Islam Melahirkan Generasi Berkualitas dan Berkarakter Tangguh


author photo

13 Jul 2026 - 08.07 WIB




Penulis: Samsinah, Amd.keb (Muslimah Peduli Umat)

Fenomena fatherless (hilangnya peran ayah) kini menjadi tantangan serius bagi tumbuh kembang mental dan emosional generasi muda saat ini. Padahal ayah bukan sekedar pencari nafkah tapi juga pondasi jiwa bagi anak-anak. Oleh karena itu, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) memperkuat aksi dalam Program Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), guna memupuk kepercayaan diri pada anak, sehingga bisa tumbuh menjadi generasi yang berkualitas. 

Kepala Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Kaltim Sunarto di Samarinda, mengatakan bahwa program GATI terus digencarkan untuk menekan fenomena fatherless atau anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah akibat sibuk kerja maupun sebab lain. Berbagai aksi yang diperkuat dengan menggandeng instansi dan pihak terkait baik di tingkat provinsi hingga kabupaten/kota, seperti pendampingan dan penguatan kapasitas, memperkuat peran tim pendamping keluarga yang berasal dari unsur bidan, kader KB, dan PKK. 

Kemudian memperkuat jejaring melalui kombinasi Program GATI dengan Program Gerakan Ayah Asuh Cegah Stunting (Genting) dan lainnya, yang melibatkan dunia usaha, kampanye, dan pemahaman tentang pentingnya kasih sayang ayah. Sampai sejauh ini Program Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) merupakan langkah yang baik untuk mendorong keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak. Namun, benarkah program GATI ini mampu menyelesaikan persoalan generasi hingga ke akar-akarnya?

Banyaknya problematika yang menimpa generasi hari ini seperti meningkatnya kasus kekerasan terhadap anak, perundungan, penyalahgunaan narkoba, kenakalan remaja, gangguan kesehatan mental, persaingan di dunia kerja hingga ketergantungan teknologi dan banyak lagi permasalahan lainnya.

Namun sejatinya program GATI ini masih belum mampu menyelesaikan persoalan generasi secara menyeluruh karena program ini lebih berfokus pada perubahan perilaku individu dan keluarga, sementara akar persoalan yang bersifat sistemik belum tersentuh.

Belum tuntasnya problem anak dan generasi di negeri ini adalah buah dari penerapan sistem hidup kapitalisme sekuler yang terus dipaksakan di negeri ini, kegagalan demi kegagalan yang ada tidak serta merta dikoreksi, kemudian sistemnya ditinggalkan, tetapi justru semakin kuat mencengkram tiang kehidupan yang diterapkan di negeri ini. 

Bahkan berbagai problem hidup generasi dimana negara mencoba untuk menyelesaikannya, namun justru mengantarkan mereka pada gerbang-gerbang kehancuran, mereka seringkali terperosok makin dalam ke kubangan sistem kufur ini.

Fenomena fatherless yang kian marak, berdampak pada banyaknya anak-anak yang tumbuh dengan karakter yang rusak dan merusak. Dikarenakan Sistem ini menempatkan aspek ekonomi sebagai prioritas sehingga banyak orang tua, khususnya ayah, menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup. 

Akibatnya, waktu bersama keluarga semakin berkurang dan fungsi ayah sebagai pemimpin, pendidik, pelindung, sekaligus teladan bagi anak tidak dapat dijalankan secara optimal. Oleh karena itu, pembentukan generasi berkualitas membutuhkan supporting sistem yang kuat dan berkualitas termasuk ayah yang berkualitas.

Namun sungguh sangat miris hari ini, ayah juga menjadi korban sistem yang diterapkan sehingga ayah menjadi tidak berkualitas dalam mengiringi perjalanan hidup anak. Dalam kondisi seperti ini, fenomena fatherless tidak lagi dapat dipandang sebagai persoalan individu, tetapi juga sebagai persoalan struktural yang dipengaruhi oleh sistem kehidupan yang berlaku. 

Dampaknya tidak hanya terlihat pada perkembangan emosional anak, tetapi juga pada pembentukan karakter, kepercayaan diri, kemampuan bersosialisasi, hingga prestasi belajar. Sistem kapitalis sekuler yang diterapkan hari ini semakin menunjukkan kebobrokannya , mengubah mindset seorang ayah yang seharusnya memimpin, mendidik dan melindungi keluarganya, bergeser ke pemahaman, bahwa tugas dan kewajiban seorang ayah hanya sekedar untuk mencari nafkah, untuk kebutuhan hidup rumah tangga.

Lebih mirisnya lagi, tekanan ekonomi juga mendorong banyak ibu untuk bekerja di luar rumah sehingga waktu mendampingi anak semakin terbatas. Kondisi ini melahirkan fenomena yang tidak hanya fatherless, tetapi juga motherless, yaitu berkurangnya kehadiran kedua orang tua dalam proses pengasuhan karena tuntutan ekonomi.

Oleh karena itu, upaya mewujudkan generasi yang berkualitas tidak cukup hanya melalui program yang mendorong peran ayah dalam keluarga. Dibutuhkan supporting system yang kuat dan berkelanjutan, mulai dari sistem ekonomi yang berpihak pada kesejahteraan keluarga, sistem pendidikan yang membentuk karakter, lingkungan sosial yang kondusif, hingga kebijakan negara yang mampu mendukung orang tua menjalankan perannya secara optimal.

Dengan demikian, ayah dan ibu dapat menjalankan fungsi pengasuhan secara maksimal sehingga lahir generasi yang tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga kuat secara mental, emosional, dan moral.

Islam memandang permasalahan generasi merupakan persoalan yang sangat penting. Islam adalah mabda atau pandangan hidup, berperan penuh dalam rangka melejitkan peran para ayah, Islam menempatkan ayah sebagai pemimpin keluarga yang bertanggung jawab memenuhi kebutuhan lahir dan batin anggota keluarganya, sekaligus menjadi pendidik dan pelindung. Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim [66]: 6)

Allah Swt. juga berfirman, “Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An-Nisa [4]: 34). Ayat ini menunjukkan bahwa laki-laki memiliki peran sebagai pemimpin keluarga yang bertanggung jawab dalam menafkahi, melindungi, dan mengarahkan keluarganya.

Islam juga mengajarkan pentingnya keluarga yang menjadi penyejuk hati, sebagaimana firman Allah, "Dan orang-orang yang berkata: Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata hati, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan [25]: 74)

Ayat ini menunjukkan bahwa keluarga ideal dalam Islam adalah keluarga yang melahirkan keturunan yang saleh, menyejukkan hati, dan menjadi teladan kebaikan. Dalam pandangan Islam, negara juga memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan keluarga melalui kebijakan yang mendukung pelaksanaan aturan Islam secara menyeluruh.

Dengan demikian, solusi yang paling tuntas terhadap fenomena fatherless dan berbagai persoalan generasi adalah penerapan Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Sebab dalam Islam, pengaturan keluarga, ekonomi, pendidikan, dan peran negara tidak berjalan parsial, tetapi saling terhubung dalam satu sistem yang menjaga fitrah manusia dan mengarahkan kehidupan pada terbentuknya generasi yang kuat dan berakhlak.

Ketika aturan Islam diterapkan secara menyeluruh, peran ayah sebagai pemimpin keluarga tidak hanya dikuatkan secara moral, tetapi juga didukung oleh sistem yang memastikan ia mampu menjalankan tanggung jawabnya tanpa tekanan sistem yang melemahkan fungsi keluarga.

Negara dalam Islam juga berfungsi sebagai pelindung dan pengarah yang memastikan setiap kebijakan berpihak pada terbentuknya keluarga yang sehat dan generasi yang berkualitas. Oleh sebab itu, selama akar persoalan masih bersumber dari sistem yang tidak sesuai dengan tuntunan Islam, maka problem generasi akan terus berulang.

Sebaliknya, dengan penerapan Islam secara menyeluruh dalam bingkai Khilafah, maka solusi tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi menyentuh akar masalah secara mendasar, sehingga melahirkan generasi yang lebih kuat, beriman, dan berkarakter. Wallahu a'lam bishsawab
Bagikan:
KOMENTAR