena kekurangan informasi. Justru informasi tersedia dalam jumlah yang melimpah. Persoalannya adalah kehilangan orientasi dalam memilah informasi dan menentukan arah kehidupan. Ketika manusia tidak lagi memiliki kompas yang jelas, mereka akan mudah terbawa oleh arus persepsi, sentimen, dan kepentingan yang silih berganti.

Karena itu, dakwah Islam tidak boleh berhenti pada upaya memperbaiki perilaku individu semata. Dakwah harus terus mengajak umat untuk kembali menjadikan Islam sebagai pedoman hidup yang menyeluruh. Bukan hanya dalam urusan ibadah pribadi, tetapi juga dalam cara memandang pendidikan, ekonomi, hukum, media, dan kehidupan sosial secara keseluruhan.

Di tengah dunia yang semakin bising oleh opini dan viralitas, seruan untuk kembali kepada petunjuk Allah SWT harus semakin digencarkan. Sebab hanya dengan menjadikan wahyu sebagai rujukan utama, umat memiliki standar yang kokoh untuk menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan arah.

Ketika Al-Qur'an kembali memimpin cara berpikir, cara merasa, dan cara mengatur kehidupan, maka umat tidak lagi dituntun oleh gelombang opini yang datang dan pergi. Mereka akan memiliki pijakan yang jelas menuju kehidupan yang diridhai Allah SWT.

Wallāhu a'lam bi ash-shawāb.
Bagikan:
KOMENTAR